SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) DAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN

SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)

DAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN

 

Oleh. Ni Wayan sardani

Guru SMA Negeri 1 Kuta Utara

I.  PENDAHULUAN

Permasalahan utama pendidikan ( termasuk SMA ) di Indonesia saat ini antara lain terjadinya disparitas/keragaman mutu pendidikan khususnya yang berkaitan dengan : 1) ketersediaan pendidik dan tenaga kependidikan yang belum memadai baik secara kuantitas, kualitas, maupun kesejahteraannya,  2) sarana prasarana belajar yang belum memenuhi kebutuhan, jika tersediapun belum didayagunakan secara optimal, 3) pendanaan pendidikan yang belum memadai untuk menunjang mutu pembelajaran, 4) proses pembelajaran yang belum efektif dan efisien; dan penyebaran sekolah yang belum merata, ditandai dengan belum meratanya partisipasi pendidikan antara kelompok masyarakat, seperti masih terdapatnya kesenjangan antara penduduk kaya dan miskin, kota dan desa, laki-laki dan perempuan, antarwilayah. Permasalahan tersebut di atas menjadi bertambah parah, jika tidak didukung dengan komponen utama pendidikan seperti kurikulum, sumberdaya manusia pendidikan yang berkualitas, sarana dan prasarana, serta  pembiayaan.

Kurikulum merupakan elemen strategis dalam sebuah layanan program pendidikan. Ia adalah ’cetak biru’ (blue print) atau acuan bagi segenap pihak yang terkait dengan penyelenggaraan program. Dalam konteks ini dapatlah dikatakan bahwa kurikulum yang baik semestinya akan menghasilkan proses dan produk pendidikan yang baik. Sebaliknya, kurikulum yang buruk akan membuahkan proses dan hasil pendidikan yang juga jelek. Persoalannya,  hubungan antara kurikulum (sebagai rencana atau doku-men) dengan proses dan hasil pendidikan (kurikulum sebagai aksi dan produk) tidaklah bersifat linear. Terlalu banyak faktor yang mempengaruhinya. Pertama, sebagai suatu sistem, mutu sebuah kurikulum akan ditentukan oleh proses  perancangan, pengembangan, pelaksanaan, dan evaluasinya. Kedua, secara programatik, kualitas sebuah kurikulum ditentukan oleh kesanggupannya dalam mempertanggungjawabkan pelbagai keputusan yang diambil, baik secara keilmuan, moral, sosial, dan praktikal. Ketiga, secara pragmatik, nilai sebuah kurikulum ditentukan oleh kemampuannya dalam memberikan layanan pendidikan yang dapat mendorong peserta didik untuk dapat mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan, baik oleh peserta didik sendiri maupun oleh masyarakat dan sistem sosial.

Dari perspektif manajemen mutu terpadu (Total quality management) yang telah lama diterapkan dalam mengelola lembaga pendidikan, dimana pendidikan adalah jasa layanan. Sebagai sebuah jasa layanan, keberhasilan suatu program pendidikan ditentukan oleh kesanggupannya dalam memenuhi kepuasan pengguna (customer satisfaction). Indikator kepuasan itu, demikian dinyatakan ahli manajemen mutu seperti Deming dan Juran,  ditetapkan oleh kesanggupan layanan pendidikan dalam memenuhi harapan, keinginan, dan kebutuhan pengguna (peserta didik dan pemangku kepentingan). Itu berarti, kurikulum yang baik adalah kurikulum yang berorientasi akhir pada kebutuhan dan kepuasan pengguna.

Belajar dari kondisi tersebut, solusi pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah menerbitkan UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang tercermin dalam rumusan Visi dan Misi pendidikan nasional. Visi pendidikan nasional adalah mewujudkan sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Sedangkan misinya adalah: 1) mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia; 2) meningkatkan mutu pendidikan yang memiliki daya saing di tingkat regional, nasional, dan internasional; 3) meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan global; 4) membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar; 5) meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral; 6) meningkatkan profesionalisme dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sikap, dan nilai berdasarkan standar yang bersifat nasional dan global; dan 7) mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Standar nasional pendidikan sebagai penjabaran visi dan misi pendidikan nasional tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pada dasarnya Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Standar Nasional Pendidikan memuat kriteria minimal tentang komponen pendidikan yang memungkinkan setiap jenjang dan jalur pendidikan untuk mengembangkan pendidikan secara optimal sesuai dengan karakteristik dan kekhasan programnya. Lingkup Standar Nasional Pendidikan meliputi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Selain itu, standar nasional pendidikan juga dimaksudkan sebagai perangkat untuk mendorong terwujudnya transparansi dan akuntabilitas publik dalam penyelenggaraan sistem pendidikan nasional.

II.  KARAKTERISTIK  SMA

 

a.  Tujuan SMA  

Pasal 18 ayat (1) dan pasal 15 Penjelasan UU UU RI Nomor 20 Tahun 2003 menyatakan bahwa pendidikan pada level SMA bertujuan meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, keterampilan untuk hidup mandiri, serta mengikuti pendidikan lebih lanjut. Tujuan itu secara spesifik dijabarkan oleh Peraturan Mendiknas Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang menjelaskan adanya 23 SKL yang harus dikuasai oleh siswa pada satuan pendidikan SMA. Dari perspektif ini, SMA merupakan sekolah menengah yang sejajar dengan Gymnasium di Jerman, Voortgezet Wetenschappelijk Onderwijs (VWO) di Belanda, Baccalauret di Prancis, A-Level di Inggris, dan Prep-Highscool di AS. Semua jenis sekolah tersebut mempersyaratkan penguasaan kemampuan akademik yang tinggi untuk mempersiapkan lulusannya memasuki dunia perguruan tinggi. Tak heran, jika jumlah siswa yang masuk jenis sekolah tersebut tak lebih dari 30 persen. Bagi mereka yang tidak cukup pandai untuk masuk Gymnasium, VWO, dan semacamnya, juga tidak mampu atau berminat masuk sekolah kejuruan, pemerintah telah menyiapkan Realschule di Jerman, Hoger Algeemen Vormend Onderwijs (HAVO) di belanda, O-Level di Inggris, dan Nonprep-Highschool di AS. Lulusan sekolah menengah tersebut tidak dapat melanjutkan ke perguruan tinggi umum, tetapi  bisa ke perguruan tinggi kejuruan (Drost, 1998) Secara yuridis-formal orientasi dan posisi SMA di Indonesia tidak jauh berbeda dari Gymnasium, VWO, dsb. Tetapi, dalam tataran praksis terjadi inkonsistensi yang luar biasa, misalnya, pada hal-hal sebagai berikut :

  • Tak ada seleksi khusus yang mendorong siswa untuk memilih SMA
  • Pada kelas XI, siswa akan diseleksi untuk masuk ke jurusan-jurusan yang ada di SMA.  Tindakan seleksi dan penjurusan itu seyogyanya didasarkan atas uji kemampuan akademik dan pertimbangan minat/bakat yang ketat. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa seleksi ketat dalam penjurusan cenderung hanya dilakukan terhadap siswa yang akan ditempatkan pada jurusan IPA.  Siswa yang tidak masuk jurusan IPA dikelompokkan ke jurusan IPS dan Bahasa.  Tak ada siswa yang tidak lulus pada saat penjurusan IPA, IPS atau Bahasa. Perilaku tersebut menimbulkan stereotip bahwa siswa pada jurusan IPA lebih serius, lebih unggul, dan lebih superior secara akademik daripada siswa  jurusan IPS dan Bahasa.
  • Kenaikan kelas yang semestinya dilakukan melalui seleksi akademik yang ketat, juga sangat longgar. Asal tidak terlalu parah perilaku dan kemampuan akademiknya, semua siswa dipastikan akan naik kelas. Tak ada siswa yang dianulir dari SMA karena lemahnya kemampuan akademik mereka. Fenomena tersebut menimbulkan pertanyaan, ”Mau dibawa ke mana pendidikan menengah umum?” Begitu jauh ketidaktaatasasan yang terjadi antara tujuan yang ditetapkan dalam dokumen yuridis dengan kenyataan di lapangan. Keadaan itu pada gilirannya menimbulkan persoalan dan implikasi berikut:
  • Secara sistem, kebijakan pendidikan di Indonesia belum memberikan ’ruang khusus dan

proporsional’ bagi perbedaan lulusan SMA dan SMK di satu sisi, serta keragaman

kesanggupan ekonomi masyarakat di sisi lain. Ini berarti pemikiran dan perencanaan

pendidikan menengah di Indonesia belum tertangani secara holistik, terpadu, dan sistemik.

  • Rendahnya siswa lulusan SMA yang melanjutkan ke perguruan tinggi, sehingga memerlukan reorientasi dan penataan kembali arah dan kebijakan sistemik dalam penyediaan layanan pendidikan.

 b.  Muatan pendidikan SMA 

Tugas utama sekolah ialah membantu peserta didik untuk menemukan, mengembangkan, dan membangun kemampuan yang akan menjadikannya berkesanggupan secara efektif menunaikan tugas-tugas individu dan sosialnya pada saat ini dan saat mendatang. Untuk mencapai tugas tersebut, maka layanan pendidikan sekolah akan bersentuhan dengan pelbagai jenis pengetahuan yang tergambar dalam kurikulum. Pada era merebaknya Latin Grammar School di AS dan Inggris, tujuan pendidikan seperti itu diwujudkan dalam bentuk divisi-divisi pelajaran klasik (classical subjects) seperti Bahasa Latin atau Bahasa Yunani, Matematika, dan Sain, yang kemudian dilengkapi oleh Benjamin Franklin dengan Bahasa Inggris dan bidang filsafat, termasuk seni. Pada tahun 1890-an The Committee of Ten dari National Education Association merekomendasikan sembilan bidang kajian untuk SMA, yang terdiri dari: (1) Bahasa Latin, (2) Bahasa Yunani, (3) Bahasa Inggris, (4) bahasa modern negara lain, (5) Matematika, (6) Fisika, Astronomi, dan Kimia, (7) Sejarah Alam (natural history), (8)  Sejarah, Pemerintahan, dan Ekonomi-Politik, serta (9) Geografi. Memperhatatikan pelbagai perkembangan yang terjadi, tahun 1911 The Committee of  Nine dari National Education Association memperluas substansi SMA dengan menambahkan muatan yang dapat mendorong peserta didik menjadi warga negara yang berkomitmen terhadap nilai-nilai dan berkontribusi terhadap persoalan negara (socially efficient). Pada tahun 1918, Commision on the Reorganization of Secondary Education dari National Education Association memperluas misi dan cakupan SMA yang dikemas ke dalam model comprehensive high school yang hingga kini dominan di AS. Model ini diharapkan dapat mengakomodasi kebutuhan dan minat siswa yang beragam. Bertolak dari harapan itu, lahirlah cardinal principles of secondary school yang menekankan tujuan SMA pada: (1) health, (2) command of fundamental process, (3) worthy home membership, (4) vocational preparation, (5) citizenship, (6) worthy use of leisure time, dan (7) ethical character.  Munculnya gagasan tentang comprehensive high school paling tidak dipicu oleh tiga hal: (1) kebutuhan mempertahankan jati diri dan nilai-nilai yang dianut oleh bangsa dan negara AS, yang diwujudkan melalui mata pelajaran baru kewarganegaraan (civics), (2) pengaruh kuat dari progresivisme John Dewey, serta (3) terpatrinya keyakinan   bahwa SMA merupakan perluasan dan kelanjutan logis dari program pendidikan SD dan SMP (Hass, 1977;  Hunkins, 1980; Armstrong &  Savage, 1983; Oliva, 1988). Selanjutnya, muatan akademik SMA pun berkembang menjadi seperti yang umumnya digunakan sekarang ini, termasuk dalam SMA di Indonesia.  Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, SMA bertujuan membekali anak didik dengan kemampuan akademik untuk dapat melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi.  Karena tujuan SMA seperti itu, maka pertama, substansi pendidikan harus memiliki muatan akademik yang solid dan komprehensif.  Peserta didik harus dibekali dengan kerangka dan dasar disiplin ilmu yang kuat serta kemampuan belajar secara mandiri, sehingga mereka akan dapat memahami perkembangan ilmu pengetahuan yang terjadi. Kedua yang perlu diperhatikan dalam menentukan muatan SMA ialah masyarakat atau lingkungan. Peserta didik tidak hidup steril di menara gading. Mereka berhadapan dengan sistem mikro dan makro sosial. Sekolah merupakan bentuk mikro dari sebuah suprasistem sosial makro. Di sekolah siswa  berkomunikasi, bergaul, beraktualisasi, dan berhadapan dengan masalah. Pun ketika usai kegiatan belajar di sekolah, mereka berhadapan langsung dengan kenyataan sosial yang lebih luas, yang ada, mengada, dan mengemuka dengan segala kedinamisan dan kompleksitasnya. Sebagai mahluk hidup, mereka tumbuh-kembang dalam suatu lingkungan yang sarat nilai. Peserta didik tentu memerlukan bekal agar dapat hidup dan menghadapi kehidupan dengan layak pada masanya. Oleh karena itu, betapa pun akademiknya muatan SMA, ia tetap harus membekali siswanya secara cukup dengan kemampuan hidup dan menghadapi kehidupan (life skill).  Life skill tersebut terdiri dari: (1) kesadaran diri (personal skill), (2) kecakapan berpikir (intellectual skill), serta (3) kecakapan generik, yang berkaitan dengan kesanggupan menghadapi persoalan-persoalan lingkungan dan sosial.   Ketiga, unsur lain yang perlu diperhatikan dalam menentukan muatan SMA ialah hakikat pembelajar. Peserta didik SMA adalah manusia multidimensi yang dibalut oleh  perkembangan fisik, mental-spiritual, sosial, dan intelektual yang khas, yang membedakan dirinya atau kelompok mereka dari individu dan kelompok lain. Kekhasan peserta didik SMA ini tentu saja berimplikasi secara luas terhadap filosofi, tujuan, pemilihan dan pencakupan, pengorganisasian dan penekanan subtansi, serta tata pembelajarannya. Dari sisi ini, maka substansi SMA harus mencakup seluruh dimensi kemanusiaan peserta didik. Pendeknya, sesuai dengan tujuannya, substansi SMA memang akan sarat dengan dimensi akademik.  Namun, istilah akademik ini hendaknya tidak dimaknai secara sempit hanya sekedar ranah kognitif. Apalagi hanya sekedar penguasaan-penguasaan informasi yang melibatkan daya pikir rendah. Istilah akademik di sini memuat perangkat kesanggupan multidimensi (kognitif, psiko-sosial, spiritual, dan psikomotor) yang dapat  menopang penguasaan substansi dan kerangka keilmuan, serta kemampuan yang menimbulkan citra akademik pada diri siswa. Menyitir apa yang disampaikan oleh Gagne, Briggs, dan Wager (1992), sub-stansi pendidikan SMA harus dapat melahirkan pengembangan lima kemampu-an (capabilities) peserta didik. Kelima kemampuan itu berkaitan dengan kemam-puan intelektual, strategi kognitif, penguasaan informasi  verbal, keterampilan motorik, dan kemampuan sikap. Penulis memaknai sikap di sini dalam pers-pektif bukan hanya sebatas dengan hubungan intra- dan antarpersonal semata,  tetapi juga sikap dan perilaku spiritual yang melandasi seluruh kemampuan tersebut.

 

III.  TANTANGAN DAN TUNTUTAN TERHADAP SMA

a.  Tantangan zaman

Dinamika pada era milenium III ini ditandai oleh fenomena globalisasi. Fenomena ini membuat banyak negara di dunia, khususnya negara berkembang dan miskin, dihinggapi oleh kecemasan dan kepanikan. Perkembangan masyarakat atau sistem dunia dan modernisasi kian tak terbendung. Fenomena kekuatan globalisasi yang umumnya dihasilkan dan dipetik manfaatnya oleh negara maju, menjadi ‘bom waktu’ bagi negara-negara berkembang. Menghadapi keadaan tersebut, hanya dua pilihan yang dapat diambil. Pilihan itu ialah   menyerah dan membiarkan diri tergerus oleh arus globalisasi, atau secara cerdik mengambil manfaat dari proses globalisasi. Jika pilihan kedua yang diambil, maka kita harus memiliki kesiapan memasuki the world systems tersebut. Itu berarti, perlu dilakukan persiapan dan penataan  berbagai  perang-kat yang dimiliki agar dapat menghadapi era tersebut dengan baik. Kunci kebertahanan dan keberjayaan suatu bangsa atau negara dalam era of human capital atau knowledge society ini terletak pada kualitas sumber daya manusia. Para ahli menjelaskan kecenderungan yang akan diwarnai oleh berbagai kecenderungan  berikut (Miller & Seller, 1985; Thurrow, 1992; UNESCO, 1996; Sindhunata, Ed., 2000; Buchori, 2001; Azra, 2002; Bahgwati, 2004). Pertama, terjadinya kecenderungan untuk berintegrasi dalam kehidupan ekonomi. Bagi negara-negara maju, integrasi ekonomi tersebut akan  melahirkan persekutuan dan kekuatan baru yang dapat mempengaruhi dan mengendalikan modal, perdagangan, dan perpolitikan dunia. Kedua, kemajuan yang sangat pesat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mengubah secara radikal situasi dalam pasar tenaga kerja. Ketiga, proses indutrialisasi dalam ekonomi dunia makin mengarah pada teknologi tingkat tinggi. Keempat,  akibat dari globalisasi informasi akan menimbulkan  gaya hidup  baru dengan segala eksesnya. Globalisasi memang menjanjikan kemudahan. Kelima, terjadinya kesenjangan antara peningkatan angka pertumbuhan penduduk serta keseimbangan jumlah  penduduk usia tua dengan usia muda di satu sisi, dengan kesiapan negara dalam menanganinya di sisi lain.

Pelbagai fenomena perkembangan zaman itu mau tidak mau akan berpengaruh terhadap/dan harus diakomodasi oleh dunia pendidikan, terma-suk SMA. Perubahan yang sedang dan akan terjadi harus menjadi pijakan bagi SMA untuk menata kembali arah dan sosok eksistensinya. Sebab, bila tidak, maka SMA hanya akan menghasilkan manusia-manusia berijasah, tetapi lemah tak berdaya dan tak berarti apa-apa. Jika  itu terjadi, maka tepatlah apa yang dikatakan Ivan Illich bahwa sekolah  telah menemui kematiannya. Dan produk didik hanyalah ‘mayat-mayat berjalan’ yang tak memiliki energi masa depan.

b.  Tuntutan terhadap SMA 

Keberadaan SMA merupakan jembatan strategis bagi pembekalan dan pengembangan individu untuk dapat meraih hari esok yang lebih baik. Sebagaimana dipahami bersama, para siswa SMA adalah  para remaja yang begitu lulus sekolah akan memasuki fase kritis ambang dunia orang dewasa. Kualitas pengalaman belajar yang diperoleh di SMA akan sangat menentukan keberhasilan mereka dalam menempuh jenjang pendidikan tinggidan kehidupan selanjutnya.  Atas dasar itu, SMA memang harus terus berubah. Tetapi, perubahan itu tidak boleh superficial, tambal sulam, dan hanya berada pada tataran sistem operasi. Perubahan itu harus bersifat sistemik, integratif, dan holistik. Oleh karena itu pula, sudah saatnya untuk dilakukan  reorientasi dan penataan menyeluruh terhadap dunia SMA. Upaya itu dimaksudkan agar pendidikan dan keluarannya selalu dapat memperbaharui diri dalam menghadapi berbagai perubahan yang sedang dan akan terjadi. Dengan memperhatikan karakteristik SMA dan tantangan yang akan dihadapi lulusannya kelak, maka gambaran ideal tentang pendidikan pada SMA  dapat ditinjau dari pelbagai  segi, seperti tujuan, substansi, dan delivery system.

Pendidikan menengah  umum (SMA) di Indonesia merupakan jenis dan jenjang pendidikan lanjut dari pendidikan dasar, dalam hal ini SMP, serta sekaligus sebagai program intermediate yang membekali dan mempersiapkan peserta didik untuk dapat melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Berdasarkan tujuan tersebut, maka corak dan substansi pendidikan pada level SMA akan diwarnai secara kental dengan muatan akademik.  Pemilikan  kerangka dasar keilmuan yang solid dan komprehensif  memungkinkan peserta didik dapat mengikuti, mempelajari, dan mengembangkannya lebih lanjut dalam konteks keilmuan yang lebih khusus dan kompleks. Tujuan inti tersebut dibingkai dalam suatu tujuan utuh yang menjadikan peserta didik dapat memiliki wawasan, sikap, dan keterampilan untuk hidup sebagai pribadi dan warga sosial yang agamis, aktif, kritis, kreatif, produktif, dan bermakna.

Dengan memperhatikan tujuan SMA tersebut, muatan pendidikan harus menekankan pada pembentukan dan pengembangan peserta didik sebagai sinatria saintis pinandita. Maksudnya, sinatria mengacu pada pemilikan pribadi yang sehat, seimbang, bersemangat, antusias, sportif, berani, tidak mudah menerima dan menyerah, serta rela berkorban untuk berdarma bakti dalam menegakkan kebenaran, keluhuran, serta keadilan dalam peri kehidupan yang bermartabat. Saintis merepresentasikan sikap dan kemampuan ilmuwan yang cerdas, kreatif, kritis, dinamis, dan tak pernah berhenti untuk menemukan dan membangun pengetahuan baru. Pinandita menggambarkan sosok pribadi yang arif, bermakna, menerangi, dan berbuat apa pun bagi kemaslahatan diri dan orang lain dalam bingkai ajaran spiritualitas-keagamaan yang diyakininya. Dengan ungkapan lain,  pendidikan pada SMA harus dapat mempersiapkan peserta didik untuk dapat: (a) membangun dan mengembangkan sikap dan substansi keilmuan secara terus menerus (knowledge constructor and developer), (b) mengarungi kehidupan (to make leaving), (c) mengembangkan kehidupan yang bermakna, serta (d) memuliakan kehidupan itu sendiri (to ennoble life). Untuk mencapai kesanggupan tersebut, Philip H. Phenix dalam bukunya Realms of Meaning (1964, dalam Buchori, 2001),  menyatakan sebagai berikut:

1)      Pendidikan harus dapat memfasilitasi tumbuh-kembangnya kemampuan yang bermakna. Pengetahuan yang tak bermakna hanya menyia-nyiakan hidup anak karena  tidak berguna dan menjadi beban hidupnya. Sebaliknya, pengetahuan yang bermakna merupakan sesuatu yang fungsional, yang akan bermanfaat bagi hidup anak.

2)      Dalam wilayah pendidikan terdapat enam jenis wilayah makna, yaitu makna: simbolik, empirik, estetik, sinutik, etik, dan sinoptik. Pemahaman makna simbolik diungkapkan melalui pendidikan bahasa (termasuk bahasa asing), matematika, dan nondiscursive system; makna empirik disediakan melalui pendidikan lingkungan fisik (fisika, kimia, biologi), lingkungan sosial, dan lingkungan budaya;  makna estetik diajarkan melalui seni (seni suara, musik, gambar, dan gerak); makna sinutik (pengetahuan personal dan   pemahaman antarsubjektivitas) disajikan melalui karya sastra drama dan bahasan film atau pelbagai jenis cerita lain; makna etik ditanamkan melalui pendidikan sosial dan kewarganegaraan, serta makna sinoptik yang diinternalisasikan melalui pelajaran filsafat, sejarah, dan agama. Keenam makna itu pada dasarnya merupa-kan satu kesatuan interaktif yang saling terkait dan mempengaruhi. Bukan sebagai elemen-elemen yang terpisah secara linear dan diskrit. 

Dengan memperhatikan tantangan, karakteristik, serta tuntutan terhadap tujuan dan  peserta didik, maka implementasi pendidikan pada SMA hendaknya bertolak dari paradigma berikut:

1)      Berorientasi pada kebutuhan hidup nyata

Pemikiran  ini memiliki implikasi berikut terhadap penyelenggaraan pendidikan.

a)      Inti dalam pendidikan adalah menemukan dan memahami makna ilmu dan kehidupan itu sendiri. Pengetahuan yang bermakna bukan sekedar penguasaan fakta-fakta, melainkan juga berupa dasar-dasar keilmuan yang kukuh dan menyeluruh serta terkait dengan/dan dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.

b)      Kehidupan bukan melulu persoalan fisik-materiil, tetapi juga masalah psikis-spiritual dan sosial. Oleh karena itu, pendidikan harus dapat menyentuh multidimensi kemanusiaan peserta didik secara utuh dan seimbang.

2)      Beorientasi pada belajar seumur hidup 

Kehidupan itu selalu berubah, terlebih lagi pada era global ini. Pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh peserta didik sebelumnya, bisa jadi akan segera usang dan imun ketika dihadapkan pada pelbagai perubahan yang terjadi. Keadaan itu menuntut manusia untuk dapat memperbaharui dirinya secara terus menerus melalui belajar, termasuk pendidikan dan pelatihan kembali (reeducation and retrained). Oleh karena itu, dunia pendidikan perlu membekali peserta didik dengan kemampuan belajar yang tinggi agar mereka berkesanggupan untuk  menjadi pebelajar seumur hidup. Kesanggupan individu itu pada akhirnya akan membentuk masyarakat pebelajar (learners community) atau komunitas pendidikan (educational community), yang akan menjadi bagian dari masyarakat madani (civil society) sebagai kekuatan penopang  dalam menentukan martabat suatu bangsa dan negara.

3)      Berorientasi pada makna

Dalam Learning: The Treasure Within, Unesco (1996) menyatakan bahwa hakikat pendidikan adalah belajar. Dengan demikian, layanan pendidikan harus dilakukan untuk mencapai adanya lima pilar belajar berikut.

  • Belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  • Belajar untuk memahami dan menghayati, yang terjadi tidak hanya di sekolah tetapi sepanjang hidup (learning to know).
  • Belajar untuk dapat menerapkan secara efektif apa yang telah dipahami, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam dunia kerja (learning to do).
  • Belajar untuk menemukan dan membangun jati diri menjadi manusia yang produktif, utuh, dan bermakna (learning to be).
    • Belajar untuk sanggup hidup bersama secara damai dengan prinsip-prinsip saling membantu, saling menghormati hak-hak orang lain, dan saling menjaga, baik dalam kapasitasnya sebagai penduduk suatu negara maupun sebagai warga dunia (learning to live together).

4)      Beorientasi pada keutuhan dan keunikan peserta didik

 

Kehidupan memiliki dimensi dan tantangan yang kompleks.  Keberhasilan hidup tak cuma ditentukan oleh ketinggian intelegensia. Dari penelitian yang dilakukan oleh  Utami Munandar dan tim dari Fakultas Psikologi UI pada tahun 80-an menunjukkan betapa banyak anak yang jenius gagal dalam belajar dan bidang kehidupan lainnya. Umumnya orang-orang besar dan manajer yang berhasil bukan karena kejenialan yang mereka memiliki, melainkan karena kecerdasan dalam mengendalikan emosi dirinya. Oleh karena itu, pendidikan harus  memberikan perhatian yang seimbang terha-dap aspek kognitif, sosio-emosional, spiritual, dan psikomotor.

5)      Beorientasi pada proses dan hasil

 

Dalam perpektif konstruktivisme, kegiatan belajar merupakan sebuah proses aktif dan interaktif yang mendorong siswa untuk menemukan, mengolah, dan membangun pengetahuannya sendiri dengan bantuan dari lingkungan, yang disebut scaffolder. Tyler (1949) pun menyatakan bahwa pengalaman belajar merupakan sebuah proses penting yang harus dilalui peserta didik untuk dapat memperoleh hasil belajar yang bermakna.  Tanpa proses yang berkualitas, sulit akan dapat dihasilkan produk belajar yang bermutu.Dalam perspektif ini, proses dan hasil belajar sama pentingnya. Pembelajaran yang melulu hanya berfokus pada hasil akan membuahkan internalisasi kegiatan belajar yang dangkal dan sikap instan atau tidak sabar dalam meraih sesuatu, serta pelbagai dampak negatif lainnya. Begitu pula halnya, belajar yang hanya berfokus pada proses akan menjadikan peserta didik kurang terfokus serta tak terbiasa efisien dalam mencapai sebuah tujuan.

IV.  STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN PADA JENJANG SMA

Tujuan pendidikan tidak hanya mengembangkan potensi peserta didik menjadi manusia  berilmu, cakap, dan kreatif saja tetapi juga sehat, mandiri, demokratis, bertanggung jawab, serta berakhlak mulia. Untuk mewujudkan tujuan ini Pemerintah menetapkan standar nasional pendidikan yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Dalam peraturan pemeriintah ini  dijelaskan bahwa Standar Nasional Pendidikan meliputi: (1) standar isi, (2) standar kompetensi lulusan, (3) standar proses (4) standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5) standar sarana dan prasarana, (6) standar pengelolaan, (7) standar pembiayaan, dan (8) standar penilaian pendidikan. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan  pasal 11 menjelaskan bahwa beban belajar untuk SMA/MA/SMLB, SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat pada jalur pendidikan formal kategori mandiri dinyatakan dalam satuan kredit semester (sks). Beban belajar minimal dan maksimal bagi satuan pendidikan yang menerapkan Sistem Kredit Semester (SKS) ditetapkan oleh Peraturan Menteri berdasarkan usul dari Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Pada ayat ini dijelaskan bahwa sekolah khususnya SMA dikelompokkan menjadi dua  kategori, yaitu sekolah kategori standar dan sekolah kategori mandiri. Pengkategorian ini didasarkan pada tingkat terpenuhinya Standar Nasional Pendidikan. Pelevelan tersebut didasarkan pada tingkat pemenuhan Standar Nasional Pendidikan. Hal tersebut dilakukan untuk memudahkan pelaksanaan pembinaan baik oleh Pusat maupun Daerah, dan penyusunan program kerja oleh sekolah. Pelevelan tersebut adalah:

1). SMA kategori standar I    =   x ≤ 30 %

2). SMA kategori standar II   =  30 % < x ≤ 50 %

3). SMA kategori standar III  =  50 % < x ≤ 75 %

4). SMA kategori mandiri I    =   75 % < x ≤ 100 % (hampir memenuhi Standar Nasional

Pendidikan)

5). SMA kategori mandiri II ≥ 100,00% (memenuhi/melampaui Standar Nasional Pendidikan)

Dimana x = Standar Nasional Pendidikan (8 standar).

Delapan  Standar Nasional Pendidikan yang dimaksud adalah :

1).     Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan

SMA memiliki dokumen Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang memuat komponen yang dipersyaratkan dan telah disahkan oleh Dinas Pendidikan Provinsi. Pengembangan KTSP mengacu pada SI dan SKL dan berpedoman pada panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP, serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah. Penyusunan KTSP dilakukan secara mandiri dengan membentuk Tim KTSP. Komponen KTSP memuat tentang visi, misi, tujuan, dan struktur dan muatan KTSP. KTSP juga dilengkapi dengan silabus yang penyusunannya melibatkan seluruh guru dari sekolah yang bersangkutan. KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus. Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi , kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang dikembangkan oleh masing-masing sekolah  seharusnya berbasis kompetensi. Menurut Wilson (2001) paradigma pendidikan berbasis kompetensi yang mencakup kurikulum, pedagogi, dan penilaian menekankan pada standar atau hasil. Hasil belajar yang berupa kompetensi dicapai peserta didik melalui proses pembelajaran yang dilaksanakan dengan menggunakan pedagogi yang mencakup strategi mengajar atau metode mengajar. Tingkat keberhasilan pembelajaran yang dicapai peserta didik  dapat dilihat pada hasil ujian atau tugas-tugas yang dikerjakan peserta didik.

2).     Standar Proses

Sekolah mempunyai perencanaan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran sesusai dengan rencana, melakukan penilaian dengan berbagai cara, melakukan pengawasan dan pengendalian terhadap seluruh proses pendidikan yang terjadi di sekolah untuk mendukung pencapaian standar kompetensi lulusan. Pelaksanaan pembelajaran mengacu pada tujuh prinsip pelaksanaan kurikulum. Sekolah telah menerapkan sistem Satuan Kredit Semester (SKS).

3).     Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan

Keberhasilan pelaksanaan pendidikan di sekolah sangat ditentukan oleh kualitas dan kuantitas sumberdaya manusia sekolah yang terdiri dari pendidik dan tenaga kependidikan. Tenaga pendidik secara kualitas harus memenuhi kualifikasi akademik, sertifikasi profesi dan kesesuaian pendidikan dengan mata pelajaran yang diajarkan. Sedangkan secara kuantitas harus memenuhi ketentuan rasio guru dan peserta didik. Sedangkan tenaga kependidikan sekurang-kurangnya terdiri dari Kepala Sekolah, tenaga administrasi, pustakawan, tenaga laboratorium dan tenaga kebersihan. Tenaga kependidikan sekolah harus memenuhi persyaratan kompetensi yang dibutuhkan.

4).     Standar Sarana dan Prasarana

Sekolah memiliki sarana dan prasarana meliputi satuan pendidikan, lahan, bangunan gedung, dan kelengkapan sarana dan prasarana. Sekolah minimum memiliki 3 rombongan belajar dan maksimum 27 rombongan belajar. Lahan yang dimiliki sekolah memenuhi ketentuan rasio minimum luas lahan terhadap peserta didik yang dapat digunakan secara efektif untuk membangun prasarana sekolah berupa bangunan gedung dan tempat bermain/berolahraga. Lahan harus memenuhi kriteria kesehatan dan keselamatan, kemiringan, pencemaran air dan udara, kebisingan, peruntukan lokasi, dan status tanah. Bangunan gedung memenuhi rasio minimum luas lantai, tata bangunan, keselamatan, kesehatan, fasilitas penyandang cacat, kenyamanan, keamanan. Bangunan gedung dipelihara secara rutin. Kelengkapan sarana prasarana yang tersedia meliputi : 1) ruang kelas, 2) ruang perpustakaan, 3) ruang laboratorium biologi, 4) ruang laboratorium fisika, 5) ruang laboratorium kimia, 6) ruang laboratorium komputer, 7) ruang laboratorium bahasa, 8) ruang pimpinan, 9) ruang guru, 10) ruang tata usaha, 11) tempat beribadah, 12) ruang konseling, 13) ruang UKS, 14) ruang organisasi kesiswaan, 15) jamban, 16) gudang, 17) ruang sirkulasi, 18) tempat bermain/berolahraga.

5).     Standar Pengelolaan

Pengelolaan sekolah didasarkan pada perencanaan program, pelaksanaan rencana kerja, pengawasan dan evaluasi, kepemimpinan sekolah, dan sistem informasi manajemen. Sekolah mengembangkan perencanaan program mulai dari penetapan visi, misi, tujuan, dan rencana kerja. Pelaksanaan rencana kerja sekolah didasarkan pada struktur organisasi dan pedoman pengelolaan secara tertulis dibidang kesiswaan, kurikulum dan kegiatan pembelajaran, pendidikan dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, keuangan dan pembiayaan. Disamping itu pelaksanaannya juga mempertimbangkan budaya dan lingkungan sekolah, serta melibatkan peran serta masyarakat.

6).     Standar Pembiayaan

Pembiayaan Sekolah didasarkan pada rancangan biaya operasional program kerja tahunan meliputi investasi, operasi, bahan atau peralatan dan biaya personal. Sumber pembiayaan sekolah dapat berasal orang tua peserta didik, masyarakat, pemerintah dan donatur lainnya. Penggunaan dana harus dipertanggungjawabkan dan dikelola secara transparan dan akuntabel.

7).     Standar Penilaian Pendidikan

Sekolah melaksanakan penilaian pendidikan melalui proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik. Penilaian mengacu pada prinsip penilaian dengan menggunakan teknik dan instrumen penilaian yang sesuai berdasarkan mekanisme dan prosedur penilaian terstandar. Penilaian dilakukan oleh pendidik, satuan pendidikan, dan pemerintah.

Implementasi Rintisan Sekolah Kategori Mandiri di SMA merupakan upaya pemerintah khususnya Direktorat Pembinaan SMA Departemen pendidikan Nasional dalam mendukung untuk memenuhi Standar Nasional Pendidikan. Pelaksanaan Sekolah Kategori Mandiri/Sekolah Standar Nasional (SKM/SSN) memerlukan kesiapan dari seluruh warga sekolah yang diwujudkan dalam bentuk dukungan. Di samping itu dalam pelaksanaannya perlu mendapat dukungan dari pihak luar sekolah. Dukungan tersebut sangat diperlukan karena SKM/SSN merupakan peningkatan mutu sekolah berdasarkan delapan standar nasional pendidikan yang memerlukan kerjasama dengan pihak di luar sekolah. Beberapa aspek dan indikator yang dapat menjadi indikator dukungan tersebut antara lain :   

1.      Warga sekolah bersedia melaksanakan SKM/SSN dan sistem SKS

2.      Persentase guru yang menyatakan bersedia melaksanakan SKM/SSN  dan sistem SKS ≥ 90%

3.      Pernyataan staf administrasi akademik bersedia melaksanakan SKM/SSN dan sistem SKS

4.      Tenaga pendidik dan kependidikan memiliki kemampuan  mengoperasikan komputer

5.      Dukungan dari komite sekolah

6.      Dukungan dari orang tua peserta didik

7.      Dukungan dari Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota secara tertulis

8.      Dukungan dari Perguruan Tinggi, LPMP/P4TK/PPPG dalam rangka pendampingan dan pembimbingan proses pengembangan sekolah kategori mandiri (persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi)

9.      Dukungan asosiasi profesi, organisasi non struktural (MKKS, MGMP, Dewan Pendidikan, dan lembaga pendidikan lain) dalam proses pengembangan dan pelaksanaan SKM/SSN

 

V. PENUTUP

Penyelenggaraan pendidikan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan dan kajian empirik, ilmiah akan memberikan model konsep yang relevan dan ideal, dengan orientasi utama pengelolaan manajemen sekolah yang otonom dan efektif.

Implementasi Sekolah Kategori Mandiri/sekolah standar nasional pada jenjang pendidikan menengah umum (SMA) merupakan bentuk minimal dari manajemen penyelenggaraan pendidikan di Indonesia yang harus terus dikembangkan secara konseptual, strategi dan pengembangan implementasi pada satuan pendidikan. Oleh sebab itu sangat diperlukan keterlibatan berbagai pihak yang kompeten untuk mewujudkan hal tersebut.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

 

Dit. Pembinaan SMA, Ditjen. Manajemen Dikdasmen, 2008. Konsep Sekolah Kategori Mandiri/Sekolah Standar Nasional. Jakarta. Depdiknas

Dit. Pembinaan SMA, Ditjen. Manajemen Dikdasmen, 2008. Model Penyelenggaraan    Sekolah Kategori Mandiri/Sekolah Standar Nasional. Jakarta. Depdiknas

Mohamad  Yunus, 2007, Karakteristik Model Dan Implementasi Kurikulum Pendidikan Menengah Umum,UPI, Jakarta,Makalah

 

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional  Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar

Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. [Online]. Tersedia:

http://www.puskur. net/index.php?menu= profile&pr0=148&iduser=5.

 

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional  Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional  Nomor 22 dan 23 Tahun 2006. [Online]. Tersedia:

http://www. puskur.net/ index.php?menu= profile&pr0=148&iduser=5.

 

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: Sinar Grafika.

Advertisements

DARI MANA SUMBER BIAYA SBI??

Sumber Biaya Sekolah, Profil Yang Buram

Pendahuluan

Pemerintah wajib menetapkan kebijakan pendidikan yang dapat menjamin pemerataan kesempatan, peningkatan mutu, peningkatan relevansi dan efisiensi manajemen. Empat pilar kewajiban penjamin mutu pendidikan tersebut wajib pemerintah jalankan agar mampu menjamin bangsa ini untuk beradaptasi dalam menghadapi tantangan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global.

Salah satu kewajiban pemerintah yang mendukung keempat pilar utama tersebut adalah menetapkan kebijakan dan menyediakan anggaran agar pembaharuan pendidikan nasional dapat terbina secara terencana, terarah, dan berkesinambungan. Dalam hal ini pemerintah juga perlu menetapkan regulasi tentang siapa yang harus menanggung biaya pendidikan, mengingat tanggung jawab pendidikan terletak di tangan orang tua, pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat .Berkaitan dengan sistem anggaran, hasil studi kepustakaan dari tim Universitas Maryland yang dipimpin oleh// Dr. James Greenberg// Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya// menyimpulkan bahwa salah satu indikator sekolah efektif ialah sekolah yang memiliki sumber dana kuat, melakukan investasi berkelanjutan, dan mengalokasikan dana  secara efektif. (www.education.umd.edu/k-16/effective Schools.html, /09/2009).

Kekuatan sumber dana terletak pada kepastian dan kecukupan sesuai dengan kebutuhan sekolah dapat berkembang dan adaptif terhadap perubahan jaman sehingga menjamin lulusan dalam bersaing dalam kehidupan lokal, nasional dan global.

Orang Tua Sebagai Sumber Anggaran Yang Kuat

Sejarah membuktikan bahwa orang tua siswa merupakan sumber dana yang kuat. Besarnya kekuatan itu menunjukkan daya dalam menopang percepatan pembaharuan pada beberapa sekolah swasta yang telah mampu mengelola mutu sehingga dapat menjadi pengharapan bagi masyarakat berada. Perkembangan ini terjadi sampai tahun 1980-an, dimana di berbagai kota terdapat sekolah swasta tempat berkumpulnya masyarakat berada dengan tingkat partisipasi pembiayaan orang tua siswa yang terus meningkat.

Pada era tahun 1990-an dikarenakan semakin tingginya kebutuhan untuk memodernisasi sarana gedung dan mengikuti perkembangan teknologi yang secara massif merupakan kebutuhan siswa dalam berkompetisi, sekolah negeri pun terdorong untuk mengimpun dana masyarakat. Puncaknya terjadi pasca 1997 dengan lahirnya konsep MBS dimana partisipasi pembiayaan pendidikan dari orang tua siswa mengalami peningkatan drastis sehingga jumlah dana yang diserap sekolah negeri  favorit mampu menyamai bahkan bisa lebih besar daripada sekolah swasta.

Semakin besarnya sumbangan dana masyarakat telah berdampak pada meningkatnya investasi pembangunan gedung, penyediaan sarana, peningkatan kegiatan siswa seperti pembiayaan pengiriman delegasi sekolah pada berbagai perlombaan, pembayaran guru honor, dan peningkatan kesejahteraan guru. Guru-guru pada sekolah favorit paling menikmati  tingginya dukungan  terhadap berbagai keleluasaan anggaran. Besarnya dukungan orang tua siswa pada sekolah tertentu telah melebihi besarnya alokasi anggaran dari pemerintah.

Dari tahun ke tahun harga yang harus dibayar oleh orang tua siswa agar dapat menyekolahkan anaknya menjadi tidak rasional . Hal ini dikarenakan besarnya sumbangan pada awal tahun bisa melebihi dua kali lipat besar gajinya. Di samping itu, semangat menghimpun dana telah melupakan kedekatan pada keluarga dari kelompok orang kurang mampu sehingga sekolah favorit  identik dengan sekolah  kelompok ’borju’.

Reformasi dan Otonomi Daerah

Bersamaan dengan meningkatnya upaya sekolah dalam memanfaatkan potensi orang tua siswa sebagai salah satu sumber biaya sekolah, dalam bidang politik bergulir pula reformasi yang menentang kebijakan sekolah dalam menggali dana yang bersumber dari masyarakat. Tekanan itu terus mendorong Negara untuk menyediakan dana anggaran sekurang-kurangnya 20% untuk biaya pendidikan.

Pada posisi anggaran Negara yang selalu terbatas, maka  logika 20% termasuk gaji dan biaya lainnya menjadi perbincangan nasional yang hangat. Meskipun pada akhirnya keputusan pun dibuat, yang dimaksud undang-undang adalah alokasi 20% anggaran pendidikan itu termasuk gaji.

Perkembangan tidak berhenti di situ, tekanan terhadap sekolah agar terus menurunkan peran pembiayaan dari masyarakat terus menguat. Belakangan  komponen pembiayaan sekolah yang berasal dari masyarakat malah telah menjadi komoditas politik. Pembatasan bahkan larangan terhadap kewenangan sekolah dalam menghimpun dana dari masyarakat pun terus berkembang.

Saat ini beberapa daerah, seperti ada kabupaten di Provinsi Bali dan Sumatera Selatan yang mementingkan nilai popularitas secara politis sehingga secara tegas menetapkan kebijakan sekolah gratis tanpa mengetahui terlebih dahulu berapa kebutuhan sekolah dalam membiayai kegiatannya agar lulusannya dapat menjadi pengembang mutu persaingan generasi muda dari daerahnya.

Kebijakan Pembiayaan Sekolah

Sistem anggaran sekolah meliputi tiga ranah utama yaitu penyediaan sumber dana, pengalokasian  dana, dan pertanggunjawaban penggunaan dana.

Standar nasional pendidikan mengatur dengan jelas tentang pengalokasian dana. Pemenuhan standar meliputi tiga indikator  pengelolaan anggaran. Efektivitas penganggaran sekolah diukur dengan (1) melaksanakan  investasi meliputi penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan  sumber daya manusia, dan modal kerja tetap. (2) menjalankan fungsi biaya operasi meliputi gaji pendidikan dan tenaga kependidikan, tunjangan yang melekat pada gaji, peralatan habis pakai, (3) mengelola biaya personal meliputi biaya yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk mengikuti proses pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan.

Pada PP 48 tentang pasal 4 dinyatakan bahwa biaya investasi dan operasi  personalia dan nonpersonalia menjadi tanggung jawab  pemerintah atau pemerintah daerah. Pada pasal 9 dan 10 diatur bahwa pendanaan yang diperlukan atas biaya investasi lahan untuk pembiayaan sekolah bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal dapat bersumber daya masyarakat atau bantuan asing.

Sementara tanggung jawab pendanaan oleh pemerintah dan pemerintah daerah adalah mengantarkan sekolah  memenuhi standar nasional pendidikan. Juga berinvestasi selain lahan yang bukan program wajib belajar menjadi tanggung jawab bersama pemerintah dan masyarakat.

Kebijakan di atas telah mempersempit  kewenangan sekolah untuk melibatkan dana yang berasal dari masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. Penyederhanaan itu setidaknya dampak dari  (1) arah kebijakan politik yang lebih berpihak pada pemenuhan opini publik  karena (2) masyarakat memandang bahwa harga pendidikan yang ditawarkan sekolah tidak terjangkau oleh  kemampuan masyarakat kebanyakan (3) nilai akuntabilitas sekolah menunjukkan bahwa mutu pelayanannya tidak setinggi harganya alias kurang bermutu. Sekolah tidak dapat memberikan kepuasan kepada pelanggannya sehingga pelanggan melawan kewenangan  sekolah melalui legislatif.

Kondisi saat ini menunjukkan bahwa sekolah tidak memiliki kewenangan yang cukup untuk menggunakan dana dari masyarakat. Sementara itu sumber dana pengganti tidak sebesar sumber dana dari masyarakat. Kondisi ini menjadi beban tersendiri pada sekolah favorit di perkotaan terutama pada daerahnya yang menetapkan kebijakan bebas biaya pendidikan.

Keterbatasan biaya pendidikan akan menghilangkan kelompok sekolah unggul. Sehingga percepatan pembinaan siswa dari  bebagai daerah semakin menurun karena sekolah tidak memiliki kemampuan untuk meningkatkan keunggulan dalam bidang teknologi, kegiatan kesiswaan, peningkatan mutu kompetensi guru, inovasi pembelajaran, dan kompetisi siswa.

Terlambat Membangun Kewirausahaan Sekolah

Sebelum jaman Orde Baru, dalam meningkatkan mutu pendidikan berbasis masyarakat kita memiliki kultur gotong royong. Bersamaan dengan berkembangnya SD inpres, gotong royong pun semakin pudar sehingga tingkat partisipasi masyarakat terhadap pembangunan pendidikan formal makin rendah.

Partisipasi dalam bentuk lain meningkat lagi tatkala MBS mulai bergulir, kecenderungan ini dihabisi dengan bangkitnya reformasi yang pro rakyat. Konsisi ini lebih parah lagi karena yang disuarakan adalah bebas biaya pendidikan, tanpa memperdulikan seberapa besar dampaknya terhadap penurunan daya adaptasi sekolah terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi global.

Pada beberapa daerah terlihat dampak dari kebijakan bebas biaya pendidikan  yang ditetapkan. Adanya keterbatasan biaya pendidikan yang kemudian memunculkan gejala apriori dari para pengelola sekolah, yaitu mewujudkan mutu seadanya dengan biaya seadanya.

Keterbatasan sumber anggaran seperti saat ini kalau dilihat dari gejala menguatnya tarik ulur dalam proses keputusan politik tentang biaya pendidikan 20% menandakan bahwa anggaran pada tahun-tahun mendatang bukannya akan semakin melimpah. Hukum ekonomi berlaku, semakin banyak yang membutuhkan mengakibatkan sumber daya semakin terbatas.

Oleh karena itu, masalah pembiayaan sekolah pada masa depan perlu mendapat perhatian lebih seksama.  Departemen Pendidikan Nasional perlu meningkatkan kesungguhan dalam mengembangkan jiwa kewirausahaan warga sekolah. Langkah ini akan berdampak positif pada sekolah dan bermanfaat bagi warga sekolah secara umum.

Tantangan paling berat adalah mengubah budaya berpikir dari budaya menerima sumbangan ke menciptakan uang.

Kebijakan ini telah dilaksanakan oleh negara-negara lain. Komisi Eropa sejak tahun 2006 giat mengembangkan kewirausahaan kepada warga sekolah terutama untuk siswa agar mereka dapat mengembangkan potensi dirinya sehingga sukses dalam bidang finansial. Pemikiran ini diterapkan dari mulai pendidikan dasar sampai perguruan tinggi, “so that education can have a more active role in creating a more entrepreneurial culture in Europe”.

Diyakini oleh mereka bahwa keseimbangan dalam meningkatkan jumlah wirausahawan merupakan faktor yang sangat menentukan bagi perkembangan ekonomi. Research suggests that there is a positive correlation between entrepreneurship and economic growth. (European Union: 2006). Scherrer (2002) merekomendasikan agar kegiatan pengembangan diprioritaskan dalam pengembangan profesi dan teknis pengembangan bisnis skala kecil.  Salah satu bentuk usaha adalah mendorong lebih banyak siswa melakukan kerja paruh waktu.

Jika Uni Eropa mengembangkan kebijakan khusus dalam mengembangkan kewirausahaan, Indonesia belum banyak berbuat untuk meningkatkan kemandirian sekolah. Pengembangan kewirausahaan di SMK yang juga telah lama dikembangkan belum berhasil mengembangkan budaya usaha produktif yang berorientasi pada jangka pajang. Dalam beberapa kasus malah kewirausahaan diartikan sebagai eksploitasi sumber daya dalam jangka pendek untuk meningkatkan kesejateraan warga sekolah.

Pada indikator kinerja kunci tambahan tenaga kependidikan pedoman penjaminan mutu sekolah bertaraf intenasional dinyatakan bahwa kepala sekolah bervisi internasional, mampu membangun jejaring internasional, memiliki komptensi manajerial, serta jiwa kepemimpinan dan entrepreneurial yang kuat. Pemikiran ini juga terlalu sederhana untuk dikembangkan dalam bentuk operasional yang kokoh sebagai dasar pengembangan budaya kewirausahaan.

Permendiknas  nomor 39 tahun 2008 tentang Pembinaan Kesiswaan  yang telah menggariskan pentingnya meningkatkan pembinaan kreativitas, keterampilan dan kewirausahaan, antara lain : (a) Meningkatkan kreativitas dan keterampilan dalam menciptakan suatu barang menjadi lebih berguna;  (b) Meningkatkan kreativitas dan keterampilan di bidang barang dan jasa (c) Meningkatkan usaha koperasi siswa dan unit produksi.

Secara umum upaya meningkatkan kewirausahaan sebagai bentuk peningkatan kemandirian sekolah sampai kini belum menjadi gerakan nasional yang ditangani dengan sungguh-sungguh, semua masih dalam bentuk ide dasar.

Mewirausahakan birokrasi sekolah (David Osborne, 1996)  dengan meningkatkan kewenangan sekolah untuk mengambil keputusan dalam mendorong kemandirian secara ekonomi  perlu dipikirkan lebih lanjut.

Model sekolah yang memiliki unit usaha produktif sebagai sumber pendanaan  perlu dikembangkan lebih lanjut. Kita melihat ada beberapa sekolah yang memiliki lahan luas yang dapat diusahakan. Pada kasus lain terdapat sekolah yang berkembang di tengah daerah home industri. Namun dikarenakan kurangnya pengalaman warga sekolah dalam berwirausaha sehingga upaya meningkatkan kewirausahaan belum berkembang dengan maksimal.

Usaha mengembangkan lembaga bisnis unit kecil sekarang semakin memungkinkan jika sekolah mampu mengembangkan potensi daerahnya yang diintegrasikan pada jaringan pemasaran melalui internet. Hanya saja penanganannya perlu hati-hati. Jangan sampai usaha peningkatan mutu pendidikan kalah oleh kepentingan peningkatan daya ekonominnya.

Kesimpulan

Meningkatkan kemandirian sekolah yang utama adalah kemandirian dalam membangun sumber dana yang kuat. Sumber dana itu idealnya berkembang ke arah peningkatan upaya sekolah dalam membangun unit usaha kecil yang dikembangkan dalam sistem sekolah. Arahnya pada perubahan budaya melalui pengembangan pengetahuan dan keterampilan warga sekolah dalam berwirausaha. Jika ini terlambat dikembangkan, maka kita dan seluruh sekolah akan menghadapi kesulitan besar. Tidak berdaya membiayai pengembangan mutu karena terbatas anggaran.

Referensi:

David Osborne, Ted Gaebler ,1996. Mewirausahakan Birokrasi: Reinventing Bovernment,, Pustaka Binaman Pressindo. Jakarta.

www.education.com/reference/article/Ref_Parents_Financial/

www. education. umd.edu/k-16/ effective Schools /summary.html, 09/2009).

Categories: Pengelolaan

 //
// ]]>

SBI MAHAL……?

SEKOLAH BERTARIF INTERNASIOANAL alias MAHAAALLLLLL .tentunya hal tersebut menuai berbagai pendapat dari berbagai kalangan yang mungkin juga mengalaminya sendiri, diambil contoh saja sekolah tersebut mengharuskan sejumlah muridnya untuk memiliki LAPTOP sendiri (piye iki)
Sistem Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) menuai kritik Federasi Guru Independen Indonesia (FGII). Mereka menilai penerapan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI)Di Indonesia tidak tepat. Apalagi biaya untuk bersekolah di SBI ini jauh lebih mahal dibanding sekolah pada umumnya.

sekarang kita tengok sejenak dulu APA to SBI (sekolah bertaraf internasional) itu.?

Pengertian SBI
SBI adalah sekolah nasional yang menyiapkan peserta didik berbasis Standar Nasional Pendidikan (SNP) Indonesia berkualitas Internasional dan lulusannya berdaya saing Internasional.
Karakteristik SBI

1. Menerapkan KTSP yang dikembangkan dari standart isi, standart kompetensi kelulusan dan kompetensi dasar yang diperkaya dengan muatan Internasional.
2. Menerapkan proses pembelajaran dalam Bahasa Inggris, minimal untuk mata pelajaran MIPA dan Bahasa Inggris.
3. Mengadopsi buku teks yang dipakai SBI (negara maju).
4. Menerapkan standar kelulusan yang lebih tinggi dari standar kompetensi lulusan (SKL) yang ada di dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP).
5. Pendidik dan tenaga kependidikan memenuhi standart kompetensi yang ditentukan dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP).
6. Sarana/prasarana memenuhi Standar Nasional Pendidikan (SNP).
7. Penilaian memenuhi standar nasional dan Internasional.

Visi dan Misi SBI
Visi SBI dirancang agar memnuhi tiga indikator,yaitu:

1. Mencirikan wawasan kebangsaan,
2. Memberdayakan seluruh potensi kecerdasan (multiple inteligencies)
3. Meningkatkan daya saing global

Misi SBI merupakan jabaran visi SBI yang dirancang untuk dijadikan referensi dalam menyusun/mengembangkan rencana program kegiatan, indikator untuk menuyun misi ini terangkum pada akronim SMART:

1. Specific
2. Measurable (terukur)
3. Achievable (dapat dicapai)
4. Realistis
5. Time Bound (jelas jangkauan waktunya)

Saat ini sejumlah sekolah yang sudah menerapkan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) cenderung mewajibkan calon siswanya membayar biaya yang sangat tinggi.
SBI adalah salah satu bentuk neoliberalisasi pendidikan. Kalau pendidikan sudah diperjualbelikan seperti ini, ini sudah menjadi neolib pendidikan,
semoga pemerintah mendatang bisa membuat sistem yang lebih baik dari SBI karena menurutnya pendidikan itu universal dimana setiap orang boleh merasakannya. “Kalau yang dipakai sistem SBI kasihan orang-orang yang kurang mampu, masak kita harus kembali ke era penjajahan lagi. Ada sekolah untuk orang miskin dan sekolah untuk kaum borjuis.

MODEL PEMBELAJARAN

Model-model pembelajaran moderen yang dipaparkan diatas disamping sangat efektif dan teruji didalam melibatkan siswa secara aktif pada proses pembelajaran matematika, metode tersebut juga menuntut guru untuk benar-benar mempersiapkan diri pada proses pembelajaran yang akan disampaikan. Disamping itu metode-metode pembelajaran tersebut juga mampu mendorong siswa untuk aktif dalam pembelajaran, bicara, mengemukaan pendapat, dan bekerja secara bersama-sama dengan kelompok untuk memahami materi pembelajaran yang disajikan dan direncanakan oleh guru. Dengan demikian diharapkan siswa lebih menguasai materi yang dipelajarinya. Tentu saja kesemuanya itu harus didampingi oleh bimbingan seorang guru yang profesional .
Namun demikian tentusaja masih banyak kendala-kendala yang dihadapi oleh guru di lapangan. Terlebih lagi pada sekolah sekolah rintisan atau sekolah sekolah pinggiran. Kendala kendala tersebut antara lain :
1. Fasilitas fasilitas sekolah yang belum memadai.
Disekolah-sekolah rintisan ataupun sekolah sekolah pinggiranfasilitas pembelajaran masih sangat minim. Belum adanya perpustakaan yang memadai, laboratorium matematika belum ada, dan alat alat peraga yang masih minim menghambat siswa didalam mencari sumber belajar yang mereka butuhkan.
2. Kemampuan siswa yang terbatas.
Kemampuan siswa yang sangat terbatas menjadi tantangan yang sangat besar bagi seorang guru untuk menghidupkan suasana pembelajaran kelas yang harmonis.Kurang mampunya mereka dalam berfikir kreatif, merasa rendah diri dan malu-malu menjadi kendala paling besar dalam proses pembelajaran yang aktif dan kreatif.
3. Lingkungan yang tidak mendukung.
Lingkungan sangat berpengaruh dalam proses pembelajaran . Karakteristik masyarakat dipinggiran yang senderung apatis dalam pendidikan menjadikan siswa juga apatis dalam belajar. Terlebih lagi bila lingkungan keluarga tidak begitu peduli dengan pendidikan anaknya. Maka seolah-olah siswa menjadi kehilangan lentera keluarga yang akan membanyu proses pembelajaran di sekolah.

Hal-hal yang seperti inilah yang sering menjadi kendala dilapangan yang kerap dijumpai seorang guru didalam fungsinya sebagai pendidik.

Usaha menjadikan pendidikan di Indonesia lebih maju adalah menjadi harapan bagi seluruh warga Negara Indonesia. Guru sebagai ujung tompak pendidikan bangsa mempunyai tanggung jawab atas terselenggaranya pendidikan yang baik. Usaha guru didalam memajukan pendidikan bangsa dapat dilihat dalam berbagai upaya guru didalam menuntun siswa untuk menguasai materi pembelajaran. Upaya guru melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran adalah salah satu usaha guru untuk mendidik siswa agar lebih mendalami materi pelajaran yang dipelajari.
Pengelolaan kelas yang baik, didukung dengan metode pembelajaran yang baik pula , diharapkan mampu memberi solusi yang tepat guna menjadikan siswa berperan aktif dalam proses pembelajaran.

Keterbatasan sarana pembelajaran di sekolah, keadaan lingkungan masyarakat dan kemampuan siswa menjadi kendala yang sangat dirasakan oleh guru. Kendala tersebut merupakan tanggung jawab bukan guru saja, melainkan juga tanggung jawab lingkungan keluarga, masyarakat, dan Negara. Bila kendala kendala tersebut dapat diatasi bersama maka insyaAllah pendidikan yang selalu dicita-citakan oleh bangsa kita akan segera terwujud.

Kendala-Kendala Pengimplikasian di Indonesia

Jika memang IT dan Internet memiliki banyak manfaat, tentunya ingin kita gunakan secepatnya. Namun ada beberapa kendala di Indonesia yang menyebabkan IT dan Internet belum dapat digunakan seoptimal mungkin. Kesiapan pemerintah Indonesia masih patut dipertanyakan dalam hal ini. Salah satu penyebab utama adalah kurangnya ketersediaan sumber daya manusia, proses transformasi teknologi, infrastruktur telekomunikasi dan perangkat hukumnya yang mengaturnya. apakah infrastruktur hukum yang melandasi operasional pendidikan di Indonesia cukup memadai untuk menampung perkembangan baru berupa penerapan IT untuk pendidikan ini. Sebab perlu diketahui bahwa Cyber Law belum diterapkan pada dunia Hukum di Indonesia. Selain itu masih terdapat kekurangan pada hal pengadaan infrastruktur teknologi telekomunikasi, multimedia dan informasi yang merupakan prasyarat terselenggaranya IT untuk pendidikan sementara penetrasi komputer (PC) di Indonesia masih rendah. Biaya penggunaan jasa telekomunikasi juga masih mahal bahkan jaringan telepon masih belum tersedia di berbagai tempat di Indonesia.. Untuk itu perlu dipikirkan akses ke Internet tanpa melalui komputer pribadi di rumah. Sementara itu tempat akses Internet dapat diperlebar jangkauannya melalui fasilitas di kampus, sekolahan, dan bahkan melalui warung Internet.Hal ini tentunya dihadapkan kembali kepada pihak pemerintah maupun pihak swasta; walaupun pada akhirnya terpulang juga kepada pemerintah. Sebab pemerintahlah yang dapat menciptakan iklim kebijakan dan regulasi yang kondusif bagi investasi swasta di bidang pendidikan. Namun sementara pemerintah sendiri masih demikian pelit untuk mengalokasikan dana untuk kebutuhan pendidikan. Saat ini baru Institut-institut pendidikan unggulan yang memiliki fasilitas untuk mengakses jaringan IT yang memadai. Padahal masih banyak institut-institut pendidikan lainnya yang belum diperlengkapi dengan fasilitas IT

E-LEARNING SEBAGAI SOLUSI PERMASALAHN PENDIDIKAN INDONESIA

IT atau Information Technology memberikan kontribusi yang luar biasa dalam hal penyebaran materi Informasi ke seluruh belahan dunia. IT merupakan suatu alat Globalisator yang luar biasa – salah satu instrumen vital untuk memicu time-space compression (menyusutnya ruang dan waktu), karena kontaknya yang tidak bersifat fisik dan individual, maka ia bersifat massal dan melibatkan ribuan orang. Hanya dengan berada di depan komputer yang terhubung dengan internet, seseorang bisa terhubung ke dunia virtual global untuk ‘bermain’ informasi dengan ribuan computer penyedia informasi yang dibutuhkan, yang juga terhubung ke internet pada saat itu. Perkembangan IT yang sedemikian pesat tersebut menciptakan kultur baru bagi semua orang di seluruh dunia. Dunia pendidikan pun tak luput dari sentuhannya. Integrasi teknologi informasi ke dalam duina pendidikan telah menciptakan pengaruh besar. Dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi, mutu dan efisiensi pendidikan dapat ditingkatkan. Di tengah kemelut dunia pendidikan Indonesia yang tak kunjung selesai, kehadiran teknologi informasi menjadi satu titik cerah yang diharapk n mampu memberi sumbangan berarti dalam meningkatkan mutu pendidikan. saat ini mutu pendidikan Indonesia masih sangat rendah. Laporan tahunan Human development Index UNDP tahun 2004 menempatkan Indonesia pada posisi 111 dari 175 negara. Adapun hasil survai tentang kualitas pendidikan di Asia yang dilakukan oleh PERC (The Political and Economic Risk Country), Indonesia berada pada posisi 12 atau yang terendah (Suara karya, 18 desember 2004). Peringkat ini sepertinya tidak mengalami pergeseran jauh pada saat sekarang ini mengingat problematika pendidikan yang masih saja belum berubah.  Salah satu produk integrasi teknologi informasi ke dalam dunia pendidikan adalah e-learning atau elektronik learning. Saat ini e-Learning mulai mengambil perhatian banyak pihak, baik dari kalangan akademik, profesional, perusahaan maupun industri. Di institusi pendidikan tinggi misalnya, e-Learning telah membuka cakrawala baru dalam proses belajar mengajar. Sedangkan di lingkungan industri, e-Learning dinilai mampu membantu proses dalam meningkatkan kompetensi pegawai atau sumber daya manusia. Dari dunia akademis metode pembelajaran ini sudah mulai banyak diterapkan dan dikembangkan. Ambil contoh penerapan e-Learning di kampus ITB, IPB, UI, Unpad, Universitas Hasanuddin, Universitas Negeri Malang, dan universitas

Teknologi Informasi, Inovasi bagi Dunia Pendidikan

KEDUDUKAN DAN PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PEMBELAJARAN

Penggunaan Teknologi Informasi (TI) dalam pembelajaran seiring perkembangan jaman pertukaran informasi semakin cepat dan instant, sehingga penggunaan system tradisional dalam mengajar yang mengandalkan tatap muka antar guru dan murid akan menghasilkan pendidikan yang sangat lambat dan tidak seiring perkembangan jaman.  Sistem tradasional ini seharusnya sudah ditinggalkan sejak ditemukannya media komunikasi multi media. Karena sifat internet yang dapat dihubungkan setiap saat, artinya siswa dapat memanfaatkan program-prgram pendidikan yang disediakan di jaringan Internet kapan saja sesuai dengan waktu luang mereka, sehingga kendala ruang dan waktu yang mereka hadapi untuk mencari sumber belajar dapa teratasi.

Kedudukan IT bagi Pendidikan

Sudah selayaknya lembaga-lembaga pendidikan yang ada segera memperkenalkan dan memulai penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sebagai basis pembelajaran yang lebih mutakhir. Hal ini menjadi penting, mengingat penggunaan IT merupakan salah satu faktor pentin g yang memungkinkan kecepatan transformasi ilmu pengetahuan kepada para peserta didik, generasi bangsa ini secara lebih luas. Dalam konteks yang lebih spesifik, dapat dikatakan bahwa kebijakan penyelenggararan pendidikan, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah, pemerintah daerah, maupun masyarakat harus mampu memberikan akses pemahaman dan penguasaan teknologi mutakhir yang luas kepada para peserta didik. Program pembangunan pendidikan yang terpadu dan terarah yang berbasis teknologi paling tidak akan memberikan multiplier effect dan nurturant effect terhadap hampir semua sisi pembangunan pendidikan. Sehingga IT berfungsi untuk memperkecil kesenjangan penguasan teknologi mutakhir khususunya dalam dunia pendidikan.

Pembangunan pendidikan berbasis IT setidaknya memberikan dua keuntungan. Pertama, sebagai pendorong komunitas pendidikan ( termasuk guru ) untuk lebih apresiatif dan proaktif dalam maksimalisasi potensi pendidikan. Kedua, memberikan kesempatan luas kepada peserta didik memanfaatkan setiap potensi yang ada dapat diperoleh dari sumber-sumber yang tidak terbatas.

Adapun kedudukan IT dalam pendidikan yang lain adalah : a. Mempermudah kerjasama antara pakar dengan mahasiswa, menghilangkan batasan ruang, jarak dan waktu. b.Sharing Informatioan , sehingga hasil penelitian dapat digunakan bersama-sama dan mempercepat pengembangan ilmu pengetahuan c.

Virtual University, yaitu dapat menyediakan pendidikan yang diakses oleh orang banyak

Pemanfaatan IT bagi Pendidikan

Pesatnya perkembangan IT, khususnya internet memungkinkan pengembangan layanan informasi yang lebih baik dalam suatu institusi pendidikan. Di lingkungan perguruan tinggi, pemanfaatan IT lainnya yaitu diwujudkan dalam suatu system yang disebut electronic university (e-university). Pengembangan e-University bertujuan untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan, sehingga perguruan tinggi dapat memberi pelayanan informasi yang lebih baik kepada komunitasnya, baik didalam maupun diluar perguruan tinggi tersebut melalui internet. Layanan pendidikan lain yang bisa dilaksanakan melalui internet yaitu dengan menyediakan materi kuliah secara on- line dan materi kuliah tersebut dapat diakses oleh siapa saja yang membutuhkan,sehingga memberikan informasi bagi yang sulit mendapatkannya karena problem ruang dan waktu.

Lingkungan Akademis Pendidikan Indonesia yang mengenal alias sudah akrab dengan Implikasi IT di bidang Pendidikan adalah UI dan ITB. Semisalnya UI. Hampir setiap Fakultas yang terdapat di UI memiliki jaringan yang dapat di akses oleh masyarakat, memberikan informasi bahkan bagi yang sulit mendapatkannya karena problema ruang dan waktu. Hal ini juga tentunya sangat membantu bagi calon mahasiswa maupun mahasiswa atau bahkan alumni yang membutuhkan informasi tentang biaya kuliah, kurikulum, dosen pembimbing, atau banyak yang lainnya. Contoh lain adalah Universitas Swasta Bina Nusantara juga memiliki jaringan Internet yang sangat mantap, yang melayakkan mereka mendapatkan penghargaan akademi pendidikan Indonesia dengan situs terbaik. Layanan yang disediakan pada situs mereka dapat dibandingkan dengan layanan yang disediakan oleh situs-situs pendidikan luar negeri seperti Institut Pendidikan California atau Institut Pendidikan Virginia, dan sebagainya.

Pada tingkat pendidikan SMU implikasi IT juga sudah mulai dilakukan walau belum mampu menjajal dengan implikasi-implikasinya pada tingkatan pendidikan lanjutan. Di SMU ini rata-rata penggunaan internet hanyalah sebagai fasilitas tambahan dan lagi IT belum menjadi kurikulum utama yang diajarkan untuk siswa. IT belummenjadi media database utama bagi nilai-nilai, kurikulum, siswa, guru atau yang lainnya. Namun prospek untuk masa depan, penggunaan IT di SMU cukup cerah. Selain untuk melayani Institut pendidikan se cara khusus, adapula yang untuk dunia pendidikan secara umum di indonesia. Ada juga layanan situs internet yang menyajikan kegiatan sistem pendidikan di indonesia. situs ini dimaksudkan untuk merangkum informasi yang berhubungan dengan perkembangan pendidikan yang terjadi dan untuk menyajikan sumber umum serta jaringan komunikasi (forum) bagi administrator sekolah, para pendidik dan para peminat lainnya. Tujuan utama dari situs ini adalah sebagai wadah untuk saling berhubungan yang dapat menampung semua sektor utama pendidikan.Disamping lingkungan pendidikan, misalnya pada kegiatan penelitian kita dapat memanfaatkan internet guna mencari bahan atau pun data yang dibutuhkan untuk kegiatan tersebut melalui mesin pencari pada internet. Situs tersebut sangat berguna pada saat kita membutuhkan artikel, jurnal ataupun referensi yang dibutuhkan. Inisiatif- inisiatif penggunaan IT dan Internet di luar institusi pendidikan formal tetapi masih berkaitan dengan lingkungan pendidikan di Indonesia sudah mulai bermunculan. Salah satu inisiatif yang sekarang sudah ada adalah situs penyelenggara “Komunitas Sekolah Indonesia”. Pengembangan dan penerapan IT juga bermafaat untuk pendidikan dalamnkaitannya dengan peningkatan kualitas pendidikan nasional Indonesia. Salah satu aspeknya adalah kondisi geografis Indonesia dengan sekian banyaknya pulau yang berpencar-pencar dan kontur permukaan buminya yang seringkali tidak bersahabat, biasanya diajukan untuk menjagokan pengembangan dan penerapan IT untuk pendidikan. IT sangat mampu dan dijagokan agar menjadi fsasilitator utama untuk meratakan pendidikan di bumi nusantara, sebab IT yang mengandalkan kemampuan pembelajaran jarak jauhnya tidak terpisah oleh ruang, jarak dan waktu. Demi penggapaian daerah-daerah yang sulit tentunya penerapan ini agar dilakukan sesegera mungkin di Indonesia.

Adapun manfaat IT bagi bidang pendidikan yang lain adalah :

a. Akses ke perpustakaan

b. Akses ke pakar

c. Melaksanakan kuliah secara on line

d. Menyediakan layanan informasi akademik suatu institusi pendidikan

e. Menyediakan fasilitas mesin pencari data

f. Menyediakan fasilitas diskusi

g. Menyediakan fasilitas direktori alumni dan sekolah

h. Menyediakan fasilitas kerjasama

PERKEMBANGAN PENDIDIKAN DI ERA GLOBALISASI

Kemajuan teknologi dewasa ini dan di masa-masa yang akan datang terutama di bidang informasi dan komunikasi telah menyebabkan dunia ini menjadi sempit  cakupannya. Interaksi antara bangsa yang satu dengan bangsa yang lainnya baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja menjadi semakin intensif. Demikian juga yang terjadi di Indonesia dan negara-negara di dunia globalisasi sebagai sesuatu yang tidakbisa dihindari. Pada era globalisasi, ada kecenderungan yang kuat terjadinya proses universalisasi yang melanda seluruh aspek kehidupan manusia. Salah satu implikasi penyeragaman terlihat dengan munculnya gaya hidup global seperti: makanan, pakaian dan musik. Anak-anak kecil yang telah mengenal film-film kartun dari berbagai negara, kita yang sudah mengenal berbagai jenis makanan dari berbagai bangsa, demam mode dunia yang melanda semua negara adalah contoh nyata bahwa pengaruh global mengalir tanpa terbendung di negara kita. Banyak hal yang perlu dicermati agar sebagai bangsa kita tidak tertinggal oleh hal-hal baru yang terjadi secara global sehingga kita bisa beradaptasi dengan negara- negara di dunia. Di sisi lain kita juga harus punya filter yang kuat agar pengaruh globalisasai yang negatif tidak menggaanggu kehidupan bangsa kita yang menjunjung tinggi budi pekerti dan memiliki budaya yang luhur. Hal ini penting agar kita bisa menjadi bangsa yang bermartabat tanpa harus ketinggalan dengan negara-negara lain. Di bidang pendidikan, peran guru untuk mendidik peserta didik menjadi manusia yang selalu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar budaya sangat penting dalam menentukan perjalanan generasi bangsa ini. Guru dituntut menjadi pendidik yang bisa menjembatan i kepentingan-kepentingan itu. Tentu saja melalui usaha-usaha nyata yang bisa diterapkan dalam mendidik pesera didiknya.

DUNIA PENDIDIKAN KONVENSIONAL INDONESIA

Secara umum Dunia Pendidikan memang belum pernah benar-benar menjadi wacana yang publik di Indonesia, dalam arti dibicarakan secara luas oleh berbagai kalangan baik yang bersentuhan langsung maupun tidak langsung dengan urusan pendidikan. Namun demikian, bukan berarti bahwa permasalahan ini tidak pernah menjadi perhatian. Upaya-upaya peningkatan kualitas mutu serta kuantitas yang membawa nama pendidikan telah dilakukan oleh pihak pemerintah, walau sampai saat ini kita belum melihat hasil dari usaha tersebut. e-Education, istilah ini mungkin masih asing bagi bangsa Indonesia. e-education (Electronic Education) ialah istilah penggunaan IT di bidang Pendidikan. Internet membuka sumber informasi yang tadinya susah diakses. Akses terhadap sumber informasi bukan menjadi masalah lagi. Perpustakaan merupakan salah satu sumber informasi yang mahal harganya. (Berapa banyak perpustakaan di Indonesia, dan bagaimana kualitasnya?) Adanya Internet memungkinkan seseorang di Indonesia untuk mengakses perpustakaan di Amerika Serikat berupa Digital Library. Sudah banyak cerita tentang pertolongan Internet dalam penelitian, tugas akhir. Tukar menukar informasi atau tanya jawab dengan pakar dapat dilakukan melalui Internet. Tanpa adanya Internet banyak tugas akhir dan thesis yang mungkin membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk diselesaikan.Ketidakefektifan adalah kata yang paling cocok untuk sistem ini, sebab seiring dengan perkembangan zaman, pertukaran informasi menjadi semakin cepat dan instan, namun institut yang masih menggunakan sistem tradisional ini mengajar (di jenjang sekolah tinggi kita anggap memberikan informasi) dengan sangat lambat dan tidak  seiring dengan perkembangan IT. Sistem konvensional ini seharusnya sudah ditinggalkan sejak ditemukannya media komunikasi multimedia. Karena sifat Internet yang dapat dihubungi setiap saat, artinya siswa dapat memanfaatkan program-program pendidikan yang disediakan di jaringan Internet kapan saja sesuai dengan waktu luang mereka sehingga kendala ruang dan waktu yang mereka hadapi untuk mencari sumber belajar dapat teratasi. Dengan perkembangan pesat di bidang teknologi telekomunikasi, multimedia, dan informasi; mendengarkan ceramah, mencatat di atas kertas sudah tentu ketinggalan jaman.

Contoh-contoh IT Dalam Dunia Pendidikan

Arti IT bagi dunia pendidikan seharusnya berarti tersedianya saluran atau sarana yang dapat dipakai untuk menyiarkan program pendidikan. Namun hal Pemanfaatan IT ini di Indonesia baru memasuki tahap mempelajari berbagai kemungkinan pengembangan dan penerapan IT untuk pendidikan memas uki milenium ketiga ini. Padahal penggunaan IT ini telah bukanlah suatu wacana yang asing di negeri yang sudah maju. Berikut ini ialah sampel-sampel dari luar negeri hasil revolusi dari system pendidikan yang berhasil memanfaatkan Teknologi Informasi untuk menunjang proses pembelajaran mereka:

IT Sebagai Media Pembelajaran Multimedia

Kerjasama antar pakar dan juga dengan mahasiswa yang letaknya berjauhan secara fisik dapat dilakukan dengan lebih mudah. Dahulu, seseorang harus berkelana atau berjalan jauh menempuh ruang dan waktu untuk menemui seorang pakar untuk mendiskusikan sebuah masalah. Saat ini hal ini dapat dilakukan dari rumah dengan mengirimkan email. Makalah dan penelitian dapat dilakukan dengan saling tukar menukar data melalui Internet, via email, ataupun dengan menggunakan mekanisme filesharring dan mailing list. Bayangkan apabila seorang mahasiswa di Sulawesi dapat berdiskusi masalah teknologi komputer dengan seorang pakar di universitas terkemuka di pulau Jawa. Mahasiswa dimanapun di Indonesia dapat mengakses pakar atau dosen yang terbaik di Indonesia dan bahkan di dunia. Batasan geografis bukan menjadi masalah lagi. Sharing information juga sangat dibutuhkan dalam bidang penelitian agar penelitian tidak berulang (reinvent the wheel). Hasil-hasil penelitian di perguruan tinggidan lembaga penelitian dapat digunakan bersama-sama sehingga mempercepat proses pengembangan ilmu dan teknologi. Virtual university merupakan sebuah aplikasi baru bagi Internet. Virtual university memiliki karakteristik yang scalable, yaitu dapatmenyediakan pendidikan yang diakses oleh orang banyak. Jika pendidikan hanyadilakukan dalam kelas biasa, berapa jumlah orang yang dapat ikut serta dalam satukelas? Jumlah peserta mungkin hanya dapat diisi 40 – 50 orang. Virtual university dapatdiakses oleh siapa saja, darimana saja. Penyedia layanan Virtual University ini adalahwww.ibuteledukasi.com . Mungkin sekarang ini Virtual University layanannya belumefektif karena teknologi yang masih minim. Namun diharapkan di masa depan VirtualUniversity ini dapat menggunakan teknologi yang lebih handal semisal VideoStreaming yang dimasa mendatang akan dihadirkan oleh ISP lokal, sehingga terciptasuatu sistem belajar mengajar yang efektif yang diimpi-impikan oleh setiap ahli IT didunia Pendidikan. Virtual School juga diharapkan untuk hadir pada jangka waktu satudasawarsa ke depan.Bagi Indonesia, manfaat-manfaat yang disebutkan di atas sudah dapat menjadialasan yang kuat untuk menjadikan Internet sebagai infrastruktur bidang pendidikan.Untuk merangkumkan manfaat Internet bagi bidang pendidikan di Indonesia: Akses keperpustakaan, akses ke pakar, melaksanakan kegiatan kuliah secara online, menyediakan layanan informasi akademik suatu institusi pendidikan, menyediakanfasilitas mesin pencari data, menyediakan fasilitas diskusi, menyediakan fasilitasdirektori alumni dan sekolah, menyediakan fasilitas kerjasama, dan lain – lain.

Kendala-Kendala Pengimplikasian di Indonesia

Jika memang IT dan Internet memiliki banyak manfaat, tentunya ingin kitagunakan secepatnya. Namun ada beberapa kendala di Indonesia yang menyebabkan ITdan Internet belum dapat digunakan seoptimal mungkin. Kesiapan pemerintahIndonesia masih patut dipertanyakan dalam hal ini. Salah satu penyebab utama adalahkurangnya ketersediaan sumber daya manusia, proses transformasi teknologi,infrastruktur telekomunikasi dan perangkat hukumnya yang mengaturnya. apakahinfrastruktur hukum yang melandasi operasional pendidikan di Indonesia cukupmemadai untuk menampung perkembangan baru berupa penerapan IT untuk pendidikanini. Sebab perlu diketahui bahwa Cyber Law belum diterapkan pada dunia Hukum diIndonesia. Selain itu masih terdapat kekurangan pada hal pengadaan infrastruterselenggaranya IT untuk pendidikan sementara penetrasi komputer (PC) di Indonesiamasih rendah. Biaya penggunaan jasa telekomunikasi juga masih mahal bahkan jaringantelepon masih belum tersedia di berbagai tempat di Indonesia.. Untuk itu perludipikirkan akses ke Internet tanpa melalui komputer pribadi di rumah. Sementara itutempat akses Internet dapat diperlebar jangkauannya melalui fasilitas di kampus,sekolahan, dan bahkan melalui warung Internet.Hal ini tentunya dihadapkan kembalikepada pihak pemerintah maupun pihak swasta; walaupun pada akhirnya terpulang juga

kepada pemerintah. Sebab pemerintahlah yang dapat menciptakan iklim kebijakan danregulasi yang kondusif bagi investasi swasta di bidang pendidikan. Namun sementarapemerintah sendiri masih demikian pelit untuk mengalokasikan dana untuk kebutuhanpendidikan. Saat ini baru Institut-institut pendidikan unggulan yang memiliki fasilitasuntuk mengakses jaringan IT yang memadai. Padahal masih banyak institut-institutpendidikan lainnya yang belum diperlengkapi dengan fasilitas IT.

Salah satu kendala terbesar yang dihadapi para guru dalam mengelola kelas ialah kesulitan mengajar siswa dalam jumlah besar, dengan latar belakang yang berbeda-beda. Tidak jarang guru menjadi stress, marah, dan ujung-ujungnya proses pembelajaran pun jadi berantakan. Sebenarnya, mengelola kelas yang besar tidaklah terlalu sulit jika kita tahu pendekatan yang tepat dalam membelajarkan siswa. Sebuah kelas dengan jumlah siswa yang banyak dan tingkat heterogenitasnya tinggi, jika dikelola dengan pendekatan yang tepat dapat menghasilkan sebuah komunitas pembelajar yang progresif dan efektif.  Salah satu pendekatan yang paling cocok dalam hal ini adalah model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning).

Cooperative Learning adalah sebuah pendekatan untuk mengorganisir aktivitas-aktivitas kelas ke dalam pengalaman-pengalaman akademik dan sosial. Pendekatan ini telah terbukti berhasil dalam penerapannya, dimana para siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil, dengan tingkat kemampuan yang berbeda-beda, memanfaatkan aktivitas-aktivitas belajar yang beragam untuk meningkatkan pemahaman mereka terhadap suatu pelajaran. Setiap anggota kelompok bertanggungjawab tidak hanya untuk mempelajari apa yang diajarkan guru, namun juga untuk membantu teman-teman dalam kelompoknya untuk belajar. Para siswa harus bekerja dalam kelompok untuk menyelesaikan tugas-tugas secara kolektif. Setiap anggota suatu kelompok dinyatakan berhasil jika kelompok tersebut berhasil.
Usaha-usaha bekerjasama dalam kelompok dalam pembelajaran kooperatif dapat menghasilkan benefit  bagi para siswa yang terdapat dalam sebuah kelompok, dimana semua anggota kelompok dapat:
a.    Memperoleh sesuatu dari usaha satu sama lain (keberhasilan saya menguntungkan kamu, dan keberhasilanmu menguntungkan saya)
b.    Menyadari bahwa semua anggota kelompok menjalani hal yang sama
c.    Mengetahui bahwa pencapaian seseorang  secara mutual disebabkan oleh dirinya sendiri dan anggota-anggota kelompoknya
d.    Merasa bangga dan merayakan keberhasilan seorang anggota kelompok sebagai keberhasilan bersama

Penelitian yang dilakukan para ahli dan praktisi pendidikan membuktikan bahwa teknik pembelajaran kooperatif membawa dampak positif sebagai berikut:
a.    Meningkatkan kualitas pembelajaran dan pencapaian akademik siswa
b.    Meningkatkan kemampuan siswa dalam mengingat
c.    Menambah kepuasan siswa terhadap pengalaman belajarnya
d.    Membantu siswa mengembangkan keterampilan berbicara  (oral skills) dalam berkomunikasi
e.    Mengembangkan keterampilan sosial siswa
f.    Mengangkat harga diri siswa
g.    Membantu memajukan hubungan antar ras yang positif

Cooperative Learning memiliki 5 elemen dasar yang memungkinkannya untuk membuahkan hasil yang lebih produktif ketimbang pendekatan lain yang sifatnya kompetitif dan individualistik. Kelima elemen tersebut ialah:
1.    Saling Ketergantungan Positif (Positive Interdependence)
Saling ketergantungan positif membuat setiap anggota kelompok merasa terhubung satu sama lain dalam proses menyelesaikan suatu tugas atau mencapai suatu tujuan. Usaha dari setiap anggota kelompok sangat dibutuhkan demi kesuksesan kelompok. Setiap anggota kelompok mempunyai sebuah kontribusi yang unik dalam upaya bersama berdasarkan peranannya,  kemampuannya, serta tanggung jawabnya.
Saling ketergantungan positif meliputi hal-hal sebagai berikut:
–    Tujuan, yaitu hasil yang diharapkan dari aktivitas
–    Insentif/dorongan, yaitu alasan mengapa sebuah kelompok harus menyelesaikan tugasnya
–    Sumber daya, yaitu bahan dan alat yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu tugas
–    Peranan, yaitu tugas yang diberikan kepada anggota kelompok untuk memastikan bahwa setiap anggota memberikan kontribusi
–    Sekuen, yaitu tahap-tahap atau langkah-langkah penyelesaian tugas
–    Simulasi, yaitu alternatif pola pikir yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan
–    Tekanan dari luar, yaitu sesuatu yang membatasi waktu atau sesuatu yang digunakan sebagai pendorong untuk pencapaian
–    Lingkungan, yaitu bahwa setiap anggota kelompok berada dalam kedekatan satu sama lain
–    Identitas, yaitu semua anggota kelompok terhubung dalam satu tim

2.    Interaksi Langsung (Face-to face Interaction)
Interaksi langsung merupakan sebuah bentuk interaksi dimana setiap anggota kelompok harus berpartisipasi dengan cara mengkomunikasikan atau mendiskusikan tujuan yang akan dicapai. Dalam interaksi ini para anggota kelompok menjelaskan secara lisan bagaimana memecahkan masalah, saling membagikan pengetahuan, saling mengecek tingkat pemahaman, mendiskusikan konsep-konsep yang sedang dipelajari, serta menghubungkan pembelajaran yang lalu dengan yang sekarang

3.    Pertanggungjawaban Individu dan Kelompok (Individual and Group Accountability)
Pertanggungjawaban individu dan kelompok berarti bahwa setiap anggota kelompok mempunyai tanggungjawab untuk dapat mendemonstrasikan pengetahuan dan pemahaman mengenai ekspektasi-ekpektasi akademik yang dipelajari dan tujuan-tujuan sosial. Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam poin ini yaitu:
–    Para siswa sebaiknya dibagi dalam kelompok-kelompok kecil, karena semakin kecil kelompoknya, akan semakin besar pertanggungjawaban individual yang dapat diberikan siswa
–    Tes individual perlu diberikan kepada setiap siswa
–    Guru perlu menguji siswa secara acak dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan lisan dengan memanggil satu atau dua orang siswa untuk mempresentasikan pekerjaan kelompoknya kepada guru atau seluruh kelas
–    Guru perlu mengobservasi setiap kelompok dan mencatat frekuensi dimana setiap anggota berkontribusi terhadap pekerjaan kelompok
–    Guru perlu menugaskan seorang anggota dalam setiap kelompok sebagai pengecek (checker). Checker menanyakan kepada anggota-anggota kelompok mengenai pokok-pokok gagasan yang menjadi jawaban kelompok.
–    Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengajarkan apa yang telah mereka pelajari kepada teman kelompoknya.

4.     Keterampilan Antarpibadi dan Kelompok Kecil (Interpersonal & Small-Group Skills)
Keterampilan antarpribadi dan kelompok kecil ini adalah keterampilan yang dibutuhkan sebelum atau dikembangkan selama proses bekerja kelompok. Keterampilan sosial yang harus diajarkan antara lain adalah:
–    Kepemimpinan
–    Membuat keputusan
–    Membangun kepercayaan
–    Komunikasi
–    Manajemen konflik

5.    Proses kelompok (Group Processing)
Dalam hal ini anggota-anggota kelompok mendiskusikan sebaik apa pencapaian mereka terhadap tujuan-tujuan mereka dan memelihara hubungan kerja yang efektif. Selain itu, secara bersama membuat keputusan mengenai perilaku-perilaku mana yang dapat diteruskan atau yang harus diubah, serta menjelaskan tindakan-tindakan yang dilakukan di dalam kelompok , mana yang berguna dan mana yang tidak.

Contoh-contoh aktivitas kelas yang menggunakan prinsip Cooperative Learning antara lain adalah:
A.    Jigsaw
Metode Jigsaw dalam menyusun pembelajaran kooperatif melibatkan pembagian informasi atau data ke dalam “potongan-potongan” terpisah yang menjadi satu keseluruhan. Karena keseluruhan dibangun dari potongan-potongan yang berbeda yang bersatu bersama, maka digunakanlah nama “Jigsaw”.
Ada beberapa variasi Metode Jigsaw. Dalam paragraph-paragraf di bawah ini dijelaskan dua struktur jigsaw yang paling umum.
Dalam kedua struktur ini, para murid adalah bagian dari sebuah kelompok dasar yang terdiri dari tiga atau empat murid. Setiap murid dalam kelompok dasar ini bertanggung jawab terhadap potongan-potongan informasi atau tugas yang berbeda-beda. Sebagai satu keseluruhan, kelompok ini harus menggabungkan menjadi satu “potongan-potongannya”, yang mana setiap anggota bertanggung jawab. Kelompok secara keseluruhan bertanggung jawab terhadap kombinasi informasi atau terhadap produk tunggal yang adalah kombinasi dari tugas-tugas yang berbeda-beda.
Dua variasi Metode Jigsaw ini dapat diilustrasikan dengan menggambarkan bagaimana sebuah cerita Alkitab dapat di “jigsaw” dengan dua cara.
Dalam variasi yang lebih sederhana, yang disebut “Simple Jigsaw” (Jigsaw Sederhana), setiap murid dalam kelompok dasar diminta membaca dan mencatat materi, misalnya sebuah cerita Alkitab, dalam porsi tertentu. Lalu kelompok itu bertemu dan setiap murid menceritakan ringkasan catatan mereka kepada teman-teman kelompoknya. Lalu kelompok itu me-review semua materi dan bertanggung jawab terhadapa materi tersebut dengan menjawab quiz, melakukan tugas, atau berpartisipasi dalam diskusi kelas.
Dalam variasi yang lebih rumit, yang disebut “Expert Jigsaw” (Jigsaw Ahli), murid-murid diberi tugas dalam kelompok dasar mereka seperti telah dijelaskan sebelumnya. Namun demikian, sebelum melaporkan kepada kelompok dasar mereka, murid-murid terlebih dahulu bertemu dengan 1,2, atau 3 murid dari kelompok lain yang diberi tugas dengan porsi yang sama dengan mereka. Dalam “kelompok expert” ini, murid-murid bekerja sama untuk menentukan apa yang akan dipresentasikan kepada kelompok dasar mereka dan mendiskusikan hal ini bersama-sama agar supaya menjadi “ahli (expert)”. Setiap murid kemudian mempresentasikan materinya kepad akelompok dasarnya yang akan bertanggung jawab terhadap materi tersebut seperti telah dijelaskan sebelumnya.
SARAN-SARAN PENGGUNAAN:

Cobalah men”jigsaw” sebuah lembar kerja, ayat-ayat hafalan, cerita-cerita Alkitab, masalah istilah-istilah dalam Matematika, me-review pertanyaan atau sebagian porsi dari buku teks.
B.    Berpikir-Berpasangan-Berbagi (Think-Pair-Share)
1.    Pengutaraan Masalah
2.    Waktu untuk Berpikir
3.    Kerja Berpasangan
4.    Berbagi dengan Seluruh Kelas

Dalam Berpikir-Berpasangan-Berbagi, sebuah pertanyaan diajukan, murid-murid berpikir sendiri tentang pertanyaan tersebut dalam waktu yang ditentukan, umumnya 30 detik sampai 1 menit, lalu membentuk pasangan-pasangan untuk mendiskusikan pertanyaan itu dengan seseorang di kelas. Selama waktu berbagi/sharing, murid-murid dipanggil ke depan untuk membagikan jawaban mereka kepada kelas sebagai satu keseluruhan.
Terkadang anda mungkin dapat meminta pertanggungjawaban murid-murid dalam mendengarkan partner mereka. Selama waktu berbagi/sharing, panggillah murid-murid untuk memberitahu jawaban yang mereka punyai dengan partner mereka.
C.    Berpikir-Berpasangan-Menyelesaikan (Think-Pair-Solve)
1.    Waktu untuk Berpikir
2.    Waktu untuk Berpasangan
3.    Kerja Menyelesaikan Masalah

Dengan mensubstitusi diskusi tim untuk langkah terakhir Berpikir-Berpasangan-Berbagi, tercipta sebuah struktur yang sama sekali berbeda. Murid-murid tetap menyelesaikan dua langkah berpikir pertama, lalu berbagi dengan salah seorang anggota lain dalam tim mereka, lalu keseluruhan tim berbagi bersama. Jika murid-murid mendiskusikan topik di dalam tim mereka, dan bukannya satu persatu murid berbagi dengan seluruh kelas, aka nada lebih banyak partisipasi aktif.
Jika murid-murid duduk dalam kelompok-kelompok, mudah untuk meminta murid-murid mendiskusikan sebuah topik, baik dalam pembukaan maupun kesimpulan yang anda buat. Contohnya, pada akhir pelajaran tentang Nuh dan air bah, anda dapat bertanya, “Mengapa Tuhan membinasakan seluruh bumi kecuali Nuh dan keluarganya? Pikirkanlah jawabannya, berbagilah dengan seorang partner dalam tim, lalu beritahukanlah jawaban-jawaban kalian pada seluruh anggota tim”.
D.    Numbered-Heads Together
Numbered-Heads Together adalah jawaban terhadap metode tradisional “Pertanyaan dan awabanSeluruh Kelas” yang digunakan guru untuk mengecek pengertian atau melakukan review singkat. Guru tidak menanyakan pertanyaan dan memanggil seorang siswa yang mengacungkan tangan, melainkan kegiatan Numbered-heads ini akan membuat seluruh kelas berpikir dan terlibat.

Numbered-Heads Together:
1.    Murid-murid diberi nomor
2.    Murid-murid berdiskusi
3.    Guru mengajukan  pertanyaan
4.    Guru memanggil sebuah nomor

EMPAT LANGKAH:
Numbered-Heads Together adalah struktur yang sederhana, terdiri dari empat langkah begitu para murid sudah berkumpul dalam kelompok-kelompok yang masing-masing terdiri dari empat murid.
1.    MURID DIBERI NOMOR
Murid diberi nomor satu sampai empat dalam setiap kelompok.Jika satu atau dua kelompok hanya punya tiga anggota, mereka harus bergiliran menjawab ketika nomor empat dipanggil.
2.    GURU MENGAJUKAN PERTANYAAN
Guru mengumumkan sebuah pertanyaan, dan, jika perlu, batasan waktu. Ini adalah waktu yang baik untuk menanyakan pertanyaan tentang aplikasi praktis dalam hidup mereka dari sebuah cerita Alkitab, daripada hanya menanyakan pertanyaan-pertanyaan faktual.
3.    MURID-MURID BERDISKUSI
Murid-murid,secara harafiah, mendekatkan kepala mereka dan berkumpul bersama untuk memastika setipa orang tahu jawabannya. Peran seorang “pengecek” bisa ditambahkan di sini agar supaya satu orang bertanggung jawab untuk memastikan setiap orang tahu jawabannya.
4.    GURU MEMANGGIL SEBUAH NOMOR
Guru memanggil sebuah nomor secara acak dan murid-murid di setiap kelompok yang mempunyai nomor tersebut mengangkat tangan (atau berdiri) jika mereka tahu jawabnnya dan guru memilih salah satu dari murid-murid itu untuk menjawab.

Variasi: Cobalah melempar dadu untuk membuat kegiatan Numbered-Heads ini seperti permainan dan juga anda tidak perlu mengingat-ingat nomor berapa yang sudah anda panggil terlalu sering.

Jika hanya ada sedikit tim yang punya murid yang mengangkat tangan (atau berdiri), anda dapat berkata “ Tidak cukup nomor_____yang mengangkat tangan; akan kuberi kalian satu menit lagi untuk memastikan semua nomor_____ tahu jawabannya”. Anda mungkin harus menata ulang pertanyaan supaya murid-murid lebih mengerti.
Jika ada beberapa bagian dalam jawaban, maka guru akan mendapatkan partisipasi yang lebih banyak dengan memanggil satu tim untuk menyebutkan satu bagian, tim lain untuk menyebutkan bagian yang lain, dan seterusnya.
Jika seorang murid memberi jawaban yang hanya benar sebagian, guru dapat bertanya, “Apakah ada nomor_____ lain yang dapat menambahkan sesuatu untuk jawaban itu?”

E.    Roundtable dan Roundrobin
Roundtable dan Roundrobin adalah struktur pembelajaran kooperatif sederhana yang dapat digunakan dengan subyek manapun. Roundtable paling banyak digunakan pada awal sebuah pelajaran untuk mengadakan aktivitas pembangunan tim yang berhubungan dengan isi pelajaran.
ROUNDTABLE
Langkah-langkah Roundtable (berurutan):
Langkah 1. Permasalahan. Guru menanyakan sebuah pertanyaan dengan banyak kemungkinan jawaban, misalnya sebutkan semua nama cabang olahraga yang kamu tahu, semua kitab dalam Alkitab (PL/PB), semua bagian kalimat, semua nama suku-suku asli.
Langkah 2. Kontribusi Murid. Murid-murid membuat sebuah daftar di secarik kertas, setiap anak menulis satu jawaban lalu meneruskan kertas tersebut kepada orang di sebelah kirinya. Kertas itu lalu berjalan mengelilingi meja, maka nama kegiatan ini-Roundtable (Meja Bundar)
Variasi: Struktur ini dapat digunakan dalam berbagai macam cara. Roundtable dapat dijalankan tidak dengan tekanan waktu atau dapat dibentuk dalam format perlombaan, dengan penghargaan yang diberikan pada tim yang mendapatkan jawaban paling banyak, atau dengan penghargaan terhadap tujuan kelas yang adalah hasil kontribusi seluruh tim. Adalah baik jika Roundtable dijalankan dalam berbagai macam cara. Jika aktivitas ini dijalankan sebagi perlombaan, mungkin ada baiknya untuk menyeimbangkan suasana kompetisi yang tercipta dengan menggunakan hanya sedikit atau tidak ada sama sekali tekanan waktu. Keefektifan Roundtable dan Roundrobin seringkali ada dalam proses kreasinya, bukan pada produk hasilnya.
Roundtable Serempak: Terkadang untuk jawaban-jawaban panjang atau ketika produk adalah tujuan, dua, tiga, atau bahakan empat kertas dapat disebarkan secara serempak. Sebagai contoh, sebuah Roundtable tentang Makanan Kelompok mungkin mempunyai kertas yang mewakili setiap kelompok makanan.
Roundtable Berpasangan: Murid-murid bekerja dalam pasangan dalam kelompok empat orang. Mereka meneruskan secarik kertas ke depan dan ke belakang, sambil menulis jawaban untuk persoalan yang memiliki banyak jawaban. Ketika waktu habis, mereka membandingkan jawaban-jawaban mereka dengan jawaban-jawaban pasangan lain dalam timnya. Mereka lalu menyimpulkan bahwa dua pasang pasangan lebih baik daripada hanya satu. Catatan: Roundtable berpasangan melipatgandakan partisipasi dibandingkan Roundtable Berurutan.
ROUNDROBIN
Roundrobin adalah rekan penyeimbang oral dari Roundtable: murid-murid cukup bergiliran menyatakan pendapat, tanpa perlu mencatat. Roundrobin dapat digunakan untuk anak-anak yang masih terlalu kecil untuk menulis; atau ketika tujuannya adalah partisipasi dan bukan produk. Roundrobin untuk murid-murid yang lebih besar disebut Shareround (Berbagi Berkeliling).
PENGAPLIKASIAN
Secara informal, Roundtable dan Roundrobin seringkali dapat digunakan sebagai aktivitas satu-kali untuk mengenalkan atau menyediakan materi awal untuk sebuah pelajaran Alkitab. Ketika kekurangan lembar kerja, murid-murid dapat bergiliran berkontribusi dalam satu lembar kerja per kelompok. Pada usia yang sangat muda, aktivitas ini dapat berarti setiap anak menandai satu huruf diantara banyak huruf atau memasukkan sebuah barang ke dalam keranjang yang dikelilingkan di meja.

Hasil: Tim-tim bekerjasama ketika melakukan Roundtable/Roundrobin. Sikap membantu meningkat. Kegiatan ini mendorong partisipasi dari murid-murid yang pemalu. Mengikuti Roundtable/Roundrobin, murid-murid cenderung mencari partisipasi dari seluruh anggota, bahkan dalam situasi-situasi dimana partisipasi penuh tidak direncanakan. Roundtable dan Roundrobin sangatlah efektif dalam menciptakan identifikasi tim yang posotif dan kemauan untuk bekerja dalam tim.

Models of Teaching, Dr. Phill Basset, 2008

– Kagan, Spencer. Cooperative Learning. San Clemente, CA: Kagan Publishing, 1994

PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS DI KELAS

Pembelajaran Bahasa Inggris di Bangku Sekolah: Apakah Efektif?
Tidak bisa dipungkiri, kemampuan berbahasa Inggris merupakan salah satu kriteria untuk dapat sukses berpartisipasi dalam era globalisasi. Kali ini, kami menanyakan kepada para Student Ambassador kami:

“Apakah menurut kamu pelajaran bahasa Inggris yang didapatkan selama berada di bangku sekolah menengah telah cukup sebagai bekal untuk terjun ke dunia kerja dalam era globalisasi ini? Jika tidak, apakah yang kamu lakukan untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggrismu di luar sekolah? Apabila ada, silahkan membagi tips & trik belajar bahasa Inggris kamu dengan para pembaca.”

Simak penuturan mereka yang humoris, inovatif dan kreatif!

“Belajar terkadang tidak melulu berkaitan dengan kecerdasan kognitif belaka, tetapi juga masalah teknis dan kebiasaan. Agaknya, sepotong pepatah lama yang berbunyi ‘bisa karena terbiasa’ ada benarnya juga…”

Sepanjang paruh liburan penutup semester genap kemarin, saya berada di kota kelahiran saya–Bandar Lampung. Kebetulan beberapa kali saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah saudara sepupu saya yang masih duduk di kelas 1 SMP.  Setibanya di sana, saudara sepupu saya yang bernama Marcelia malah menyodorkan buku PR Bahasa Inggrisnya—bukannya suguhan makanan kecil seperti yang saya harapkan. Duh…mau tidak mau, dengan terpaksa saya kerjakanlah tugas sekolahnya itu hingga selesai. Tante saya yang tak lain dan tak bukan adalah Ibu kandung Marcelia mengeluh tentang betapa sulitnya pelajaran Bahasa Inggris dan matematika sehingga tambahan kursus di luar menjadi satu kebutuhan yang mendesak. Lantas, saya  jadi bertanya-tanya sendiri dan melakukan refleksi tentang masalah ini.

Agaknya, tidak berlebihan bila Bahasa Inggris memang amat sangat dibutuhkan dalam abad kontemporer ini. Setiap zaman diatur oleh sebuah sistem episteme tertentu, begitulah kira-kira kalau tidak salah kata Michel Foucault, sang filosof pujaan saya. Pada zaman ibu saya masih single dulu, Bahasa Inggris masih menjadi satu barang antik. Belum bergeser kedudukannya menjadi ibarat sembako bila diibaratkan dengan keadaan sekarang. Tetapi, itu dulu. Sistem masyarakat, seperti budaya, sosial, ekonomi bukan sesuatu yang statis. Pergerakannya memunculkan kebutuhan baru sekaligus perubahan pada sendi-sendi sistem tersebut membentuk pembaruan maupun kritik terhadap sistem lama. Dobrakan globalisasi kini meraja. Penguasaan Bahasa Inggris jadi salah satu kebutuhan primer.

Sayangnya, kebutuhan akan Bahasa Inggris yang amat sangat mendesak ini tidaklah dibarengi dengan sarana dan prasarana yang cukup, khususnya bila kita menilik pelajaran Bahasa Inggris yang diberikan di sekolah. Banyaknya jam pelajaran Bahasa Inggris yang diberikan di sekolah (yang nyatanya, memang tidak banyak karena harus berbagi proprosi dengan mata pelajaran lainnya) tidaklah memadai untuk mencukupi kebutuhan penguasaan Bahasa Inggris yang diharapkan. Meskipun pada beberapa sekolah pemberian pelajaran Bahasa Inggris telah diberikan semenjak jenjang TK, perlu dilihat pula apakah sistem pengajarannya bisa mengakomodasi kemampuan anak didiknya. Sebab anak kecil masih membutuhkan banyak waktu bermain dan bersenang-ria dengan sebayanya, jangan sampai materi yang berat merusak kegembiraan masa kecilnya yang kaya akan imajinasi.

Coba bayangkan, kita yang lahir di negara Indonesia tentu dapat menguasai bahasa Indonesia dengan sendirinya, begitu pula dengan saudara-saudara kita di belahan dunia lain. Mengapa demikian? Kita bisa karena terbiasa. Kita lihai karena setiap hari kita bertemu dengan bahasa itu dan menggunakannya secara aktif dalam komunikasi antarindividu. Pengalaman empiris membentuk kemampuan berbahasa—disamping perubahan volume otak manusia yang diusung teori evolusioner dalam menyediakan wadah untuk mencerap, membentuk, dan memaknai bahasa. Bahasa bukanlah sesuatu yang sudah terprogram dalam diri individu seperti chip komputer yang sudah ditanam dalam tubuh individu. Tetapi, didapat melalui media sosialisasi.

Penguasaan Bahasa Inggris akan sangat baik bila dibarengi dengan penggunaan aktif, seperti pepatah ‘bisa karena terbiasa’ tadi. Cara belajarnya pun sebisa mungkin dibuat semenarik mungkin sehingga para siswa tidak jadi bosan yang ujung-ujungnya membuat mereka bertambah malas.

Beberapa tips yang dapat saya berikan untuk belajar Bahasa Inggris yang menyenangkan antara lain:

1. Bergabunglah dalam English Club. Di sini, kamu bisa belajar vocabulary lewat permainan Scrabble, menyampaikan ide mereka lewat debate contest, dan melatih penguasaan grammar lewat writing. Terlebih, mereka juga dapat memperluas lingkaran pertemanan yang ada.

2. Baca, Baca, Baca! Membaca di sini bukan berarti membaca buku pelajaran melulu. Tetapi, bisa membaca buku dongeng, novel pop remaja, atau novel sastra klasik dalam Bahasa Inggris. Membaca suatu karya fiksi akan sangat menyenangkan karena dengan sendirinya, kamu akan hanyut dalam alur ceritanya yang menarik.

3. Nonton dan Dengarkan Musik. Coba iseng-iseng kamu nonton DVD dengan tidak menggunakan teks (subtitle) apapun. Belajarlah untuk menangkap ide ceritanya lewat dialog para tokoh-tokohnya. Selain itu, kamu juga bisa belajar banyak dengan menerjemahkan atau mendengarkan dengan seksama lirik lagu favorit kamu.

4. Layangkanlah Sayapmu! Tentu saja bukan maksud saya untuk menyuruh terbang. Tetapi, cobalah untuk memperluas jaringan persahabatan dengan teman-teman di luar negeri. Misalnya, lewat friendster. Kamu bisa berlatih Bahasa Inggris dengan sendirinya saat  berkirim-kiriman email atau message sembari cari teman atau jodoh baru.

Kuncinya adalah satu: practice makes perfect. Kita bisa karena terbiasa. Bila kita hanya diam saja dan berpangku tangan, kapan kita mau bisa? Ah…saya jadi tersindir sendiri saat menulis ini. Soalnya, sudah sejak lama saya mengidam-idamkan perut berkotak enam, alias sixpack. Tetapi berhubung saya malas melatihnya, maka saya hanya mengharapkan mukjizat supaya keinginan saya terkabul. Dan alhasil, kini perut saya one-pack, alias menggembung ke depan.

2008 bukan lagi zaman dimana kita sebagai pelajar atau mahasiswa hanya berdiam diri di kelas menunggu guru atau dosen yang mengajar menyuruh kita untuk menulis serentetan catatan besar dalam buku pelajaran kita. Masa-masa itu hanya pernah dilewati oleh orang tua kita. Sebagai manusia yang hidup di era globalisasi ini, kita dituntut untuk serba cepat. Tidak lagi dipingit oleh orang tua dirumah. Kaum muda zaman sekarang sudah bisa mengeksplor dirinya sendiri dalam berbagai bidang. Tidak sedikitnya orang mencapai kesuksesan di masa mudanya.

Bagian penting yang wajib hukumnya kita kuasai dalam era globalisasi ini adalah Bahasa inggris. Mengapa? Karena Bahasa inggris merupakan bahasa internasional yang sudah mendunia. Tidak hanya diluar negeri, didalam negerpun bahasa inggris mulai dirasakan sangat penting apalagi ada kaitannya dengan karir. Terbukti dengan banyaknya persyaratan bekerja ke perusahaan-perusahaan, mahir berbahasa inggris menjadi salah satu syarat utama. Pertanyaannya adalah, apakah kemampuan bahasa inggris kita sudah mencukupi untuk bisa terjun kedunia pekerjaan? Sedangkan menurut saya pribadi, pelajaran bahasa inggris yang diterapkan dibangku sekolah sangat tidak efektif. Karena dalam satu minggu kita hanya mendapatkan dua sampai empat jam saja untuk mempelajari bahasa inggris tersebut. Itupun kita hanya mendapatkan teori-teori dasarnya saja.

Mengingat hal yang telah saya sebutkan tadi diatas, ada beberapa alternatif untuk kita bisa mempelajari bahasa inggis secara efektif. Misalnya kita dapat mengikuti kursus bahasa inggis, tentu saja diluar jam sekolah. Kursus tidak akan memakan waktu lama sampai bertahun-tahun lamanya, dengan hanya beberapa bulan saja kita bisa melancarkan kemampuan berbahasa inggris kita. Tentunya dengan cara itu kita harus mengeluarkan sejumlah uang, apa salahnya sih berkorban demi kemajuan kita sendiri?

Hal lain selain kursus, saya biasanya mencari text atau kata-kata atau bisa juga saya temui dalam lagu berbahasa inggris. Dengan cara seperti itu, saya menjadi tidak malas untuk membuka kamus bahasa inggris. Lumayan kan? Bisa menambah pembendaharaan kata dalam bahasa inggris saya. Dan selain yang saya sebutkan diatas, karena saking cintanya saya terhadap bahasa inggris. Sekarang saya menuntut ilmu di jenjang Perguruan Tinggi dengan mengambil jurusan sastra inggris. Dimana jam pelajaran bahasa inggris yang saya pelajari sekarang jauh lebih banyak waktunya dan lebih efektif karena hal-hal yang saya pelajari lebih spesifik dan lebih fokus kepada bahasa inggris itu sendiri.

Jadi, ada seribu macam cara yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu untuk kita bisa mahir atau menguasai bahasa inggris. Cara mana yang akan kamu pilih? Selamat belajar bahasa inggris.

Kriiing!

Di masa kelas 3 SMA dulu, setiap kali bel pelajaran terakhir berdentang biasanya semua teman-teman saya menyegerakan diri masuk ke dalam kelas. Entah itu si rajin, si usil, atau si tukang-curi-curi-jajan-kala-pelajaran. Sebab, jam pelajaran terakhir adalah Bahasa Inggris! Miss Ira, guru ter-gaul di angkatan saya memang sangat strict mengenai absen. Jika telat, waah.., pintu kelas akan dikunci rapat-rapat. Namun, overall, pelajaran Bahasa Inggris yang diajarkan Miss Ira berlangsung kondusif. Cukup berbeda dengan kelas-kelas Bahasa Inggris tahun sebelumnya, di mana jam Bahasa Inggris terasa santai dan kondusif… untuk mengobrol. Maklum, pelajaran Bahasa Inggris dianggap sebagai ilmu yang mudah. Padahal pada kenyataannya ternyata baik saya maupun teman saya masih sering lho membuat kesalahan soal grammar.

Bagi saya (yang beberapa bulan lalu masih menyandang status siswa), ada 1 kejadian yang mengetuk hati saya mengenai betapa challenging-nya pelajaran Bahasa Inggris. Waktu itu saya masih kelas 1 SMP dan guru saya menyuruh para murid untuk membuat satu kalimat deskriptif berdasarkan gambar. Ia menggambar lelaki yang berdiri di samping kuburan. Kemudian saya menulis : The man stand beside the cemetery. Guru saya tersenyum dan mengoreksinya dengan : The man is standing beside the cemetery. Waw, sejak saat itu aturan tenses dalam Bahasa Inggris menjadi ‘musuh besar’ yang benar-benar ingin saya taklukkan!

Materi Bahasa Inggris yang diberikan semasa saya SMA sangat lengkap, dan buku penunjangnya pun baik. Namun, jujur saja saya justru merasa mendapat lebih banyak pencerahan dengan latihan online yang tersedia gratis di Internet. Caranya mudah sekali, bukalah si Paman Google dan ketik English Exercises. Tadaa, situs-situs pelajaran Bahasa Inggris akan langsung muncul. Yang paling menyenangkan adalah, ketika kita membuat kesalahan dalam Bahasa Inggris, situs-situs itu akan mengoreksi sekaligus member tahu letak kesalahannya. Belajar dari kesalahan memang memberikan pemahaman yang lebih mendalam.

Bermain-main dengan tenses itu memang benar-benar menantang. Tahap pertama dari penguasaan tenses adalah dengan metode hapalan. Hapalkan pola tenses! Niscaya, rumus-rumus tenses akan terlihat sama menyebalkannya dengan rumus Fisika, di mata saya. Daaan.. pun ketika kita sudah hapal rumus tenses tersebut tidak jaminan kita bisa lihai dalam memasukkannya ke dalam paragraf. Oke, kita mungkin hafal (dengan otak kiri) jenis-jenis tenses sekaligus fungsinya. Namun, bagaimana penggunaannya nyatanya? Misalnya waktu kita membuat cerpen dalam Bahasa Inggris. Metode hapalan pola tenses tidak akan terlalu efektif apabila kita tidak memahami atau terbiasa memakai kalimat dengan bermacam-macam tenses.

Belajar Bahasa Inggris menyangkut dua sisi yaitu sisi pasif dan aktif. Sisi pasif adalah Reading dan Listening. Sedangkan sisi aktif adalah Writing dan Speaking. Menurut saya, tingkat kesulitan sisi aktif lebih tinggi.

Sekarang sebagai mahasiswi Ilmu Komunikasi, saya sadar benar bahwa mengolah Bahasa Inggris adalah suatu kewajiban, untuk modal saya bersaing dalam dunia kerja nanti. Oleh karena itu, saya punya hobi baru untuk belajar Bahasa Inggris secara efektif. Eemm, some people might call it freacko-thingie in a way, but I’d rather call this a super-genius way to learn English hehe. I name it “Translation Time”. Oke, jadi saya butuh:

Satu buku Harry Potter dan Tawanan Azkaban

Satu buku Harry Potter and the Prisoner of Azkaban

Aturan mainnya adalah, saya pilih 1 bab random dari buku Harry Potter yang berbahasa Indonesia lalu saya baca. Selanjutnya, saya mencoba menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris. Setelah selesai, saya buka buku yang berbahasa Inggris, lalu.. (ini bagian yang paling menyenangkan) ketika terjemahan yang saya buat, tensesnya tepat atau bahkan kalimatnya sama persis dengan yang ditulis oleh Joanne Kathleen Rowling! Tenses yang tepat saya bold dan beri warna hijau, yang salah merah, dan untuk kalimat yang sama persis saya beri warna biru. Dari situ, saya merasa dapat belajar mandiri sekaligus mengetahui kesalahan-kesalahan yang saya buat. You should try this game. Jika Anda ingin mencobanya, sediakan 2 buku novel yang berbeda bahasa namun judulnya sama. Contoh paling mudah tentu saja, Harry Potter. Come on, who doesn’t own Harry Potter books? E-Books are available anyway. So let’s try it yourself!

Memo dari Head Counsellor http://www.studiluarnegeri.com:

Saya hanya ingin mengomentari sedikit artikel yang ditulis oleh Student Ambassador Keishkara yaitu bahwa kedua kalimat di atas

The man stand beside the cemetery.

The man is standing beside the cemetery.

Keduanya adalah benar. Hanya saja, kalimat pertama seharusnya adalah The man stands beside the cemetery. Jadi hanya kurang “s” saja di akhir kata stand.

Perbedaan antara kedua kalimat di atas adalah dari segi aspect nya yaitu fitur grammar yang menjelaskan apakah kata kerja terkait menggambarkan sesuatu yang telah terjadi, sedang terjadi, akan terjadi, atau terjadi secara kontinyu. Kalimat pertama menggambarkan simple present sedangkan kalimat kedua menggambarkan present progressive.

Semoga membantu,

Sardani

Reading Strategy

Reading Strategies
Transfer: This means using ideas that you already have to make learning easier. For example, if you know that a paragraph (like a hamburger) usually has an introduction, a middle containing supporting detail, and a conclusion, you can use this knowledge to skim (read very quickly, by missing out non-important information, to understand the general topic) a text because you know that you only have to read the introduction and conclusion of both the whole text and the paragraphs.

Translation: You can read a story in a newspaper in your own language first, then read the same story in an English newspaper. Most of the story will probably be the same, so the story in your own language will help you to prepare for reading in English. For example, it will give you vocabulary, and when you read the English story and there is some vocabulary that you don’t know, then you can use your knowledge of the story to guess what the new vocabulary is.

– Inferencing: You can also use the strategy of reading a newspaper story in your own language first for prediction. You can predict the contents of the same story in an English newspaper. Reading to confirm your predictions is easier than reading with no background information. Click here for more information on reading newspapers.

– Prediction: As well as predicting from newspaper stories in your own language, you can predict from your knowledge of the world, you knowledge of how people think, write and talk, and your knowledge of what the writer is like. For example, if you are reading a book it is a good idea to read about the author and the contents (on the cover or at the front of the book) to help you make predictions about what he or she believes.


Studying: Reading Skills

Reading skills you might find useful are: skimming, scanning, predicting, understanding the organisation of a text, guessing meanings and identifying a writer’s attitude and purpose.

Skimming is looking through a text very quickly to understand the main topics and arguments. Read the introduction, headings, first and last sentence of each paragraph, and the conclusion. This will help you read and find information faster.

Scanning is looking for details to answer questions that you have. Use the results of your skimming (see above) to find relevant sections, then look quickly through those sections looking for key words that are relevant to your question. This will help you read and find information and quotes faster. Click here for a program called the Scanner in which you paste in your writing, and the program scans it and highlights words that are easy to scan for.

Predicting is guessing the content of a text based on your knowledge of the subject, the author’s area of expertise and opinions, and the context. You can do this by asking yourself ‘journalistic questions‘ about the topic before reading.

You need to understand the organisation of a text at 2 levels, at the paragraph level and at the whole text level. The paragraph level means understanding the organisation of the sentences in a paragraph, and the links between them. For example you can draw arrows from words like ‘he’, ‘she’, ‘they’, and ‘it’, back to the nouns they refer to, like this:

Metode Pembelajaran Bahasa Inggris

Metode Pembelajaran Bahasa Inggris Revolusioner untuk Dewasa

Belajar lebih cepat dan efektif dengan metode Efekta™

Dikembangkan selama beberapa tahun dengan dana US$40 juta, metode pembelajaran Efekta™ merupakan salah satu loncatan terbesar dalam sejarah pembelajaran bahasa Inggris 20 tahun terakhir ini. Dirancang khusus oleh Tim Peneliti dan Pengembang Akademik EF, Efekta™ menggabungkan metode pengajaran terbaik dengan teknologi terkini; hasilnya adalah kursus bahasa Inggris yang canggih dan efektif, yang membantu Anda belajar bahasa Inggris lebih cepat.

Cara kerja metode pembelajaran Efekta™

• Kombinasi sempurna antara pengajar, teknologi & Life Club

Metode pembelajaran bahasa Inggris Efekta™ pada dasarnya sederhana. Guru penutur asli mengasah ketrampilan berbicara dan pelafalan di kelas. Selain itu, pembelajaran Anda juga didukung tutorial online iLAB – lab bahasa Inggris inovatif EF. Kombinasi ini secara terarah, fleksibel dan cepat membantu Anda meningkatkan kemampuan bahasa Inggris Anda dalam berbagai hal, seperti kosa kata, aksen, pelafalan serta tata bahasa. Anda juga dapat mengikuti kegiatan seru Life Club – seperti klub penggemar kopi, pojok percakapan, makan malam dan pesta – yang membuat Anda tetap belajar bahasa Inggris meskipun berada di luar kelas. Kursus ini tidak hanya secara efektif membantu Anda belajar bahasa Inggris lebih cepat, tetapi juga menjadikan belajar bahasa Inggris menyenangkan.

Temukan informasi lebih lanjut mengenai Life Club

• Keunggulan metode pembelajaran bahasa Inggris Efekta™

Lebih cepat: Anda belajar lebih banyak di kelas karena waktu tidak dihabiskan hanya untuk menghafal, tapi untuk bercakap-cakap.

Fleksibel: Anda bisa membawa Efekta™ pulang. Apabila Anda ingin belajar kapan saja sesuai dengan keinginan Anda, Anda dapat memilih iLAB – yang memungkinkan Anda berlatih bahasa Inggris secara online – sebagai penunjang belajar Anda. Hubungi course consultant Anda untuk informasi lebih lanjut.

Terarah: Anda bisa belajar lebih banyak di lab bahasa karena Anda dapat memfokuskan diri secara khusus pada kelemahan Anda dan pada topik-topik yang Anda sukai.

Sesuai kebutuhan: Kursus menjadi lebih personal karena Anda dapat memilih hampir 100 topik khusus sebagai tambahan pelajaran reguler yang Anda dapatkan di kelas. Misalnya, bahasa Inggris untuk perfilman, bahasa Inggris untuk pariwisata atau bahasa Inggris bidang perbankan.