MY COMMENT ON CURRICULUM 2013

COMMENT ON CURRICULUM 2013

Beranjak dari alasan kenapa perlu pengembangan kurikulum 2013 pertama  adalah tantangan masa depan seperti : Globalisasi: WTO, ASEAN Community, dst, masalah lingkungan hidup, kebangkitan industri kreatif dan budaya, mutu investasi dan transformasi pada sektor pendidikan, kedua, kompetensi masa depan  seperti kemampuan berkomunikasi, kemampuan berpikir jernih dan kritis, kemampuan menjadi warga negara yang bertanggungjawab, kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda, kemampuan hidup dalam masyarakat yang mengglobal, dst maka pengembangan kurikulum sangat urgent diimplementasikan. Namun alasan-alasan tersebut diatas masih merupakan statement yang abstract bagi kami kaum guru yang perposisi sebagai praktisi lapangan yang mana lebih sesuai menjadi butir-butir program pengembangan yang dirancang oleh pemerintah pusat.

Sedangkan alasan berikutnya seperti fenomena negatif  yang  mengemuka antara lain perkelahian pelajar, narkoban, korupsi, plagiarisme, kecurangan dalam Ujian (Contek, Kerpek..), gejolak masyarakat (social unrest) yang terjadi pada peserta didik Indonesia menyentuh hati para guru sebagai praktisi pendidikan di lapangan khusunya dan dinas pendidikan pada umumnya yang menjadi bahan penilaian diri sendiri bagi para guru apa yang salah dengan pendidikan di Indonesia , dimana letak kesalahan atau kekurangan para guru Indonesia?. Fenomena ini akan selalu menjadi pekerjaan rumah bagi kami yang secara harapan internal ingin membenahi apa yang telah terjadi pada peserta didik  kami khusunya dan peserta didik Indonesia secara umum. Namun keinginan untuk perbaikan itu tidak bisa dilakukan secara individu atau partial, fenomena ini sudah menggejolak secara nasional, sehingga tugas ini menjadi tugas nasional yang muaranya adalah perbaikan atau pengembagan kurikulum sebelumnya.

Tentang persepsi masyarakat yang menyatakan bahwa pendidikan terlalu menitik beratkan pada aspek cognitive, beban siswa terlalu berat, kurang bermuatan karakter memang benar adanya. Menurut hasil dari rembuk para guru secara lisan, sebenarnya kurikulum yang berlaku sebelumnya sampai pada kurikulum terakhir (KTSP) menurut hemat saya secara pribadi melihat bahwa para guru dikejar-kejar oleh kurikulum yang mengacu pada keberhasil Ujan Nasional dimana pembelajaran mengejar target Ujian Nasional dan mentut para guru untuk memberikan pembelajaran yang menekankan aspek cognitive, sehingga pemebelajaran pada aspek keterampilan yang ditandai dengan sebuah produk yang dihasilkan oleh peserta didik sangat minim. Menurut kami minimya pembelajaran yang menekankan aspek keterampilan yang dapat menghasilkan produk bukanlah kesalahan guru melulu. Kalau boleh kami katakan secara tidak disadari kurikulumlah yang menggiring kami melaksanakan pembelajaran demikian adanya.  Ya memang benar KTSP sudah menekankan pada tiga ranah atau aspek yaitu pengetahuan, keterampilan, dan dan aspek sikap yang harus diperoleh oleh peserta didik namun pada kenyataanya pelaksanaanya tidak seperti yang diharapkan kurikulum,  mengingat jam pelajarannya masih kurang sehingga aplikasi aspek keterampilan dan aspek sikap harus perlu disediakan jam pelajarannya. Di lain pihak diberikan jam pelajaran tambahan  menambah beban para peserta didik untuk belajar. Jadi benar bahwa persepsi masyarakat bahwa beban peserta didik cukup berat. Berdasarkan pengalaman kami peserta didik merasakan keluhan yang lumayan serius karena mereka dijejali tugas terlalu banyak menurut mereka, apakah ini tuntutan kurikulum atau ini merupakan fenomena bakhwa karakter siswa tidak pernah terlatih akan karakter bekerja keras sejak pendidikan usia dini. Lagi, kurikulumkah yang perlu dibenahi atau gurukah yang kurang wawasannya tentang pendidikan karakter? Masalah ini juga menjadi teka-teki bagi kami para guru.

Berdasarkan hasil penelitian International terhadap rendahnya kualitas pendidikan Indonesia oleh PERC (kita berada pada ranking 12 dari 12 negara di Asia) ,The World economic Forum (daya saing rendah urutan ke 37 dari 57 negara), dan tercermin dari Program PISA dimana ditunjukkan dengan kemampuan siswa yang rendah, kemudian TIMSS memperlihatkan daya nalar siswa yang rendah, serta diakibatkan oleh sistim pendidikan Indonesia yang buruk dan berdampak pula pada kualitas guru rendah. Menurut hemat saya permasalahnya tidaklah melulu terletak pada implementasi kurikulum sebelumnya. Rendahnya mutu keluaran pendidikan mungkin salah satunya disebabkan oleh implementasi kurikulum sebelumnya dan mungkin saja disebabkan oleh kualitas guru yang rendah, akan tetapi rendahnya kualitas guru perlu diteliti lebih jauh dan masalah ini perlu mendapat perhatian yang lebih serius berbarengan dengan peningkatan mutu siswa  melalui perubahan kurikulum. Walaupun program pemerintah dalam usahanya meningkatkan kualitas guru melalui pelatihan-pelatihan sudah diselengarakan namun program ini tidak sepenuhnya efektive terlaksana sampai pada guru pada tingkat paling bawah dan tidak semua guru memperoleh kesempatan yang adil untuk mengikuti pelatihan-pelatihan demi peningkatan kualitas mereka.

Permasalahan hasil implementasi kurikulum yang persisten dari tahun ketahun dari kurikulum ke kurikulum berikutnya, menurut hemat saya muatan kurikulum sebelumnya sudah kurang layak lagi diterapkan untuk menantang derasnya gerus globalisasi ini. Muatan kurikulum yang tidak jelas mengantar siswa ke dunia kerja sebagai salah satu factor penyebab redahnya mutu  pendidikan Indonesia yang dihadapi saat ini. Muatan kurikulum yang secara tidak disadari menuntut lebih banyak  pada penguasaan aspek pengetahuan tingkat rendah bagi para peserta didik dan kalaupun beberapa guru berkeinginan  menerapkan model pembelajaran yang memerlukan tingkat perubahan yang lebih tinggi menimbulkan kesulitan bagi siswa. Siswa tidak terbiasa dengan cara pembelajaran yang memerlukan kreativitas, inovasi, produktivitas, dan efektif masalah ini terbawa sejak pendidikan usia dini. In disebabkan oleh belum terintegrasinya karakter bangsa.

Mengingat fenomena tersebut diatas adalah suatu tindakan yang tepat dan bijak apabila pemerintah dalam hal ini KeMenDikBud untuk menjawab semua pertanyaan tersebut dengan merubah kurikulum  seperti apa yang sudah di rencanakan dan lanjut pelaksanaanya walaupun masih dalam proses. Dan apabila pada waktu pelaksanaanya pada tahun pelajaran 2013-2014 adalah tahun pertama bagi institusi pendidikan dan berharap semua sekolah diberikan kesempatan yang equal untuk memulai melaksanakanya. Dengan besar harapan  semua guru sampai ke pelosok-pelosok sudah memahami dan siap menindak lanjuti kurikulum yang baru ini. Inilah yang akan menjadi pertanyaan besar, mampukah para guru dan siapkah mereka dengan perubahan ini karena permasalahanya tidak hanya pada kemampuan siswa untuk beradaptasi dan mengadopsi sesuatu yang baru tapi permasalahnya juga terletak pada para guru, insane yang paling berperan meningkatkan kualitas genereasi penerusnya dan insane yang menjadi ujung tombak untuk meningkatkan mutu pendidikan bangsa Indonesia masa depan.  Apabila kurikulum selanjutnya mengintegrasikan karakter budaya bangsa karena ingin menanamkan nilai-nilai luhur budaya bangsa kepada peserta didik dan ingin mengasilkan  kualitas keluaran yang lebih tinggi dan mampu bersaing di dunia global, tidakah para guru dan instansi terkait baik vertical maupun horizontal juga perlu diberikan pendidikan karakter budaya bangsa sehingga bisa menjadi model dan dipanut oleh peserta didik kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s