PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS DI KELAS

Pembelajaran Bahasa Inggris di Bangku Sekolah: Apakah Efektif?
Tidak bisa dipungkiri, kemampuan berbahasa Inggris merupakan salah satu kriteria untuk dapat sukses berpartisipasi dalam era globalisasi. Kali ini, kami menanyakan kepada para Student Ambassador kami:

“Apakah menurut kamu pelajaran bahasa Inggris yang didapatkan selama berada di bangku sekolah menengah telah cukup sebagai bekal untuk terjun ke dunia kerja dalam era globalisasi ini? Jika tidak, apakah yang kamu lakukan untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggrismu di luar sekolah? Apabila ada, silahkan membagi tips & trik belajar bahasa Inggris kamu dengan para pembaca.”

Simak penuturan mereka yang humoris, inovatif dan kreatif!

“Belajar terkadang tidak melulu berkaitan dengan kecerdasan kognitif belaka, tetapi juga masalah teknis dan kebiasaan. Agaknya, sepotong pepatah lama yang berbunyi ‘bisa karena terbiasa’ ada benarnya juga…”

Sepanjang paruh liburan penutup semester genap kemarin, saya berada di kota kelahiran saya–Bandar Lampung. Kebetulan beberapa kali saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah saudara sepupu saya yang masih duduk di kelas 1 SMP.  Setibanya di sana, saudara sepupu saya yang bernama Marcelia malah menyodorkan buku PR Bahasa Inggrisnya—bukannya suguhan makanan kecil seperti yang saya harapkan. Duh…mau tidak mau, dengan terpaksa saya kerjakanlah tugas sekolahnya itu hingga selesai. Tante saya yang tak lain dan tak bukan adalah Ibu kandung Marcelia mengeluh tentang betapa sulitnya pelajaran Bahasa Inggris dan matematika sehingga tambahan kursus di luar menjadi satu kebutuhan yang mendesak. Lantas, saya  jadi bertanya-tanya sendiri dan melakukan refleksi tentang masalah ini.

Agaknya, tidak berlebihan bila Bahasa Inggris memang amat sangat dibutuhkan dalam abad kontemporer ini. Setiap zaman diatur oleh sebuah sistem episteme tertentu, begitulah kira-kira kalau tidak salah kata Michel Foucault, sang filosof pujaan saya. Pada zaman ibu saya masih single dulu, Bahasa Inggris masih menjadi satu barang antik. Belum bergeser kedudukannya menjadi ibarat sembako bila diibaratkan dengan keadaan sekarang. Tetapi, itu dulu. Sistem masyarakat, seperti budaya, sosial, ekonomi bukan sesuatu yang statis. Pergerakannya memunculkan kebutuhan baru sekaligus perubahan pada sendi-sendi sistem tersebut membentuk pembaruan maupun kritik terhadap sistem lama. Dobrakan globalisasi kini meraja. Penguasaan Bahasa Inggris jadi salah satu kebutuhan primer.

Sayangnya, kebutuhan akan Bahasa Inggris yang amat sangat mendesak ini tidaklah dibarengi dengan sarana dan prasarana yang cukup, khususnya bila kita menilik pelajaran Bahasa Inggris yang diberikan di sekolah. Banyaknya jam pelajaran Bahasa Inggris yang diberikan di sekolah (yang nyatanya, memang tidak banyak karena harus berbagi proprosi dengan mata pelajaran lainnya) tidaklah memadai untuk mencukupi kebutuhan penguasaan Bahasa Inggris yang diharapkan. Meskipun pada beberapa sekolah pemberian pelajaran Bahasa Inggris telah diberikan semenjak jenjang TK, perlu dilihat pula apakah sistem pengajarannya bisa mengakomodasi kemampuan anak didiknya. Sebab anak kecil masih membutuhkan banyak waktu bermain dan bersenang-ria dengan sebayanya, jangan sampai materi yang berat merusak kegembiraan masa kecilnya yang kaya akan imajinasi.

Coba bayangkan, kita yang lahir di negara Indonesia tentu dapat menguasai bahasa Indonesia dengan sendirinya, begitu pula dengan saudara-saudara kita di belahan dunia lain. Mengapa demikian? Kita bisa karena terbiasa. Kita lihai karena setiap hari kita bertemu dengan bahasa itu dan menggunakannya secara aktif dalam komunikasi antarindividu. Pengalaman empiris membentuk kemampuan berbahasa—disamping perubahan volume otak manusia yang diusung teori evolusioner dalam menyediakan wadah untuk mencerap, membentuk, dan memaknai bahasa. Bahasa bukanlah sesuatu yang sudah terprogram dalam diri individu seperti chip komputer yang sudah ditanam dalam tubuh individu. Tetapi, didapat melalui media sosialisasi.

Penguasaan Bahasa Inggris akan sangat baik bila dibarengi dengan penggunaan aktif, seperti pepatah ‘bisa karena terbiasa’ tadi. Cara belajarnya pun sebisa mungkin dibuat semenarik mungkin sehingga para siswa tidak jadi bosan yang ujung-ujungnya membuat mereka bertambah malas.

Beberapa tips yang dapat saya berikan untuk belajar Bahasa Inggris yang menyenangkan antara lain:

1. Bergabunglah dalam English Club. Di sini, kamu bisa belajar vocabulary lewat permainan Scrabble, menyampaikan ide mereka lewat debate contest, dan melatih penguasaan grammar lewat writing. Terlebih, mereka juga dapat memperluas lingkaran pertemanan yang ada.

2. Baca, Baca, Baca! Membaca di sini bukan berarti membaca buku pelajaran melulu. Tetapi, bisa membaca buku dongeng, novel pop remaja, atau novel sastra klasik dalam Bahasa Inggris. Membaca suatu karya fiksi akan sangat menyenangkan karena dengan sendirinya, kamu akan hanyut dalam alur ceritanya yang menarik.

3. Nonton dan Dengarkan Musik. Coba iseng-iseng kamu nonton DVD dengan tidak menggunakan teks (subtitle) apapun. Belajarlah untuk menangkap ide ceritanya lewat dialog para tokoh-tokohnya. Selain itu, kamu juga bisa belajar banyak dengan menerjemahkan atau mendengarkan dengan seksama lirik lagu favorit kamu.

4. Layangkanlah Sayapmu! Tentu saja bukan maksud saya untuk menyuruh terbang. Tetapi, cobalah untuk memperluas jaringan persahabatan dengan teman-teman di luar negeri. Misalnya, lewat friendster. Kamu bisa berlatih Bahasa Inggris dengan sendirinya saat  berkirim-kiriman email atau message sembari cari teman atau jodoh baru.

Kuncinya adalah satu: practice makes perfect. Kita bisa karena terbiasa. Bila kita hanya diam saja dan berpangku tangan, kapan kita mau bisa? Ah…saya jadi tersindir sendiri saat menulis ini. Soalnya, sudah sejak lama saya mengidam-idamkan perut berkotak enam, alias sixpack. Tetapi berhubung saya malas melatihnya, maka saya hanya mengharapkan mukjizat supaya keinginan saya terkabul. Dan alhasil, kini perut saya one-pack, alias menggembung ke depan.

2008 bukan lagi zaman dimana kita sebagai pelajar atau mahasiswa hanya berdiam diri di kelas menunggu guru atau dosen yang mengajar menyuruh kita untuk menulis serentetan catatan besar dalam buku pelajaran kita. Masa-masa itu hanya pernah dilewati oleh orang tua kita. Sebagai manusia yang hidup di era globalisasi ini, kita dituntut untuk serba cepat. Tidak lagi dipingit oleh orang tua dirumah. Kaum muda zaman sekarang sudah bisa mengeksplor dirinya sendiri dalam berbagai bidang. Tidak sedikitnya orang mencapai kesuksesan di masa mudanya.

Bagian penting yang wajib hukumnya kita kuasai dalam era globalisasi ini adalah Bahasa inggris. Mengapa? Karena Bahasa inggris merupakan bahasa internasional yang sudah mendunia. Tidak hanya diluar negeri, didalam negerpun bahasa inggris mulai dirasakan sangat penting apalagi ada kaitannya dengan karir. Terbukti dengan banyaknya persyaratan bekerja ke perusahaan-perusahaan, mahir berbahasa inggris menjadi salah satu syarat utama. Pertanyaannya adalah, apakah kemampuan bahasa inggris kita sudah mencukupi untuk bisa terjun kedunia pekerjaan? Sedangkan menurut saya pribadi, pelajaran bahasa inggris yang diterapkan dibangku sekolah sangat tidak efektif. Karena dalam satu minggu kita hanya mendapatkan dua sampai empat jam saja untuk mempelajari bahasa inggris tersebut. Itupun kita hanya mendapatkan teori-teori dasarnya saja.

Mengingat hal yang telah saya sebutkan tadi diatas, ada beberapa alternatif untuk kita bisa mempelajari bahasa inggis secara efektif. Misalnya kita dapat mengikuti kursus bahasa inggis, tentu saja diluar jam sekolah. Kursus tidak akan memakan waktu lama sampai bertahun-tahun lamanya, dengan hanya beberapa bulan saja kita bisa melancarkan kemampuan berbahasa inggris kita. Tentunya dengan cara itu kita harus mengeluarkan sejumlah uang, apa salahnya sih berkorban demi kemajuan kita sendiri?

Hal lain selain kursus, saya biasanya mencari text atau kata-kata atau bisa juga saya temui dalam lagu berbahasa inggris. Dengan cara seperti itu, saya menjadi tidak malas untuk membuka kamus bahasa inggris. Lumayan kan? Bisa menambah pembendaharaan kata dalam bahasa inggris saya. Dan selain yang saya sebutkan diatas, karena saking cintanya saya terhadap bahasa inggris. Sekarang saya menuntut ilmu di jenjang Perguruan Tinggi dengan mengambil jurusan sastra inggris. Dimana jam pelajaran bahasa inggris yang saya pelajari sekarang jauh lebih banyak waktunya dan lebih efektif karena hal-hal yang saya pelajari lebih spesifik dan lebih fokus kepada bahasa inggris itu sendiri.

Jadi, ada seribu macam cara yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu untuk kita bisa mahir atau menguasai bahasa inggris. Cara mana yang akan kamu pilih? Selamat belajar bahasa inggris.

Kriiing!

Di masa kelas 3 SMA dulu, setiap kali bel pelajaran terakhir berdentang biasanya semua teman-teman saya menyegerakan diri masuk ke dalam kelas. Entah itu si rajin, si usil, atau si tukang-curi-curi-jajan-kala-pelajaran. Sebab, jam pelajaran terakhir adalah Bahasa Inggris! Miss Ira, guru ter-gaul di angkatan saya memang sangat strict mengenai absen. Jika telat, waah.., pintu kelas akan dikunci rapat-rapat. Namun, overall, pelajaran Bahasa Inggris yang diajarkan Miss Ira berlangsung kondusif. Cukup berbeda dengan kelas-kelas Bahasa Inggris tahun sebelumnya, di mana jam Bahasa Inggris terasa santai dan kondusif… untuk mengobrol. Maklum, pelajaran Bahasa Inggris dianggap sebagai ilmu yang mudah. Padahal pada kenyataannya ternyata baik saya maupun teman saya masih sering lho membuat kesalahan soal grammar.

Bagi saya (yang beberapa bulan lalu masih menyandang status siswa), ada 1 kejadian yang mengetuk hati saya mengenai betapa challenging-nya pelajaran Bahasa Inggris. Waktu itu saya masih kelas 1 SMP dan guru saya menyuruh para murid untuk membuat satu kalimat deskriptif berdasarkan gambar. Ia menggambar lelaki yang berdiri di samping kuburan. Kemudian saya menulis : The man stand beside the cemetery. Guru saya tersenyum dan mengoreksinya dengan : The man is standing beside the cemetery. Waw, sejak saat itu aturan tenses dalam Bahasa Inggris menjadi ‘musuh besar’ yang benar-benar ingin saya taklukkan!

Materi Bahasa Inggris yang diberikan semasa saya SMA sangat lengkap, dan buku penunjangnya pun baik. Namun, jujur saja saya justru merasa mendapat lebih banyak pencerahan dengan latihan online yang tersedia gratis di Internet. Caranya mudah sekali, bukalah si Paman Google dan ketik English Exercises. Tadaa, situs-situs pelajaran Bahasa Inggris akan langsung muncul. Yang paling menyenangkan adalah, ketika kita membuat kesalahan dalam Bahasa Inggris, situs-situs itu akan mengoreksi sekaligus member tahu letak kesalahannya. Belajar dari kesalahan memang memberikan pemahaman yang lebih mendalam.

Bermain-main dengan tenses itu memang benar-benar menantang. Tahap pertama dari penguasaan tenses adalah dengan metode hapalan. Hapalkan pola tenses! Niscaya, rumus-rumus tenses akan terlihat sama menyebalkannya dengan rumus Fisika, di mata saya. Daaan.. pun ketika kita sudah hapal rumus tenses tersebut tidak jaminan kita bisa lihai dalam memasukkannya ke dalam paragraf. Oke, kita mungkin hafal (dengan otak kiri) jenis-jenis tenses sekaligus fungsinya. Namun, bagaimana penggunaannya nyatanya? Misalnya waktu kita membuat cerpen dalam Bahasa Inggris. Metode hapalan pola tenses tidak akan terlalu efektif apabila kita tidak memahami atau terbiasa memakai kalimat dengan bermacam-macam tenses.

Belajar Bahasa Inggris menyangkut dua sisi yaitu sisi pasif dan aktif. Sisi pasif adalah Reading dan Listening. Sedangkan sisi aktif adalah Writing dan Speaking. Menurut saya, tingkat kesulitan sisi aktif lebih tinggi.

Sekarang sebagai mahasiswi Ilmu Komunikasi, saya sadar benar bahwa mengolah Bahasa Inggris adalah suatu kewajiban, untuk modal saya bersaing dalam dunia kerja nanti. Oleh karena itu, saya punya hobi baru untuk belajar Bahasa Inggris secara efektif. Eemm, some people might call it freacko-thingie in a way, but I’d rather call this a super-genius way to learn English hehe. I name it “Translation Time”. Oke, jadi saya butuh:

Satu buku Harry Potter dan Tawanan Azkaban

Satu buku Harry Potter and the Prisoner of Azkaban

Aturan mainnya adalah, saya pilih 1 bab random dari buku Harry Potter yang berbahasa Indonesia lalu saya baca. Selanjutnya, saya mencoba menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris. Setelah selesai, saya buka buku yang berbahasa Inggris, lalu.. (ini bagian yang paling menyenangkan) ketika terjemahan yang saya buat, tensesnya tepat atau bahkan kalimatnya sama persis dengan yang ditulis oleh Joanne Kathleen Rowling! Tenses yang tepat saya bold dan beri warna hijau, yang salah merah, dan untuk kalimat yang sama persis saya beri warna biru. Dari situ, saya merasa dapat belajar mandiri sekaligus mengetahui kesalahan-kesalahan yang saya buat. You should try this game. Jika Anda ingin mencobanya, sediakan 2 buku novel yang berbeda bahasa namun judulnya sama. Contoh paling mudah tentu saja, Harry Potter. Come on, who doesn’t own Harry Potter books? E-Books are available anyway. So let’s try it yourself!

Memo dari Head Counsellor http://www.studiluarnegeri.com:

Saya hanya ingin mengomentari sedikit artikel yang ditulis oleh Student Ambassador Keishkara yaitu bahwa kedua kalimat di atas

The man stand beside the cemetery.

The man is standing beside the cemetery.

Keduanya adalah benar. Hanya saja, kalimat pertama seharusnya adalah The man stands beside the cemetery. Jadi hanya kurang “s” saja di akhir kata stand.

Perbedaan antara kedua kalimat di atas adalah dari segi aspect nya yaitu fitur grammar yang menjelaskan apakah kata kerja terkait menggambarkan sesuatu yang telah terjadi, sedang terjadi, akan terjadi, atau terjadi secara kontinyu. Kalimat pertama menggambarkan simple present sedangkan kalimat kedua menggambarkan present progressive.

Semoga membantu,

Sardani

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s