Kenapa kemampuan peserta didik bervariasi

Kenapa kemampuan peserta didik bervariasi

Dalam beberapa puluh tahun terakhir ini kondisi proses belajar mengajar dirasakan berbeda oleh beberapa praktisi pendidikan di lapangan. Di beberapa sekolah terutama sekolah yang memiliki mutu pelaksanaan pendidikan lebih terjamin dan menerapkan kedisiplinan yang lebih tegas tidak menghadapi masalah yang serius dalam penangan anak-anak yang bermasalah. Namun beberapa sekolah mengeluhkan akan kondisi proses belajar –mengajar di tempat mereka cukup merisaukan.Kondisi kela yang mereahkan para intatni Pendidikan, para pendidik / praktii dan para orang tua murid untuk beberapa ekolah bisa dilihat dari berbagai sisi. Kita tidak bisa menyalahkan epihak saja. Misalnya faktor fik eperti bangunan, lingkungan, facilita, faktor oial termauk para taf adminitari, para guru, murid, peronil lainya yang terlibat dalam itim ini. Itim pendidikan eperti program pendidikan, kurikulum, dan management merupakan hal yang penting juga dalam menuju keberhailan utau pendidikan. Untuk beberapa anak didik di ekolah tertentu bioaanya kelompok anak dengan kategori non-TPA ( tanpa melalui tet potensi akademik) atau non NEM  kadangkala minat belajarnya jauh lebih rendah. Karena Pendidikan nasional kita menuntut standar minimal keberhasilan untuk mata pelajaran tertentu, hal inipun memicu keresahan instansi pendidikan bagaimana memacu atau mengejar target kelulusan para anak didiknya di sekolah yang mutu inputnya atau kwalitas peserta didiknya lebih rendah. Jadi yang menjadi ujung tombak pencapain target nasional kelulusan adalah guru yang terlibat langsung dalam proses belajar mengajar atau wali mereka. Faktor individu guru itupun tidak bisa melulu disalahkan, faktor lingkungan juga memegang peranan penting dalam menciptakan suasana proses belajar mengajar yang ambur adul.Jika di lihat dari sisi anak didik bisa saja, kita bisa melihat latar belakang anak didik tersebut. Membahas latar belakang anak didik sungguh sangat luas itu sudah mencakup sikap anak secara keseluruhan. Walaupun demikian sikap yang terbawa dari keluarganya atau lingkungan luar sekolah kadangkala memegang peranana penting dalam penciptaan suasana diatas. Dalam hal ini saya hanya ingin melihat sikap-sikap apa saja yang ditunjukkan oleh anak yang bersangkutan selama di dalam kelas atau bisa saja di luar kelas dilingkungan sekolah. Untuk memperoleh output yang optimal  diperlukan kiat-kiat atau strategi jitu sebagai pendekatan untuk adanya perubahan sikap minimal selama proses belajar mengajar. Paper ini akan mencoba menguraikan hasil pengamatan perubahan sikap anak-anak didik yang dianggap bermasalah oleh sipengamat setelah pendekatan strategi didilaksanakan. Object pemngamatan yang diambil juga lebih khusus yaitu kelas sosial 2 (sering disebut kelas jurusan sisa pilihan  atau kelas X8 atau (kelas yang dianggap kelas diluar jalur atau non TPA dan NON NEM oleh personil lingkungan sekolah tersebut ie.Sakura). Penentuan kelas-kelas ini sebagai object pengamatan karena klompok kelas inin cendrung lebih banyak menciptakan suasana kacau atau minat dan perhatian untuk mengikuti proses belajar-mengajar lebih kecil.

Profil Kelas

Satu unit satuan Pendidikan SMA Negeri I Kuta Utara yang terdiri dari tiga program studi antara lain program Ilmu Pengetahuan Alama ( IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), dan program Bahasa (IPB), masing terbagi menjadi 4 kelas IPA, 2 kelas IPS, dan kelas Bahasa untuk tahun ajaran 2004/2005.

Sebagian besar anak-anak sampai belakangan ini masih mengesankan bahwa jurusan yang mendapat prioritas pilihan atau sering disebut jurusan favourite bagi kalangan siswa adalah jurusan IPA. Sedangkan jurusan IPS dan IPB dianggap jurusan sisa pilihan apabila sejumlah siswa yang tidak terpilih di jurusan IPA mereka menerima jurusan yang ditentukan ini oleh bimbingan konseling sekolah.

Dari segi jumlah siswa masing-masing kelas bervariasi. Mulai dari jurusan IPA biasanya jumlah siswa yang mendapat jurusan ini paling besar. Pertanyaanya apakah semua jumlah ini dikelompokkan karena murni dari nilai mata pelajaran yang bisa digolongkan ke jurusan tersebut atau apakah ada permintaan mendesak dari siswa untuk memperoleh jurusan ini. Untuk mengetahui lebih lanjut perlu diadakan penelitian lebih lanjut.

Dengan kecendrungan jurusan IPA memperoleh anggota paling banyak  otomatis jurusan IPS dan IPB masing-masing memperoleh peminat lebih kecil. Bahkan jurusan IPB yang sering dianggap jurusan buangan atau sisa pilihan memperoleh partisipant yang paling kecil, kadang-kadang satu kelas jumlahnya 20 orang siswa dengan perbandingan siswa pria : siswa perempuan , 42% : 58% contoh untuk tahun ajaran 2004/2005.

Profil kelas IPB tahun ajaran 2004/2005

Pada tahun ajaran ini jumlah kelas IPB hanya terdapat satu jurusan. Jumlahnya hanya 20 orang yang terdiri dari 18 orang siswa pria dan 22 orang siswa perempuan. Dari jumlah ini hanya 30% dari mereka karena memilih jurusan ini dan 70% lainya mereka terpaksa masuk ke kelas jurusan IPB karena tidak masuk di jurusan IPS dan IPA. Seolah-olah mendapatkan jurusan ini yang dianggap jurusan sisa pilihan karena mereka tidak mendapatkan nilai yang mendukung jurusan lainya.

Kesan jurusan sisa pilihan ( “IPB” ) membawa dampak kepada tampilan anak-anak. Pada penilaian memperlihatkan perbedaan nilai yang signifikan dimana  siswa yang karena memilih jurusan ini cenderung memperoleh nilai yang lebih tinggi dibanding dengan siswa yang tidak atas dasar memilih. Hanya beberapa siswa yang atas dasar memilih menunjukkan kemampuan psikomotornya dalam proses belajar mengajar sedangkan sejumlah anak lainya hanya mejadi pelaku yang pasif, mereka hanya datang, duduk, diam, dan dengar, tanpa ada minat untuk ikut aktif dalam tampilan psikomotor dalam proses pembelajaran. Untuk kelompok siswa ini biasa juga cenderung memperlihatkan sikap apatis, tidak interest terhadap mata pelajaran tertentu atau hampir senua pelajaran tidak disukai. Atau kalaupun mereka berada di dalam kelas mereka hanya dudk dimeja belajar denagn konsentrasi menerawang tidak mengerti apa yang sedang dibicarakann oleh masing-masing guru yang sedang menyampaikan mata pelajaran. Pembahasan mengenai anak bermasalah dan cara mengatasinya akan dibahas lebih detail pada pembahasan berikutnya.

.    Dalam hal ini lebih difokuskan pada tampilan hasil pembelajaran dalam bentuk nilai baik nilai cognitif, psikomotor, maupun nilai affectif. Untuk pemerolehan nilai cognitif secara klasikal semua siswa harus terlibat, karena teknis penilaian cognitif ini sering dilakukan secara tertulis baik dalam bentuk latihan-latihan, test harian ( progress test selama proses pembelajaran), ulangan blok, test tengah semestes , dan test akhir semester.


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s