HASIL ANGKET SISWA KELAS XI IPA 6 / 2011-2012 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN MIND MAPPING PADA KETERAMPILAN MENULIS

HASIL ANGKET SISWA KELAS XI IPA 6 / 2011-2012 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN MIND MAPPING PADA KETERAMPILAN MENULIS

 

 

  1. Dari hasil angket yang diperoleh menunjukkan hanya 20,59% dari 34 siswa menyatakan senang memdapatkan pelajaran mengarang, dan selebihnya 76, 47% menyatakan biasa-biasa saja. Ini menandakan bahwa sebagian besar siswa belum memiliki kegemaran mengarang dalam bahasa apapun. Siswa memiliki kemauan mengarang hanya sebatas tugas pembelajaran atau tuntutan. Selebihnya kemauan mengarang karena minat masih cukup kecil. Hal ini perlu mendapat perhatian bagi para guru bahasa bagaiman menumbuhkan minat siswa untuk lebih tertarik untuk mengarang tidak hanya sebatas tuntutan tugas pembejaran.
  2. Mengarang bahasa inggris diluar pembelajaran mengarang bahasa inggris kemungkinan tugas yang berat bagi siswa, ini terbukti 52,94% siswa menyatakan tidak pernah mengarang bahasa inggris dan 52,945 menyatakan kadang-kadang. Ini menjadikan tantangan bagi guru bahasa inggris untuk menemukan pembelajaran yang lebih inovatif dan menyenangkan agar siswa memiliki minat mengarang bahasa inggris tidak sebatas tuntutan.
  3. Sebaiknya pembelajaran mengarang bahasa inggris analitikal diberikan dengan cara yang menyenangkan, inovatif, dan bervariasi. 85,29% siswa lebih memilih cara ini dibandingkan dengan metode ceramah 11,76%. Lebih-lebih tugas-tugas mengarang dari LKS sungguh tidak mendapat tanggapan dari siswa.
  4. Menulis jenis karangan narasi menjadi pilihan utama bagi siswa. 70,59% siswa memilih narasi dibandingkan dengan yang memilih koran atau majalah hanya 11,76%. Apalagi mengarang analitikal hanya 17,67% yang tertarik melakukannya. Ternyata siswa cenderung menyukai fiksi dibandingkan dengan non-fiksi.
  5. Metode atau model pembelajaran mengarang analitikal yang diunggulkan siswa adalah picture and picture, terbukti 76,47% siswa memilih model ini diterapkan pada mengarang analitikal, sedangkan peta konsep atau mind mapping disukai oleh siswa hanya 29,41%. Lebih-lebih model PLEASE (Pick a topic, List ideas, Evaluate your list of ideas, Activate the paragraph, Supply supporting sentences, and End with the concluding sentence and Evaluate work/ Tentukan topic, buat daftar idea tau gagasan, Uji daftar ide yang sudah dibuat, Elaborasi ide/gagasan menjadi paragraph, dan Akhiri dengan kesimpulan dan evaluasi pekerjaan hanya 0%. Yang semestinya model picture and picture paling efektif diterapkan pada pembelajaran mengarang recount atau spoof, dalam hal ini malah siswa menyukai model picture and picture untuk diterapkan pada karangan analitikal.
  6. Penerapan model mind mapping dan silent way di dalam mengarang analitikal kenyataanya tidak amat menarik perhatian siswa. Terbukti 94,18% siswa menunjukkan sikapnya nya biasa-biasa saja. Hanya 5,89% menyatakan setuju kalau model ini diterapkan pada karangan analitikal sedangkan 2, 94% menyatakan tidak setuju.
  7. Setelah diterapkan Model Mind Mapping dan Silent Way antusias siswa untuk mendiskusikan dengan teman hanya 20, 59%, dan yang tidak antusia hanya 2,94%. Sedangkan siswa yang menunjukkan tanggapan biasa saja sebanyak 76,47% . Jadi dapat dikatakan bahaw model ini tidak terlalu efektif diterapkan di dalam mengarang analitikal.
  8. Menurut tanggapan siswa penerapan model mind mapping dan silent way tidak terlalu memberi manfaat di dalam mengarang analikal. 76,47% siswa merasakan manfaatnya sedang-sedang saja. Hanya 26,47% yang menganggap model ini memberi manfaat pada pembelajaran mengarang analitikal biasa saja. Selebihnya 2,94% tidak mendapatkan manfaat dari model pembelajaran ini.
  9. Jika sebelumnya model mind mapping dan silent way merupakan pilihan paling tepat diterapkan pada pembelajaran mengarang analitikal tidak pada siswa SMA N I Kuta utara. 52, 94% siswa merasa sulit menulis karangan analitikal dengan Model Mind Mapping dan Silent Way, sedangkan yang tanggapannya netral sebayak 44,18%, dan hanya 2,94% yang menyatakan tidak sulit.
  10. Agar pelajaran menulis karangan analitikal dengan model Mind Mapping dan Silent way  lebih mudah, menarik, dan menyenangkan,76,47% siswa menyarankan kepada guru untuk menerapkan model variasi lainnya. Sedangkan  pilihan acces internet untuk memperoleh informasi lebih banyak sebanyak 20,59%. Lebih-lebih perpustakaan sebagai sumber informasi cetak sangat tidak mendapat response. Tak seorangpun (0%) memilih perpustakaan sebagai facilitas pendukung untuk memperoleh informasi di dalam pembelajaran mengarang.

 

2.   Penjelasan Nilai Siklus 1

Melihat hasil evaluasi pada siklus 1 diperoleh nilai rata-rata 67,79 dari ke semua unsur yang dinilai. Nilai ini tergolong pada predikat cukup yang berada dibawah ketuntasan minimal yaitu 75. Unsur-unsur penilaian yang masih pada kategori cukup atau kurang dari standar minimal (75) salah satunya adalah isi. Pada unsure ini siswa cukup memahapi isi, namun gagasanya kurang kaya dan kurang terjabar uraiannya.  Sama halnya dengan nilai pada unsure kosa kata. Perolehan rata-rata nilai hasil evaluasi berada pada rentangan skor 60-74 (cukup). Dengan jumlah kosa kata yang minimal siswa hanya mampu menyusun sebuah karangan dengan kurang lebih 100 kata. Selanjutnya kurangnya kemampuan siswa dalam penulisan dan penggunaan kaidah bahasa dalam menyusun karangan diperoleh dengan skor 60-74.

Dengan perolehan nilai rata-rata pada rentangan skor 60-74 yang masih berada pada predikat cukup yaitu pada unsure-unsur isi, kosakata, bahasa dan penulisan ini berarti dipandang perlu untuk melanjutkan ke siklus 2 untuk mencapai KKM.

  1.  Pembahasan Pengamatan Observasi Aktivitas siswa pada siklus 1

Tabel 4.5  Konversi prosentase hasil observasi per unsure ternilai pada skala Likert

 

Skala Prosentase perkelompok item secara klasikal= Kategori
1 81%-100% Sangat Tinggi
2 61%-80% Tinggi
3 41%-60% Cukup
4 21%-40% Rendah
5 0%-20% Sangat rendah

Sumber: Dharma Setyawan 2006:14

Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh guru terhadap siswa selama proses pembelajaran dengan menggunakan model mind mapping nampaknya perhatian dalam proses pembelajaran dengan model mind mapping serta kelengkapan pendukung proses belajar mengajar, dan kemauan siswa untuk menentukan topic, mengembangkan dalam kerangka karangan dan mengelaborasi kerangka menjadi sebuah karangan analytical . lumayan tinggi. Lebih-lebih partisipasi siswa selama proses pembelajaran sangat tinggi. Namun kedisiplinan siswa untuk mengerjakan tugas sesuai dengan petunjuk biasa-biasa saja, walaupun sudah terjadi komunikasi antar siswa maupun antar siswa dan guru sangat tinggi sehingga bimbingan secara individual atau perkelompok memerlukan waktu extra. Menjadi kebiasaan bagi siswa untuk tidak memenuhi ketepatan waktu dalam menyelesaikan tugas yang diberikan hal ini apakah disebabkan oleh materi terlalu sulit atau memang pembawaan siswa yang pemalas.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s