MODEL PEMBELAJARAN

Model-model pembelajaran moderen yang dipaparkan diatas disamping sangat efektif dan teruji didalam melibatkan siswa secara aktif pada proses pembelajaran matematika, metode tersebut juga menuntut guru untuk benar-benar mempersiapkan diri pada proses pembelajaran yang akan disampaikan. Disamping itu metode-metode pembelajaran tersebut juga mampu mendorong siswa untuk aktif dalam pembelajaran, bicara, mengemukaan pendapat, dan bekerja secara bersama-sama dengan kelompok untuk memahami materi pembelajaran yang disajikan dan direncanakan oleh guru. Dengan demikian diharapkan siswa lebih menguasai materi yang dipelajarinya. Tentu saja kesemuanya itu harus didampingi oleh bimbingan seorang guru yang profesional .
Namun demikian tentusaja masih banyak kendala-kendala yang dihadapi oleh guru di lapangan. Terlebih lagi pada sekolah sekolah rintisan atau sekolah sekolah pinggiran. Kendala kendala tersebut antara lain :
1. Fasilitas fasilitas sekolah yang belum memadai.
Disekolah-sekolah rintisan ataupun sekolah sekolah pinggiranfasilitas pembelajaran masih sangat minim. Belum adanya perpustakaan yang memadai, laboratorium matematika belum ada, dan alat alat peraga yang masih minim menghambat siswa didalam mencari sumber belajar yang mereka butuhkan.
2. Kemampuan siswa yang terbatas.
Kemampuan siswa yang sangat terbatas menjadi tantangan yang sangat besar bagi seorang guru untuk menghidupkan suasana pembelajaran kelas yang harmonis.Kurang mampunya mereka dalam berfikir kreatif, merasa rendah diri dan malu-malu menjadi kendala paling besar dalam proses pembelajaran yang aktif dan kreatif.
3. Lingkungan yang tidak mendukung.
Lingkungan sangat berpengaruh dalam proses pembelajaran . Karakteristik masyarakat dipinggiran yang senderung apatis dalam pendidikan menjadikan siswa juga apatis dalam belajar. Terlebih lagi bila lingkungan keluarga tidak begitu peduli dengan pendidikan anaknya. Maka seolah-olah siswa menjadi kehilangan lentera keluarga yang akan membanyu proses pembelajaran di sekolah.

Hal-hal yang seperti inilah yang sering menjadi kendala dilapangan yang kerap dijumpai seorang guru didalam fungsinya sebagai pendidik.

Usaha menjadikan pendidikan di Indonesia lebih maju adalah menjadi harapan bagi seluruh warga Negara Indonesia. Guru sebagai ujung tompak pendidikan bangsa mempunyai tanggung jawab atas terselenggaranya pendidikan yang baik. Usaha guru didalam memajukan pendidikan bangsa dapat dilihat dalam berbagai upaya guru didalam menuntun siswa untuk menguasai materi pembelajaran. Upaya guru melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran adalah salah satu usaha guru untuk mendidik siswa agar lebih mendalami materi pelajaran yang dipelajari.
Pengelolaan kelas yang baik, didukung dengan metode pembelajaran yang baik pula , diharapkan mampu memberi solusi yang tepat guna menjadikan siswa berperan aktif dalam proses pembelajaran.

Keterbatasan sarana pembelajaran di sekolah, keadaan lingkungan masyarakat dan kemampuan siswa menjadi kendala yang sangat dirasakan oleh guru. Kendala tersebut merupakan tanggung jawab bukan guru saja, melainkan juga tanggung jawab lingkungan keluarga, masyarakat, dan Negara. Bila kendala kendala tersebut dapat diatasi bersama maka insyaAllah pendidikan yang selalu dicita-citakan oleh bangsa kita akan segera terwujud.

Kendala-Kendala Pengimplikasian di Indonesia

Jika memang IT dan Internet memiliki banyak manfaat, tentunya ingin kita gunakan secepatnya. Namun ada beberapa kendala di Indonesia yang menyebabkan IT dan Internet belum dapat digunakan seoptimal mungkin. Kesiapan pemerintah Indonesia masih patut dipertanyakan dalam hal ini. Salah satu penyebab utama adalah kurangnya ketersediaan sumber daya manusia, proses transformasi teknologi, infrastruktur telekomunikasi dan perangkat hukumnya yang mengaturnya. apakah infrastruktur hukum yang melandasi operasional pendidikan di Indonesia cukup memadai untuk menampung perkembangan baru berupa penerapan IT untuk pendidikan ini. Sebab perlu diketahui bahwa Cyber Law belum diterapkan pada dunia Hukum di Indonesia. Selain itu masih terdapat kekurangan pada hal pengadaan infrastruktur teknologi telekomunikasi, multimedia dan informasi yang merupakan prasyarat terselenggaranya IT untuk pendidikan sementara penetrasi komputer (PC) di Indonesia masih rendah. Biaya penggunaan jasa telekomunikasi juga masih mahal bahkan jaringan telepon masih belum tersedia di berbagai tempat di Indonesia.. Untuk itu perlu dipikirkan akses ke Internet tanpa melalui komputer pribadi di rumah. Sementara itu tempat akses Internet dapat diperlebar jangkauannya melalui fasilitas di kampus, sekolahan, dan bahkan melalui warung Internet.Hal ini tentunya dihadapkan kembali kepada pihak pemerintah maupun pihak swasta; walaupun pada akhirnya terpulang juga kepada pemerintah. Sebab pemerintahlah yang dapat menciptakan iklim kebijakan dan regulasi yang kondusif bagi investasi swasta di bidang pendidikan. Namun sementara pemerintah sendiri masih demikian pelit untuk mengalokasikan dana untuk kebutuhan pendidikan. Saat ini baru Institut-institut pendidikan unggulan yang memiliki fasilitas untuk mengakses jaringan IT yang memadai. Padahal masih banyak institut-institut pendidikan lainnya yang belum diperlengkapi dengan fasilitas IT

E-LEARNING SEBAGAI SOLUSI PERMASALAHN PENDIDIKAN INDONESIA

IT atau Information Technology memberikan kontribusi yang luar biasa dalam hal penyebaran materi Informasi ke seluruh belahan dunia. IT merupakan suatu alat Globalisator yang luar biasa – salah satu instrumen vital untuk memicu time-space compression (menyusutnya ruang dan waktu), karena kontaknya yang tidak bersifat fisik dan individual, maka ia bersifat massal dan melibatkan ribuan orang. Hanya dengan berada di depan komputer yang terhubung dengan internet, seseorang bisa terhubung ke dunia virtual global untuk ‘bermain’ informasi dengan ribuan computer penyedia informasi yang dibutuhkan, yang juga terhubung ke internet pada saat itu. Perkembangan IT yang sedemikian pesat tersebut menciptakan kultur baru bagi semua orang di seluruh dunia. Dunia pendidikan pun tak luput dari sentuhannya. Integrasi teknologi informasi ke dalam duina pendidikan telah menciptakan pengaruh besar. Dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi, mutu dan efisiensi pendidikan dapat ditingkatkan. Di tengah kemelut dunia pendidikan Indonesia yang tak kunjung selesai, kehadiran teknologi informasi menjadi satu titik cerah yang diharapk n mampu memberi sumbangan berarti dalam meningkatkan mutu pendidikan. saat ini mutu pendidikan Indonesia masih sangat rendah. Laporan tahunan Human development Index UNDP tahun 2004 menempatkan Indonesia pada posisi 111 dari 175 negara. Adapun hasil survai tentang kualitas pendidikan di Asia yang dilakukan oleh PERC (The Political and Economic Risk Country), Indonesia berada pada posisi 12 atau yang terendah (Suara karya, 18 desember 2004). Peringkat ini sepertinya tidak mengalami pergeseran jauh pada saat sekarang ini mengingat problematika pendidikan yang masih saja belum berubah.  Salah satu produk integrasi teknologi informasi ke dalam dunia pendidikan adalah e-learning atau elektronik learning. Saat ini e-Learning mulai mengambil perhatian banyak pihak, baik dari kalangan akademik, profesional, perusahaan maupun industri. Di institusi pendidikan tinggi misalnya, e-Learning telah membuka cakrawala baru dalam proses belajar mengajar. Sedangkan di lingkungan industri, e-Learning dinilai mampu membantu proses dalam meningkatkan kompetensi pegawai atau sumber daya manusia. Dari dunia akademis metode pembelajaran ini sudah mulai banyak diterapkan dan dikembangkan. Ambil contoh penerapan e-Learning di kampus ITB, IPB, UI, Unpad, Universitas Hasanuddin, Universitas Negeri Malang, dan universitas

Teknologi Informasi, Inovasi bagi Dunia Pendidikan

KEDUDUKAN DAN PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PEMBELAJARAN

Penggunaan Teknologi Informasi (TI) dalam pembelajaran seiring perkembangan jaman pertukaran informasi semakin cepat dan instant, sehingga penggunaan system tradisional dalam mengajar yang mengandalkan tatap muka antar guru dan murid akan menghasilkan pendidikan yang sangat lambat dan tidak seiring perkembangan jaman.  Sistem tradasional ini seharusnya sudah ditinggalkan sejak ditemukannya media komunikasi multi media. Karena sifat internet yang dapat dihubungkan setiap saat, artinya siswa dapat memanfaatkan program-prgram pendidikan yang disediakan di jaringan Internet kapan saja sesuai dengan waktu luang mereka, sehingga kendala ruang dan waktu yang mereka hadapi untuk mencari sumber belajar dapa teratasi.

Kedudukan IT bagi Pendidikan

Sudah selayaknya lembaga-lembaga pendidikan yang ada segera memperkenalkan dan memulai penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sebagai basis pembelajaran yang lebih mutakhir. Hal ini menjadi penting, mengingat penggunaan IT merupakan salah satu faktor pentin g yang memungkinkan kecepatan transformasi ilmu pengetahuan kepada para peserta didik, generasi bangsa ini secara lebih luas. Dalam konteks yang lebih spesifik, dapat dikatakan bahwa kebijakan penyelenggararan pendidikan, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah, pemerintah daerah, maupun masyarakat harus mampu memberikan akses pemahaman dan penguasaan teknologi mutakhir yang luas kepada para peserta didik. Program pembangunan pendidikan yang terpadu dan terarah yang berbasis teknologi paling tidak akan memberikan multiplier effect dan nurturant effect terhadap hampir semua sisi pembangunan pendidikan. Sehingga IT berfungsi untuk memperkecil kesenjangan penguasan teknologi mutakhir khususunya dalam dunia pendidikan.

Pembangunan pendidikan berbasis IT setidaknya memberikan dua keuntungan. Pertama, sebagai pendorong komunitas pendidikan ( termasuk guru ) untuk lebih apresiatif dan proaktif dalam maksimalisasi potensi pendidikan. Kedua, memberikan kesempatan luas kepada peserta didik memanfaatkan setiap potensi yang ada dapat diperoleh dari sumber-sumber yang tidak terbatas.

Adapun kedudukan IT dalam pendidikan yang lain adalah : a. Mempermudah kerjasama antara pakar dengan mahasiswa, menghilangkan batasan ruang, jarak dan waktu. b.Sharing Informatioan , sehingga hasil penelitian dapat digunakan bersama-sama dan mempercepat pengembangan ilmu pengetahuan c.

Virtual University, yaitu dapat menyediakan pendidikan yang diakses oleh orang banyak

Pemanfaatan IT bagi Pendidikan

Pesatnya perkembangan IT, khususnya internet memungkinkan pengembangan layanan informasi yang lebih baik dalam suatu institusi pendidikan. Di lingkungan perguruan tinggi, pemanfaatan IT lainnya yaitu diwujudkan dalam suatu system yang disebut electronic university (e-university). Pengembangan e-University bertujuan untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan, sehingga perguruan tinggi dapat memberi pelayanan informasi yang lebih baik kepada komunitasnya, baik didalam maupun diluar perguruan tinggi tersebut melalui internet. Layanan pendidikan lain yang bisa dilaksanakan melalui internet yaitu dengan menyediakan materi kuliah secara on- line dan materi kuliah tersebut dapat diakses oleh siapa saja yang membutuhkan,sehingga memberikan informasi bagi yang sulit mendapatkannya karena problem ruang dan waktu.

Lingkungan Akademis Pendidikan Indonesia yang mengenal alias sudah akrab dengan Implikasi IT di bidang Pendidikan adalah UI dan ITB. Semisalnya UI. Hampir setiap Fakultas yang terdapat di UI memiliki jaringan yang dapat di akses oleh masyarakat, memberikan informasi bahkan bagi yang sulit mendapatkannya karena problema ruang dan waktu. Hal ini juga tentunya sangat membantu bagi calon mahasiswa maupun mahasiswa atau bahkan alumni yang membutuhkan informasi tentang biaya kuliah, kurikulum, dosen pembimbing, atau banyak yang lainnya. Contoh lain adalah Universitas Swasta Bina Nusantara juga memiliki jaringan Internet yang sangat mantap, yang melayakkan mereka mendapatkan penghargaan akademi pendidikan Indonesia dengan situs terbaik. Layanan yang disediakan pada situs mereka dapat dibandingkan dengan layanan yang disediakan oleh situs-situs pendidikan luar negeri seperti Institut Pendidikan California atau Institut Pendidikan Virginia, dan sebagainya.

Pada tingkat pendidikan SMU implikasi IT juga sudah mulai dilakukan walau belum mampu menjajal dengan implikasi-implikasinya pada tingkatan pendidikan lanjutan. Di SMU ini rata-rata penggunaan internet hanyalah sebagai fasilitas tambahan dan lagi IT belum menjadi kurikulum utama yang diajarkan untuk siswa. IT belummenjadi media database utama bagi nilai-nilai, kurikulum, siswa, guru atau yang lainnya. Namun prospek untuk masa depan, penggunaan IT di SMU cukup cerah. Selain untuk melayani Institut pendidikan se cara khusus, adapula yang untuk dunia pendidikan secara umum di indonesia. Ada juga layanan situs internet yang menyajikan kegiatan sistem pendidikan di indonesia. situs ini dimaksudkan untuk merangkum informasi yang berhubungan dengan perkembangan pendidikan yang terjadi dan untuk menyajikan sumber umum serta jaringan komunikasi (forum) bagi administrator sekolah, para pendidik dan para peminat lainnya. Tujuan utama dari situs ini adalah sebagai wadah untuk saling berhubungan yang dapat menampung semua sektor utama pendidikan.Disamping lingkungan pendidikan, misalnya pada kegiatan penelitian kita dapat memanfaatkan internet guna mencari bahan atau pun data yang dibutuhkan untuk kegiatan tersebut melalui mesin pencari pada internet. Situs tersebut sangat berguna pada saat kita membutuhkan artikel, jurnal ataupun referensi yang dibutuhkan. Inisiatif- inisiatif penggunaan IT dan Internet di luar institusi pendidikan formal tetapi masih berkaitan dengan lingkungan pendidikan di Indonesia sudah mulai bermunculan. Salah satu inisiatif yang sekarang sudah ada adalah situs penyelenggara “Komunitas Sekolah Indonesia”. Pengembangan dan penerapan IT juga bermafaat untuk pendidikan dalamnkaitannya dengan peningkatan kualitas pendidikan nasional Indonesia. Salah satu aspeknya adalah kondisi geografis Indonesia dengan sekian banyaknya pulau yang berpencar-pencar dan kontur permukaan buminya yang seringkali tidak bersahabat, biasanya diajukan untuk menjagokan pengembangan dan penerapan IT untuk pendidikan. IT sangat mampu dan dijagokan agar menjadi fsasilitator utama untuk meratakan pendidikan di bumi nusantara, sebab IT yang mengandalkan kemampuan pembelajaran jarak jauhnya tidak terpisah oleh ruang, jarak dan waktu. Demi penggapaian daerah-daerah yang sulit tentunya penerapan ini agar dilakukan sesegera mungkin di Indonesia.

Adapun manfaat IT bagi bidang pendidikan yang lain adalah :

a. Akses ke perpustakaan

b. Akses ke pakar

c. Melaksanakan kuliah secara on line

d. Menyediakan layanan informasi akademik suatu institusi pendidikan

e. Menyediakan fasilitas mesin pencari data

f. Menyediakan fasilitas diskusi

g. Menyediakan fasilitas direktori alumni dan sekolah

h. Menyediakan fasilitas kerjasama

PERKEMBANGAN PENDIDIKAN DI ERA GLOBALISASI

Kemajuan teknologi dewasa ini dan di masa-masa yang akan datang terutama di bidang informasi dan komunikasi telah menyebabkan dunia ini menjadi sempit  cakupannya. Interaksi antara bangsa yang satu dengan bangsa yang lainnya baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja menjadi semakin intensif. Demikian juga yang terjadi di Indonesia dan negara-negara di dunia globalisasi sebagai sesuatu yang tidakbisa dihindari. Pada era globalisasi, ada kecenderungan yang kuat terjadinya proses universalisasi yang melanda seluruh aspek kehidupan manusia. Salah satu implikasi penyeragaman terlihat dengan munculnya gaya hidup global seperti: makanan, pakaian dan musik. Anak-anak kecil yang telah mengenal film-film kartun dari berbagai negara, kita yang sudah mengenal berbagai jenis makanan dari berbagai bangsa, demam mode dunia yang melanda semua negara adalah contoh nyata bahwa pengaruh global mengalir tanpa terbendung di negara kita. Banyak hal yang perlu dicermati agar sebagai bangsa kita tidak tertinggal oleh hal-hal baru yang terjadi secara global sehingga kita bisa beradaptasi dengan negara- negara di dunia. Di sisi lain kita juga harus punya filter yang kuat agar pengaruh globalisasai yang negatif tidak menggaanggu kehidupan bangsa kita yang menjunjung tinggi budi pekerti dan memiliki budaya yang luhur. Hal ini penting agar kita bisa menjadi bangsa yang bermartabat tanpa harus ketinggalan dengan negara-negara lain. Di bidang pendidikan, peran guru untuk mendidik peserta didik menjadi manusia yang selalu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar budaya sangat penting dalam menentukan perjalanan generasi bangsa ini. Guru dituntut menjadi pendidik yang bisa menjembatan i kepentingan-kepentingan itu. Tentu saja melalui usaha-usaha nyata yang bisa diterapkan dalam mendidik pesera didiknya.

DUNIA PENDIDIKAN KONVENSIONAL INDONESIA

Secara umum Dunia Pendidikan memang belum pernah benar-benar menjadi wacana yang publik di Indonesia, dalam arti dibicarakan secara luas oleh berbagai kalangan baik yang bersentuhan langsung maupun tidak langsung dengan urusan pendidikan. Namun demikian, bukan berarti bahwa permasalahan ini tidak pernah menjadi perhatian. Upaya-upaya peningkatan kualitas mutu serta kuantitas yang membawa nama pendidikan telah dilakukan oleh pihak pemerintah, walau sampai saat ini kita belum melihat hasil dari usaha tersebut. e-Education, istilah ini mungkin masih asing bagi bangsa Indonesia. e-education (Electronic Education) ialah istilah penggunaan IT di bidang Pendidikan. Internet membuka sumber informasi yang tadinya susah diakses. Akses terhadap sumber informasi bukan menjadi masalah lagi. Perpustakaan merupakan salah satu sumber informasi yang mahal harganya. (Berapa banyak perpustakaan di Indonesia, dan bagaimana kualitasnya?) Adanya Internet memungkinkan seseorang di Indonesia untuk mengakses perpustakaan di Amerika Serikat berupa Digital Library. Sudah banyak cerita tentang pertolongan Internet dalam penelitian, tugas akhir. Tukar menukar informasi atau tanya jawab dengan pakar dapat dilakukan melalui Internet. Tanpa adanya Internet banyak tugas akhir dan thesis yang mungkin membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk diselesaikan.Ketidakefektifan adalah kata yang paling cocok untuk sistem ini, sebab seiring dengan perkembangan zaman, pertukaran informasi menjadi semakin cepat dan instan, namun institut yang masih menggunakan sistem tradisional ini mengajar (di jenjang sekolah tinggi kita anggap memberikan informasi) dengan sangat lambat dan tidak  seiring dengan perkembangan IT. Sistem konvensional ini seharusnya sudah ditinggalkan sejak ditemukannya media komunikasi multimedia. Karena sifat Internet yang dapat dihubungi setiap saat, artinya siswa dapat memanfaatkan program-program pendidikan yang disediakan di jaringan Internet kapan saja sesuai dengan waktu luang mereka sehingga kendala ruang dan waktu yang mereka hadapi untuk mencari sumber belajar dapat teratasi. Dengan perkembangan pesat di bidang teknologi telekomunikasi, multimedia, dan informasi; mendengarkan ceramah, mencatat di atas kertas sudah tentu ketinggalan jaman.

Contoh-contoh IT Dalam Dunia Pendidikan

Arti IT bagi dunia pendidikan seharusnya berarti tersedianya saluran atau sarana yang dapat dipakai untuk menyiarkan program pendidikan. Namun hal Pemanfaatan IT ini di Indonesia baru memasuki tahap mempelajari berbagai kemungkinan pengembangan dan penerapan IT untuk pendidikan memas uki milenium ketiga ini. Padahal penggunaan IT ini telah bukanlah suatu wacana yang asing di negeri yang sudah maju. Berikut ini ialah sampel-sampel dari luar negeri hasil revolusi dari system pendidikan yang berhasil memanfaatkan Teknologi Informasi untuk menunjang proses pembelajaran mereka:

IT Sebagai Media Pembelajaran Multimedia

Kerjasama antar pakar dan juga dengan mahasiswa yang letaknya berjauhan secara fisik dapat dilakukan dengan lebih mudah. Dahulu, seseorang harus berkelana atau berjalan jauh menempuh ruang dan waktu untuk menemui seorang pakar untuk mendiskusikan sebuah masalah. Saat ini hal ini dapat dilakukan dari rumah dengan mengirimkan email. Makalah dan penelitian dapat dilakukan dengan saling tukar menukar data melalui Internet, via email, ataupun dengan menggunakan mekanisme filesharring dan mailing list. Bayangkan apabila seorang mahasiswa di Sulawesi dapat berdiskusi masalah teknologi komputer dengan seorang pakar di universitas terkemuka di pulau Jawa. Mahasiswa dimanapun di Indonesia dapat mengakses pakar atau dosen yang terbaik di Indonesia dan bahkan di dunia. Batasan geografis bukan menjadi masalah lagi. Sharing information juga sangat dibutuhkan dalam bidang penelitian agar penelitian tidak berulang (reinvent the wheel). Hasil-hasil penelitian di perguruan tinggidan lembaga penelitian dapat digunakan bersama-sama sehingga mempercepat proses pengembangan ilmu dan teknologi. Virtual university merupakan sebuah aplikasi baru bagi Internet. Virtual university memiliki karakteristik yang scalable, yaitu dapatmenyediakan pendidikan yang diakses oleh orang banyak. Jika pendidikan hanyadilakukan dalam kelas biasa, berapa jumlah orang yang dapat ikut serta dalam satukelas? Jumlah peserta mungkin hanya dapat diisi 40 – 50 orang. Virtual university dapatdiakses oleh siapa saja, darimana saja. Penyedia layanan Virtual University ini adalahwww.ibuteledukasi.com . Mungkin sekarang ini Virtual University layanannya belumefektif karena teknologi yang masih minim. Namun diharapkan di masa depan VirtualUniversity ini dapat menggunakan teknologi yang lebih handal semisal VideoStreaming yang dimasa mendatang akan dihadirkan oleh ISP lokal, sehingga terciptasuatu sistem belajar mengajar yang efektif yang diimpi-impikan oleh setiap ahli IT didunia Pendidikan. Virtual School juga diharapkan untuk hadir pada jangka waktu satudasawarsa ke depan.Bagi Indonesia, manfaat-manfaat yang disebutkan di atas sudah dapat menjadialasan yang kuat untuk menjadikan Internet sebagai infrastruktur bidang pendidikan.Untuk merangkumkan manfaat Internet bagi bidang pendidikan di Indonesia: Akses keperpustakaan, akses ke pakar, melaksanakan kegiatan kuliah secara online, menyediakan layanan informasi akademik suatu institusi pendidikan, menyediakanfasilitas mesin pencari data, menyediakan fasilitas diskusi, menyediakan fasilitasdirektori alumni dan sekolah, menyediakan fasilitas kerjasama, dan lain – lain.

Kendala-Kendala Pengimplikasian di Indonesia

Jika memang IT dan Internet memiliki banyak manfaat, tentunya ingin kitagunakan secepatnya. Namun ada beberapa kendala di Indonesia yang menyebabkan ITdan Internet belum dapat digunakan seoptimal mungkin. Kesiapan pemerintahIndonesia masih patut dipertanyakan dalam hal ini. Salah satu penyebab utama adalahkurangnya ketersediaan sumber daya manusia, proses transformasi teknologi,infrastruktur telekomunikasi dan perangkat hukumnya yang mengaturnya. apakahinfrastruktur hukum yang melandasi operasional pendidikan di Indonesia cukupmemadai untuk menampung perkembangan baru berupa penerapan IT untuk pendidikanini. Sebab perlu diketahui bahwa Cyber Law belum diterapkan pada dunia Hukum diIndonesia. Selain itu masih terdapat kekurangan pada hal pengadaan infrastruterselenggaranya IT untuk pendidikan sementara penetrasi komputer (PC) di Indonesiamasih rendah. Biaya penggunaan jasa telekomunikasi juga masih mahal bahkan jaringantelepon masih belum tersedia di berbagai tempat di Indonesia.. Untuk itu perludipikirkan akses ke Internet tanpa melalui komputer pribadi di rumah. Sementara itutempat akses Internet dapat diperlebar jangkauannya melalui fasilitas di kampus,sekolahan, dan bahkan melalui warung Internet.Hal ini tentunya dihadapkan kembalikepada pihak pemerintah maupun pihak swasta; walaupun pada akhirnya terpulang juga

kepada pemerintah. Sebab pemerintahlah yang dapat menciptakan iklim kebijakan danregulasi yang kondusif bagi investasi swasta di bidang pendidikan. Namun sementarapemerintah sendiri masih demikian pelit untuk mengalokasikan dana untuk kebutuhanpendidikan. Saat ini baru Institut-institut pendidikan unggulan yang memiliki fasilitasuntuk mengakses jaringan IT yang memadai. Padahal masih banyak institut-institutpendidikan lainnya yang belum diperlengkapi dengan fasilitas IT.

Salah satu kendala terbesar yang dihadapi para guru dalam mengelola kelas ialah kesulitan mengajar siswa dalam jumlah besar, dengan latar belakang yang berbeda-beda. Tidak jarang guru menjadi stress, marah, dan ujung-ujungnya proses pembelajaran pun jadi berantakan. Sebenarnya, mengelola kelas yang besar tidaklah terlalu sulit jika kita tahu pendekatan yang tepat dalam membelajarkan siswa. Sebuah kelas dengan jumlah siswa yang banyak dan tingkat heterogenitasnya tinggi, jika dikelola dengan pendekatan yang tepat dapat menghasilkan sebuah komunitas pembelajar yang progresif dan efektif.  Salah satu pendekatan yang paling cocok dalam hal ini adalah model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning).

Cooperative Learning adalah sebuah pendekatan untuk mengorganisir aktivitas-aktivitas kelas ke dalam pengalaman-pengalaman akademik dan sosial. Pendekatan ini telah terbukti berhasil dalam penerapannya, dimana para siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil, dengan tingkat kemampuan yang berbeda-beda, memanfaatkan aktivitas-aktivitas belajar yang beragam untuk meningkatkan pemahaman mereka terhadap suatu pelajaran. Setiap anggota kelompok bertanggungjawab tidak hanya untuk mempelajari apa yang diajarkan guru, namun juga untuk membantu teman-teman dalam kelompoknya untuk belajar. Para siswa harus bekerja dalam kelompok untuk menyelesaikan tugas-tugas secara kolektif. Setiap anggota suatu kelompok dinyatakan berhasil jika kelompok tersebut berhasil.
Usaha-usaha bekerjasama dalam kelompok dalam pembelajaran kooperatif dapat menghasilkan benefit  bagi para siswa yang terdapat dalam sebuah kelompok, dimana semua anggota kelompok dapat:
a.    Memperoleh sesuatu dari usaha satu sama lain (keberhasilan saya menguntungkan kamu, dan keberhasilanmu menguntungkan saya)
b.    Menyadari bahwa semua anggota kelompok menjalani hal yang sama
c.    Mengetahui bahwa pencapaian seseorang  secara mutual disebabkan oleh dirinya sendiri dan anggota-anggota kelompoknya
d.    Merasa bangga dan merayakan keberhasilan seorang anggota kelompok sebagai keberhasilan bersama

Penelitian yang dilakukan para ahli dan praktisi pendidikan membuktikan bahwa teknik pembelajaran kooperatif membawa dampak positif sebagai berikut:
a.    Meningkatkan kualitas pembelajaran dan pencapaian akademik siswa
b.    Meningkatkan kemampuan siswa dalam mengingat
c.    Menambah kepuasan siswa terhadap pengalaman belajarnya
d.    Membantu siswa mengembangkan keterampilan berbicara  (oral skills) dalam berkomunikasi
e.    Mengembangkan keterampilan sosial siswa
f.    Mengangkat harga diri siswa
g.    Membantu memajukan hubungan antar ras yang positif

Cooperative Learning memiliki 5 elemen dasar yang memungkinkannya untuk membuahkan hasil yang lebih produktif ketimbang pendekatan lain yang sifatnya kompetitif dan individualistik. Kelima elemen tersebut ialah:
1.    Saling Ketergantungan Positif (Positive Interdependence)
Saling ketergantungan positif membuat setiap anggota kelompok merasa terhubung satu sama lain dalam proses menyelesaikan suatu tugas atau mencapai suatu tujuan. Usaha dari setiap anggota kelompok sangat dibutuhkan demi kesuksesan kelompok. Setiap anggota kelompok mempunyai sebuah kontribusi yang unik dalam upaya bersama berdasarkan peranannya,  kemampuannya, serta tanggung jawabnya.
Saling ketergantungan positif meliputi hal-hal sebagai berikut:
–    Tujuan, yaitu hasil yang diharapkan dari aktivitas
–    Insentif/dorongan, yaitu alasan mengapa sebuah kelompok harus menyelesaikan tugasnya
–    Sumber daya, yaitu bahan dan alat yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu tugas
–    Peranan, yaitu tugas yang diberikan kepada anggota kelompok untuk memastikan bahwa setiap anggota memberikan kontribusi
–    Sekuen, yaitu tahap-tahap atau langkah-langkah penyelesaian tugas
–    Simulasi, yaitu alternatif pola pikir yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan
–    Tekanan dari luar, yaitu sesuatu yang membatasi waktu atau sesuatu yang digunakan sebagai pendorong untuk pencapaian
–    Lingkungan, yaitu bahwa setiap anggota kelompok berada dalam kedekatan satu sama lain
–    Identitas, yaitu semua anggota kelompok terhubung dalam satu tim

2.    Interaksi Langsung (Face-to face Interaction)
Interaksi langsung merupakan sebuah bentuk interaksi dimana setiap anggota kelompok harus berpartisipasi dengan cara mengkomunikasikan atau mendiskusikan tujuan yang akan dicapai. Dalam interaksi ini para anggota kelompok menjelaskan secara lisan bagaimana memecahkan masalah, saling membagikan pengetahuan, saling mengecek tingkat pemahaman, mendiskusikan konsep-konsep yang sedang dipelajari, serta menghubungkan pembelajaran yang lalu dengan yang sekarang

3.    Pertanggungjawaban Individu dan Kelompok (Individual and Group Accountability)
Pertanggungjawaban individu dan kelompok berarti bahwa setiap anggota kelompok mempunyai tanggungjawab untuk dapat mendemonstrasikan pengetahuan dan pemahaman mengenai ekspektasi-ekpektasi akademik yang dipelajari dan tujuan-tujuan sosial. Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam poin ini yaitu:
–    Para siswa sebaiknya dibagi dalam kelompok-kelompok kecil, karena semakin kecil kelompoknya, akan semakin besar pertanggungjawaban individual yang dapat diberikan siswa
–    Tes individual perlu diberikan kepada setiap siswa
–    Guru perlu menguji siswa secara acak dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan lisan dengan memanggil satu atau dua orang siswa untuk mempresentasikan pekerjaan kelompoknya kepada guru atau seluruh kelas
–    Guru perlu mengobservasi setiap kelompok dan mencatat frekuensi dimana setiap anggota berkontribusi terhadap pekerjaan kelompok
–    Guru perlu menugaskan seorang anggota dalam setiap kelompok sebagai pengecek (checker). Checker menanyakan kepada anggota-anggota kelompok mengenai pokok-pokok gagasan yang menjadi jawaban kelompok.
–    Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengajarkan apa yang telah mereka pelajari kepada teman kelompoknya.

4.     Keterampilan Antarpibadi dan Kelompok Kecil (Interpersonal & Small-Group Skills)
Keterampilan antarpribadi dan kelompok kecil ini adalah keterampilan yang dibutuhkan sebelum atau dikembangkan selama proses bekerja kelompok. Keterampilan sosial yang harus diajarkan antara lain adalah:
–    Kepemimpinan
–    Membuat keputusan
–    Membangun kepercayaan
–    Komunikasi
–    Manajemen konflik

5.    Proses kelompok (Group Processing)
Dalam hal ini anggota-anggota kelompok mendiskusikan sebaik apa pencapaian mereka terhadap tujuan-tujuan mereka dan memelihara hubungan kerja yang efektif. Selain itu, secara bersama membuat keputusan mengenai perilaku-perilaku mana yang dapat diteruskan atau yang harus diubah, serta menjelaskan tindakan-tindakan yang dilakukan di dalam kelompok , mana yang berguna dan mana yang tidak.

Contoh-contoh aktivitas kelas yang menggunakan prinsip Cooperative Learning antara lain adalah:
A.    Jigsaw
Metode Jigsaw dalam menyusun pembelajaran kooperatif melibatkan pembagian informasi atau data ke dalam “potongan-potongan” terpisah yang menjadi satu keseluruhan. Karena keseluruhan dibangun dari potongan-potongan yang berbeda yang bersatu bersama, maka digunakanlah nama “Jigsaw”.
Ada beberapa variasi Metode Jigsaw. Dalam paragraph-paragraf di bawah ini dijelaskan dua struktur jigsaw yang paling umum.
Dalam kedua struktur ini, para murid adalah bagian dari sebuah kelompok dasar yang terdiri dari tiga atau empat murid. Setiap murid dalam kelompok dasar ini bertanggung jawab terhadap potongan-potongan informasi atau tugas yang berbeda-beda. Sebagai satu keseluruhan, kelompok ini harus menggabungkan menjadi satu “potongan-potongannya”, yang mana setiap anggota bertanggung jawab. Kelompok secara keseluruhan bertanggung jawab terhadap kombinasi informasi atau terhadap produk tunggal yang adalah kombinasi dari tugas-tugas yang berbeda-beda.
Dua variasi Metode Jigsaw ini dapat diilustrasikan dengan menggambarkan bagaimana sebuah cerita Alkitab dapat di “jigsaw” dengan dua cara.
Dalam variasi yang lebih sederhana, yang disebut “Simple Jigsaw” (Jigsaw Sederhana), setiap murid dalam kelompok dasar diminta membaca dan mencatat materi, misalnya sebuah cerita Alkitab, dalam porsi tertentu. Lalu kelompok itu bertemu dan setiap murid menceritakan ringkasan catatan mereka kepada teman-teman kelompoknya. Lalu kelompok itu me-review semua materi dan bertanggung jawab terhadapa materi tersebut dengan menjawab quiz, melakukan tugas, atau berpartisipasi dalam diskusi kelas.
Dalam variasi yang lebih rumit, yang disebut “Expert Jigsaw” (Jigsaw Ahli), murid-murid diberi tugas dalam kelompok dasar mereka seperti telah dijelaskan sebelumnya. Namun demikian, sebelum melaporkan kepada kelompok dasar mereka, murid-murid terlebih dahulu bertemu dengan 1,2, atau 3 murid dari kelompok lain yang diberi tugas dengan porsi yang sama dengan mereka. Dalam “kelompok expert” ini, murid-murid bekerja sama untuk menentukan apa yang akan dipresentasikan kepada kelompok dasar mereka dan mendiskusikan hal ini bersama-sama agar supaya menjadi “ahli (expert)”. Setiap murid kemudian mempresentasikan materinya kepad akelompok dasarnya yang akan bertanggung jawab terhadap materi tersebut seperti telah dijelaskan sebelumnya.
SARAN-SARAN PENGGUNAAN:

Cobalah men”jigsaw” sebuah lembar kerja, ayat-ayat hafalan, cerita-cerita Alkitab, masalah istilah-istilah dalam Matematika, me-review pertanyaan atau sebagian porsi dari buku teks.
B.    Berpikir-Berpasangan-Berbagi (Think-Pair-Share)
1.    Pengutaraan Masalah
2.    Waktu untuk Berpikir
3.    Kerja Berpasangan
4.    Berbagi dengan Seluruh Kelas

Dalam Berpikir-Berpasangan-Berbagi, sebuah pertanyaan diajukan, murid-murid berpikir sendiri tentang pertanyaan tersebut dalam waktu yang ditentukan, umumnya 30 detik sampai 1 menit, lalu membentuk pasangan-pasangan untuk mendiskusikan pertanyaan itu dengan seseorang di kelas. Selama waktu berbagi/sharing, murid-murid dipanggil ke depan untuk membagikan jawaban mereka kepada kelas sebagai satu keseluruhan.
Terkadang anda mungkin dapat meminta pertanggungjawaban murid-murid dalam mendengarkan partner mereka. Selama waktu berbagi/sharing, panggillah murid-murid untuk memberitahu jawaban yang mereka punyai dengan partner mereka.
C.    Berpikir-Berpasangan-Menyelesaikan (Think-Pair-Solve)
1.    Waktu untuk Berpikir
2.    Waktu untuk Berpasangan
3.    Kerja Menyelesaikan Masalah

Dengan mensubstitusi diskusi tim untuk langkah terakhir Berpikir-Berpasangan-Berbagi, tercipta sebuah struktur yang sama sekali berbeda. Murid-murid tetap menyelesaikan dua langkah berpikir pertama, lalu berbagi dengan salah seorang anggota lain dalam tim mereka, lalu keseluruhan tim berbagi bersama. Jika murid-murid mendiskusikan topik di dalam tim mereka, dan bukannya satu persatu murid berbagi dengan seluruh kelas, aka nada lebih banyak partisipasi aktif.
Jika murid-murid duduk dalam kelompok-kelompok, mudah untuk meminta murid-murid mendiskusikan sebuah topik, baik dalam pembukaan maupun kesimpulan yang anda buat. Contohnya, pada akhir pelajaran tentang Nuh dan air bah, anda dapat bertanya, “Mengapa Tuhan membinasakan seluruh bumi kecuali Nuh dan keluarganya? Pikirkanlah jawabannya, berbagilah dengan seorang partner dalam tim, lalu beritahukanlah jawaban-jawaban kalian pada seluruh anggota tim”.
D.    Numbered-Heads Together
Numbered-Heads Together adalah jawaban terhadap metode tradisional “Pertanyaan dan awabanSeluruh Kelas” yang digunakan guru untuk mengecek pengertian atau melakukan review singkat. Guru tidak menanyakan pertanyaan dan memanggil seorang siswa yang mengacungkan tangan, melainkan kegiatan Numbered-heads ini akan membuat seluruh kelas berpikir dan terlibat.

Numbered-Heads Together:
1.    Murid-murid diberi nomor
2.    Murid-murid berdiskusi
3.    Guru mengajukan  pertanyaan
4.    Guru memanggil sebuah nomor

EMPAT LANGKAH:
Numbered-Heads Together adalah struktur yang sederhana, terdiri dari empat langkah begitu para murid sudah berkumpul dalam kelompok-kelompok yang masing-masing terdiri dari empat murid.
1.    MURID DIBERI NOMOR
Murid diberi nomor satu sampai empat dalam setiap kelompok.Jika satu atau dua kelompok hanya punya tiga anggota, mereka harus bergiliran menjawab ketika nomor empat dipanggil.
2.    GURU MENGAJUKAN PERTANYAAN
Guru mengumumkan sebuah pertanyaan, dan, jika perlu, batasan waktu. Ini adalah waktu yang baik untuk menanyakan pertanyaan tentang aplikasi praktis dalam hidup mereka dari sebuah cerita Alkitab, daripada hanya menanyakan pertanyaan-pertanyaan faktual.
3.    MURID-MURID BERDISKUSI
Murid-murid,secara harafiah, mendekatkan kepala mereka dan berkumpul bersama untuk memastika setipa orang tahu jawabannya. Peran seorang “pengecek” bisa ditambahkan di sini agar supaya satu orang bertanggung jawab untuk memastikan setiap orang tahu jawabannya.
4.    GURU MEMANGGIL SEBUAH NOMOR
Guru memanggil sebuah nomor secara acak dan murid-murid di setiap kelompok yang mempunyai nomor tersebut mengangkat tangan (atau berdiri) jika mereka tahu jawabnnya dan guru memilih salah satu dari murid-murid itu untuk menjawab.

Variasi: Cobalah melempar dadu untuk membuat kegiatan Numbered-Heads ini seperti permainan dan juga anda tidak perlu mengingat-ingat nomor berapa yang sudah anda panggil terlalu sering.

Jika hanya ada sedikit tim yang punya murid yang mengangkat tangan (atau berdiri), anda dapat berkata “ Tidak cukup nomor_____yang mengangkat tangan; akan kuberi kalian satu menit lagi untuk memastikan semua nomor_____ tahu jawabannya”. Anda mungkin harus menata ulang pertanyaan supaya murid-murid lebih mengerti.
Jika ada beberapa bagian dalam jawaban, maka guru akan mendapatkan partisipasi yang lebih banyak dengan memanggil satu tim untuk menyebutkan satu bagian, tim lain untuk menyebutkan bagian yang lain, dan seterusnya.
Jika seorang murid memberi jawaban yang hanya benar sebagian, guru dapat bertanya, “Apakah ada nomor_____ lain yang dapat menambahkan sesuatu untuk jawaban itu?”

E.    Roundtable dan Roundrobin
Roundtable dan Roundrobin adalah struktur pembelajaran kooperatif sederhana yang dapat digunakan dengan subyek manapun. Roundtable paling banyak digunakan pada awal sebuah pelajaran untuk mengadakan aktivitas pembangunan tim yang berhubungan dengan isi pelajaran.
ROUNDTABLE
Langkah-langkah Roundtable (berurutan):
Langkah 1. Permasalahan. Guru menanyakan sebuah pertanyaan dengan banyak kemungkinan jawaban, misalnya sebutkan semua nama cabang olahraga yang kamu tahu, semua kitab dalam Alkitab (PL/PB), semua bagian kalimat, semua nama suku-suku asli.
Langkah 2. Kontribusi Murid. Murid-murid membuat sebuah daftar di secarik kertas, setiap anak menulis satu jawaban lalu meneruskan kertas tersebut kepada orang di sebelah kirinya. Kertas itu lalu berjalan mengelilingi meja, maka nama kegiatan ini-Roundtable (Meja Bundar)
Variasi: Struktur ini dapat digunakan dalam berbagai macam cara. Roundtable dapat dijalankan tidak dengan tekanan waktu atau dapat dibentuk dalam format perlombaan, dengan penghargaan yang diberikan pada tim yang mendapatkan jawaban paling banyak, atau dengan penghargaan terhadap tujuan kelas yang adalah hasil kontribusi seluruh tim. Adalah baik jika Roundtable dijalankan dalam berbagai macam cara. Jika aktivitas ini dijalankan sebagi perlombaan, mungkin ada baiknya untuk menyeimbangkan suasana kompetisi yang tercipta dengan menggunakan hanya sedikit atau tidak ada sama sekali tekanan waktu. Keefektifan Roundtable dan Roundrobin seringkali ada dalam proses kreasinya, bukan pada produk hasilnya.
Roundtable Serempak: Terkadang untuk jawaban-jawaban panjang atau ketika produk adalah tujuan, dua, tiga, atau bahakan empat kertas dapat disebarkan secara serempak. Sebagai contoh, sebuah Roundtable tentang Makanan Kelompok mungkin mempunyai kertas yang mewakili setiap kelompok makanan.
Roundtable Berpasangan: Murid-murid bekerja dalam pasangan dalam kelompok empat orang. Mereka meneruskan secarik kertas ke depan dan ke belakang, sambil menulis jawaban untuk persoalan yang memiliki banyak jawaban. Ketika waktu habis, mereka membandingkan jawaban-jawaban mereka dengan jawaban-jawaban pasangan lain dalam timnya. Mereka lalu menyimpulkan bahwa dua pasang pasangan lebih baik daripada hanya satu. Catatan: Roundtable berpasangan melipatgandakan partisipasi dibandingkan Roundtable Berurutan.
ROUNDROBIN
Roundrobin adalah rekan penyeimbang oral dari Roundtable: murid-murid cukup bergiliran menyatakan pendapat, tanpa perlu mencatat. Roundrobin dapat digunakan untuk anak-anak yang masih terlalu kecil untuk menulis; atau ketika tujuannya adalah partisipasi dan bukan produk. Roundrobin untuk murid-murid yang lebih besar disebut Shareround (Berbagi Berkeliling).
PENGAPLIKASIAN
Secara informal, Roundtable dan Roundrobin seringkali dapat digunakan sebagai aktivitas satu-kali untuk mengenalkan atau menyediakan materi awal untuk sebuah pelajaran Alkitab. Ketika kekurangan lembar kerja, murid-murid dapat bergiliran berkontribusi dalam satu lembar kerja per kelompok. Pada usia yang sangat muda, aktivitas ini dapat berarti setiap anak menandai satu huruf diantara banyak huruf atau memasukkan sebuah barang ke dalam keranjang yang dikelilingkan di meja.

Hasil: Tim-tim bekerjasama ketika melakukan Roundtable/Roundrobin. Sikap membantu meningkat. Kegiatan ini mendorong partisipasi dari murid-murid yang pemalu. Mengikuti Roundtable/Roundrobin, murid-murid cenderung mencari partisipasi dari seluruh anggota, bahkan dalam situasi-situasi dimana partisipasi penuh tidak direncanakan. Roundtable dan Roundrobin sangatlah efektif dalam menciptakan identifikasi tim yang posotif dan kemauan untuk bekerja dalam tim.

Models of Teaching, Dr. Phill Basset, 2008

– Kagan, Spencer. Cooperative Learning. San Clemente, CA: Kagan Publishing, 1994

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s